Kain tenun Lombok, tradisi untuk topang ekonomi keluarga

  • Sri Lestari
  • Jurnalis BBC
Tenun Lombok

Ernawati, penduduk Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, sibuk menyelesaikan sepotong kain tenun motif ikat, pada Kamis (27/03).

Selama sekitar satu jam dia hanya dapat menyelesaikan tenunan sepanjang kurang dari dua centimeter.

Erna mengatakan pembuatan kain dengan panjang dua meter dan lebar 75 centimeter itu membutuhkan waktu sekitar satu bulan.

“Satu bulan baru selesai, ini dikerjakan setiap hari selama delapan jam,” jelas Ernawati kepada wartawan BBC, Sri Lestari.

Menurutnya, menenun kain merupakan aktivitas sehari-hari perempuan suku Sasak Lombok selain bertani. Aktivitas itu juga menjadi syarat yang wajib dipenuhi untuk dapat menikah.

“Kalau perempuan di sini belum bisa menenun, mereka belum siap menikah karena harus bikin tiga sarung. Satu untuk diri sendiri, untuk suami dan mertua perempuan. Belajarnya sejak umur 10 tahun, mulai dari kain polos dulu,” kata dia.

Ekonomi keluarga

Selain karena tradisi, menurut Ernawati, menenun kain dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga kecilnya.

Keterangan gambar,

Perempuan suku Sasak wajib miliki keterampilan menenun

Kain-kain tenun buatan Erna akan dijual melalui koperasi yang beranggotakan 200 orang.

“Nanti kita kasih ke koperasi dan dijual disana. Tetapi yang menenun kan banyak, jadi hasilnya juga dibagi. Ya paling dapat Rp500 ribu sebulan, jadi biar sama-sama senyum gitu,” jelas Erna.

Pengurus koperasi Junaedi mengakui penjualan kain tenun belum dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari para pengrajin.

“Keuntungan relatif dan musiman tergantung pengunjung saja, hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. Kami berharap ada pelanggan yang datang ke sini," jelas Junaedi.

Harga kain tenun ditakar sesuai dengan motifnya. Semakin rumit polanya, harganya pun semakin mahal. Selembar kain bermotif rumit, harganya bisa di atas Rp1 juta.

Produksi minim

Produksi kain tenun berpusat di Desa Sukarara, Desa Pringsela dan Desa Sade di Lombok Tengah.

Mahmud, warga Desa Sade, mengatakan hanya menjual hasil tenun ketika ada pengunjung datang ke desa yang masih kental mempertahankan budaya dan rumah khas suku Sasak.

"Kami hanya menjual ketika ada pengunjung yang datang berwisata ke Desa Sade. Belum ada sih produksi yang cukup banyak, " jelas Mahmud.

Junaedi dari desa Sukarara mengatakan para pengrajin membutuhkan bantuan untuk memasarkan kain tenun agar dapat meningkatkan penghasilan mereka.