Kebugaran: peluang bisnis dari tubuh berpeluh

Sepeda
Image caption Kelas sepeda atau RPM adalah salah satu jenis kelas yang ditawarkan di pusat-pusat kebugaran

Irama disko menghentak keras di ruangan sepeda statis pagi itu. Aba-aba instruktur memacu semangat para peserta untuk mengayuh agar lebih kencang.

Itulah suasana pagi di sebuah pusat kebugaran di Jakarta Pusat.

Lusi, seorang karyawati bank, adalah pengunjung tetap. Ia selalu menyempatkan diri untuk berolahraga pagi itu di sebuah pusat kebugaran di kawasan Jakarta Pusat sebelum memulai aktivitas kerja.

“Awalnya saya ingin menurunkan berat badan, namun seiring waktu berat badan sudah turun dan pola hidup berubah, lama-lama olahraga ini jadi rutinitas,” kata Lusi.

Alasan berolahraga di pusat kebugaran diungkapkan oleh Rozy, ia ingin menjaga stamina di tengah padatnya pekerjaan.

Orang-orang seperti Lusi dan Rozi ini membuat banyak pusat kebugaran menjamur belakangan. Pelaku bisnis ini melihat peluang dari gaya hidup masyarakat perkotaan yang sadar akan kesehatan dan penampilan fisik. Tak sedikit yang rela merogoh biaya yang tidak sedikit untuk bergabung dengan tempat kebugaran.

Bagian dari gaya hidup

Francis Wanandi, mendirikan pusat kebugaran Gold Gym sejak tahun 2007. Memiliki 21 cabang di lima kota besar, Gold Gym mempunyai anggota aktif 80 ribu orang. Perusahaan kebugaran yang berpusat di Jakarta ini, merupakan salah satu dari sekitar 600 perusahaan serupa di Indonesia.

Hak atas foto Francis Wanandi
Image caption Direktur Gold Gym Indonesia, Francis Wanandi, optimis peluang industri kebugaran akan terus berkembang

“Pola hidup consumer Indonesia sudah sedikit berubah. Kesadaran akan pola hidup sehat meningkat terutama di kalangan menengah ke atas. Kebugaran juga menjadi salah satu gaya hidup anak-anak muda dan para eksekutif, sehingga kami melihat ada peluang pasar, bahwaindustri fitness cukup diminati di masa depan. Selain itu penetrasi kebugaran di Indonesia masih sekitar 1%, jauh ketinggalan dengan negara-negara tetangga lainnya yang sudah mencapai 9% dari total populasi,” kata Francis menjelaskan.

Francis mengungkapkan, omzet yang ia peroleh dari klub-klub kebugaran yang dimilikinya mencapai 600 juta sampai 3 milliar per bulan.

Kegemaran berolahraga

Besarnya peluang ini juga membuat Herna Maya, membuka usaha jenis kebugaran yang belakangan populer, Pilates. Setelah menghabiskan waktu sebagai pelatih di pusat kebugaran di Jakarta, ia kembali ke kota Tegal, Jawa Tengah. Herna yang gemar berolahraga sejak duduk di bangku sekolah, telah mengantungi berbagai sertifikat pelatihan olahraga, salah satunya Pilates ini. Ia baru sajamerintis usaha kebugaran yang diberi nama Body Lite.

Hak atas foto Herna May Doc.
Image caption Berbekal pengetahuan dan keahlian olahraga pilates, Herna Maya merintis usaha kebugaran tahun 2015 ini

“Yang menghubungkan tulang dengan tulang itu dipelajari dalam pilates. Olahraga jenis ini awalnya merupakan penyembuhan untuk orang sakit. Kalau olahraga untuk orang sakit saja bagus, apalagi untuk orang sehat. Safety nya sangat dijaga tapi challenging,”tutur Herna yang baru saja merintis usahanya tahun 2015 ini.

Untuk menunjang usaha kebugaran ini, Herna menyediakan modal sebesar 70-100 juta rupiah untuk membeli sejumlah alat kebugaran pilates, namun harga tersebut bisa melambung bila ia meginginkan perangkat kebugaran berstandar internasional.

Ia menargetkan 50 orang pelanggan di awal tahun dengan iuran 1 juta per bulan.

Yoga

Sementara Christ Manurung, guru privat yoga, menjelaskan alasan konsumen tertarik mengikuti programnya. Ia menjelaskan bahwa, ada beberapa orang yang tidak suka berlatih di tempat kebugaran. Kemudian ada juga orang-orang tertentu yang mengalami cedera, membutuhkan latihan yoga untuk penyembuhan.

“Namun ada juga yang ingin rileks, melakukan peregangan, fokus pada fleksibilitas, karena tidak selamanya olahraga itu identik dengan latihan yang keras atau hardcore” pungkasnya.

Berita terkait