Insiden Germanwings dan SilkAir punya kemiripan

Hak atas foto Reuters
Image caption Germanwings menukik tajam dalam kurun lima menit hingga menabrak tebing Pegunungan Alpen.

Peristiwa jatuhnya pesawat maskapai Germanwings bernomor penerbangan 4U 9525 memiliki kemiripan dengan insiden yang menimpa pesawat SilkAir MI185 di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, pada 19 Desember 1997, kata dua pengamat penerbangan.

Kedua insiden tersebut disandingkan lantaran kopilot Germanwings, Andreas Lubitz, diyakini sengaja menurunkan pesawat sampai jatuh sebagaimana diduga dilakukan pilot SilkAir, Tsu Way Ming, pada 1997.

Mengutip informasi dari kotak hitam perekam suara di kokpit, Jaksa Marseille, Brice Robin, mengatakan Lubitz sendirian di dalam ruang kendali itu. Kemudian dia secara sengaja mulai menurunkan pesawat ketika kapten pilot terkunci di luar kokpit.

Berdasarkan situs Flightradar24, pesawat itu menukik dari ketinggian 12.000 meter ke 1.882 meter hanya dalam lima menit.

Namun, Direktur Eksekutif Lufthansa, Carsten Spohr, menegaskan bahwa Andreas Lubitz 100% layak terbang tanpa cela.

Hak atas foto Getty
Image caption Kopilot Andreas Lubitz diyakini sengaja menurunkan ketinggian pesawat saaat pilot terkunci di luar kokpit.

Sungai Musi

Kejanggalan kotak hitam perekam suara di kokpit dan penurunan pesawat secara drastis juga terjadi pada penerbangan SilkAir MI185 dari Jakarta ke Singapura.

Kala itu, Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat dan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi Indonesia menemukan bahwa pesawat merosot 4.600 meter dari ketinggian 10.600 meter dalam kurun 32 detik. Informasi itu berasal dari radar di Jakarta karena saat kejadian berlangsung, kotak hitam perekam suara kokpit dan kotak hitam perekam data dalam keadaan tidak berfungsi.

Dudi Sudibyo, mantan pemimpin redaksi majalah Angkasa, meliput peristiwa nahas 18 tahun lalu itu.

“Saya melihat bangkai pesawat di dalam Sungai Musi. Turbinnya sampai melintir. Belakangan baru diketahui pesawat turun sangat cepat, dengan kecepatan supersonik,” kata Dudi kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.

Keanehan itu, menurut Dudi, terungkap saat tim KNKT Indonesia yang dipimpin Profesor Oetarjo Diran menemukan bahwa pilot Tsu Way Ming sedang kesulitan keuangan.

“Tim lalu menyimpulkan pilot sengaja bunuh diri,” ujarnya.

Hak atas foto AFP
Image caption Pesawat SilkAir MI185 dijadwalkan bertolak dari Jakarta ke Singapura, pada 19 Desember 1997.

Tidak diterima

Meski demikian, asumsi bahwa pilot Tsu Way Ming bunuh diri tidak diterima semua kalangan.

Gerry Soejatman, selaku konsultan penerbangan, mengatakan beberapa kejanggalan SilkAir bisa dijelaskan. “Kotak hitam perekam suara di kokpit memang mati. Namun, sebelum kejadian pun, kotak hitam pesawat tersebut punya sejarah beberapa kali mati.”

Soal kesulitan keuangan pilot, menurut Gerry, itu bisa saja kebetulan.

Investigasi kepolisian Singapura menunjukkan Tsu dan keluarganya memeroleh uang sebesar S$2,5 juta hasil penjualan dua properti antara 1993 hingga 1997. Namun, dalam periode yang sama, dia mengalami kerugian perdagangan saham sebesar S$2,5 juta. Lalu, hanya 15 hari sebelum insiden, dia diskors dari perdagangan saham dengan beban utang sebesar S$118.000.

Kemudian sebelum insiden di Sungai Musi itu, Tsu telah mengatur polis asuransi untuk melindungi istri dan tiga anak mereka dari kewajiban pembayaran hipotek rumah jika ia mengalami kematian atau cacat permanen. Pada 12 Desember dia diberitahu bahwa aplikasi asuransi diterima.

Sang pilot mengirim cek pembayaran premi pertama pada 16 Desember dan asuransi mulai berlaku pada 19 Desember--tepat pada hari pesawat jatuh.

Berita terkait