Negara-negara Barat rentan epidemi Ebola

Image caption Sebagian besar pemerintah dinilai tidak siap menghadapi wabah penularan penyakit berbahaya.

Negara-negara Barat rentan terhadap epidemi seperti Ebola sehingga harus berinvestasi lebih banyak di bidang penelitian vaksin, kata ilmuwan.

Profesor Peter Piot mengatakan kepada BBC bahwa negara maju akan berada dalam masalah besar jika mereka gagal mempersiapkan diri secara memadai untuk wabah berikutnya.

Berbicara pada World Economic Forum di Davos, ia mendesak para pemimpin dunia untuk melihat situasi jangka panjang. Menurutnya, banyak pemerintah tidak siap ketika menghadapi wabah Ebola yang menyerang Guinea, Sierra Leone dan Liberia tahun lalu.

Prof Piot merupakan salah satu ilmuwan pertama yang mengidentifikasi virus Ebola pada tahun 1976, dan sekarang memimpin London School of Hygiene & Tropical Medicine.

“Saya berani bertaruh bahwa kita akan menghadapi wabah lainnya.”

“Kita semakin rentan terhadap epidemi penyakit, karena jumlah populasi yang terus meningkat, mobilitas yang tinggi serta hubungan erat antara manusia dan hewan. Saya khawatir bila wabah Ebola sudah teratasi, lalu kita akan langsung melupakannya. Kita seharusnya bersiap-siap dan berinvestasi dalam vaksinasi dan pengobatan.”

Hak atas foto Reuters
Image caption Profesor Peter Piot merupakan salah satu ilmuwan pertama yang mengidentifikasi virus Ebola pada 1976.

Politik

Pria asal Belgia itu menyoroti kebijakan kesehatan umum yang kerap mandek lantaran masalah politik.

"Selalu ada ketegangan antara kedaulatan negara dan kebutuhan untuk memerangi epidemi karena mereka menjadi risiko untuk seluruh dunia. Dalam bidang ekonomi, hal itu disebut global public good.”

Prof Piot mengatakan, “Setelah wabah Ebola pertama pada tahun 1976 kami semua berpikir ini adalah virus yang sebenarnya relatif mudah untuk diatasi. Saya tidak pernah berpikir virus ini bisa menyebar ke seluruh kota dan seluruh negara.”

Namun Prof Piot juga memberikan kabar baik. Dia senang melihat uji coba vaksin Ebola yang saat ini sedang berlangsung.

"Untuk epidemi Ebola berikutnya, kami akan sudah memiliki vaksin.”

Di kawasan Afrika Barat, Mali dinyatakan bebas dari penularan virus Ebola setelah selama 42 hari tidak ada kasus baru yang muncul.

Hal ini sejalan dengan jumlah pasien Ebola di Mali yang menunjukkan penurunan drastis sejak Oktober lalu. Kondisi yang sama juga terjadi di Sierra Leone, Guinea, dan Liberia.

Angka kematian akibat Ebola sampai sekarang mencapai 8.429 orang dari 21.296 kasus Ebola.

Berita terkait