Muslim dan Yahudi di New York AS "saling membela"

Imam Shamsi Ali dan Rabi Marc Schneier Hak atas foto AP
Image caption Imam Shamsi Ali dan Rabi Marc Schneier mulai menjalin dialog antar umat Muslim dan Yahudi sejak 2007 lalu.

Umat Muslim dan Yahudi di New York AS sejak lama saling mencurigai dan berprasangka, tetapi selama tujuh tahun terakhir, hubungan antar umat Muslim dan Yahudi mengalami perubahan besar, menjadi lebih baik, bahkan saling membela satu sama lain.

Imam Shamsi Ali, seorang imam asal Tana Toa Sulawesi yang bermukim di New York, dan pemuka agama Yahudi yang berpengaruh Rabi Marc Schneier telah bekerja sama menggelar pertemuan para rabi dan imam di New York pada 2007 lalu, dengan tujuan agar saling memahami.

Seiring dengan berjalannya waktu, upaya rekonsiliasi pun dilakukan melalui koalisi internasional yang terdiri dari para Rabi untuk melawan Islamfobia dan juga para Imam yang menentang tindakan anti-semit.

Dalam perbincangan dengan wartawan BBC Indonesia Sri Lestari pada Rabu (12/11) di Jakarta, Imam Shamsi Ali dan Rabi Marc Schneier menjelaskan tantangan utama yang dihadapi adalah menumbuhkan rasa saling memahami antara umat Muslim dan Yahudi yang selama ini banyak diselimuti prasangka.

“Sebagian besar Muslim tidak percaya pada Yahudi, dan sebagian besar Yahudi tidak percaya pada Muslim,” kata Rabi Schneier.

Tetapi dalam beberapa tahun terakhir ini hubungan dua komunitas ini telah berubah ke arah yang lebih baik. “Ketika Muslim mendapatkan penghinaan kami akan melakukan pembelaan, begitu pula sebaliknya, ini adalah contoh yang baik yang ingin kami sebarkan di seluruh belahan dunia,” kata Rabi Schneier.

Imam Shamsi Ali mengakui tak pernah membayangkan hubungan antara komunitas Yahudi dan Muslim di New York akan berkembang menjadi lebih baik seperti sekarang.

“Sepuluh tahun yang lalu mungkin kita tidak pernah membayangkan akan ada imam-imam dan rabi-rabi saling bekerja sama. Bahkan motto kita tak hanya kerja sama, tetapi saling membela. Tapi bagaimana kita saling membela, ketika umat Islam menghadapi penentangan komunitas Yahudi berada di depan dan begitu sebaliknya,” jelas Shamsi Ali.

“Anak-anak Ibrahim”

Imam Shamsi Ali dan Rabi Marc Schneier berada di Jakarta pada pekan lalu, untuk meluncurkan buku mereka yang berjudul “Sons of Abraham” yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dengan judul "Anak-Anak Ibrahim".

“Pesan dalam buku ini adalah mengingatkan bahwa Islam dan Yahudi di seluruh dunia, memiliki banyak persamaan dalam keyakinan. Takdir yang unik ini, sebagai anak-anak dari Ibrahim yang seharusnya memperkuat ikatan dan welas asih kami dan saling menyayangi,” jelas Rabi Schneier.

Image caption Imam Shamsi Ali dan Rabi Marc Schneier ketika berkunjung ke kantor BBC Indonesia di Jakarta, Rabu (12/11)

Tetapi, Imam Shamsi Ali dan Rabi Marc Schneier mengatakan masih banyak tantangan terutama menyangkut prasangka diantara kedua pemeluk agama ini.

Selain meluncurkan buku, keduanya juga berupaya untuk mendorong tumbuhnya rasa saling memahami diantara umat Islam dan Yahudi, termasuk di Indonesia. Di Jakarta dan Yogyakarta, Imam Shamsi Ali dan Rabi Marc Schneier menemui sejumlah tokoh agama.

“Tantangan besar dalam hubungan antar agama di seluruh dunia adalah untuk menemukan jalan untuk mempersempit kesejangan dan perpecahan antara Muslim dan Yahudi. Tidak ada dua keyakinan lain yang memiliki banyak persamaan dan kemiripan dibandingkan Yahudi dan Muslim,” jelas Rabi Marc Schneier.

“Jihad yang terbesar yang dapat dilakukan oleh umat Islam pada dunia global saat ini adalah memperbaiki diri, salah satu hal yang diperbaiki adalah melihat orang lain, sebab tak mungkin kita bisa dipahami orang lain secara baik kalau kita tidak memahami orang lain dengan baik,” jelas Imam Shamsi Ali.

“Kalau kita ingin dihormati, maka kita harus menghormati orang lain. Bahasa Al Qur’an jelas karena agar kita saling mengenal, bukan agar kamu mengenal dan dikenal tapi agar saling mengenal,” tambah pria kelahiran 1968 ini.

Konflik Israel-Palestina

Saling memahami antara kedua agama ini dapat juga dilakukan sebagai upaya untuk mencari jalan penyelesaian konflik di Palestina dan Israel.

"Dalam memahami konflik Israel dan Palestina ini harus diketahui bagaimana arti Israel bagi orang Yahudi, ketika beribadah kami menghadap Yerusalem dan Islam menghadap Mekkah, tapi Yerusalem juga memiliki arti penting bagi umat Islam, jadi harus memahami perspektif masing-masing agama," kata Rabi Schneier.

Image caption Kompleks Masjid Al Asqa di Yerusalem menjadi tempat suci tiga agama

Sementara Imam Shamsi menuturkan konflik di Timur Tengah terus terjadi karena pihak-pihak yang terlibat masih dikuasai oleh tendensi ekstrimisme.

"Tantangan terbesarnya adalah bagaimana agar suara moderat lebih diperbesar dan diperkuat untuk mencari penyelesaian damai di Timur Tengah, ini yang kami lakukan, sehingga lebih rasional, jika yang bermain adalah sentimen ekstrimis maka sulit menemukan jalan keluar, " jelas Imam Shamsi Ali.

Imam Shamsi mengatakan Umat Yahudi memandang Yerusalem sebagai bagian dari keyakinan mereka, sama halnya dengan Umat Islam tentang Al-Aqsa yang merupakan bagian dari Iman.

"Dua-duanya itu Iman, pertanyaannya adalah Iman itu akan membawa kemana? Apakah Iman ini akan membawa kepada konflik peperangan, permusuhan, saling membunuh, atau justru Iman itu akna membawa kepada persaudaraan, tetangga yang baik, kerja sama, perdamaian, harmoni" jelas Imam Shamsi.

Imam Shamsi Ali mengatakan jika dijalankan dengan baik kedua agama sebenarnya mengajarkan kebaikan dan perdamaian serta persaudaraan, dan hal itu yang dapat menyelesaikan konflik.

Berita terkait