#TrenSosial: Pakai kata 'pribumi', demo mahasiswa dikritik

Hak atas foto KAMMI TWITTER

Tuntutan para mahasiswa di depan Istana Merdeka untuk "melindungi pribumi dari pihak asing dan aseng" menuai banyak kritik di media sosial dan dinilai "berbahaya".

Pada Kamis (21/05) ribuan mahasiswa mengadakan demonstrasi di depan istana, membawa spanduk bertuliskan #LindungiPribumiAtauRevolusi dan #LindungiPribumi.

Beberapa di antara mereka beraksi menggunakan topeng ala Guy Fawkes, topeng ikonik yang melambangkan tokoh yang berupaya meledakkan House of Lords di London pada 1605.

"Kami meminta Presiden Joko Widodo melindungi pribumi dan hak-hak pribumi," kata Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Andriyana, kepada BBC Indonesia.

KAMMI menganggap Jokowi menjadikan "asing dan aseng" subjek dari pembangunan.

"Seperti misalnya infrastruktur menjadi proyek bancakan Xi Jinping. Energi dan tambang dikuasai pihak asing, lalu di mana peran pribumi dalam menggerakan perekonomian bangsa? Ada enggak pribumi diberi ruang?"

Siapa pribumi?

Namun aksi mahasiswa ini dipertanyakan oleh pengguna media sosial, terutama tentang penggunaan kata "pribumi" dianggap keliru dan tidak memiliki konteks.

Penulis @zenrs menulis, "Opo sih pribumi? Bhikkhu Ashin Wiratu pakai retorika begini juga uutuk berkampanye menghabisi muslim Rohingya."

"#lindungipribumi nah yang bukan Melanesia di Papua harus diusir. Kira-kira gitu?" kata @arman_dhani.

Hak atas foto TWITTER

Lainnya, Sam Ardi melalui @Sam_Ardi mempertanyakan,"Njeplak mbela pribumi tapi atributnya pakai atribut dari Inggris?"

Ketua KAMMI Andriyana mengatakan bahwa pihaknya sadar bahwa penggunaan kata itu bisa mengusik banyak orang, namun yang sebenarnya ingin dihentikan adalah liberalisasi yang menurut mereka "kebablasan".

Andriyana mengatakan definisi pribumi yang mereka maksud adalah orang Indonesia.

"Dulu di zaman penjajahan itu kan jelas siapa yang disebut pribumi, siapa yang tidak. Dulu itu kamar dagang Belanda menjajah Indonesia, sekarang juga sama perusahan multinasional yang menjajah Indonesia. Sebutan pribumi pas dan cocok di sana."

Berbau rasial

Namun Sejarawan Bonnie Triyana, mengatakan penggunaan kata "pribumi, asing, dan aseng" oleh para mahasiswa berbahaya dan sangat ahistoris jika tak dijelaskan dengan konteks.

Bonnie mengatakan kata pribumi mengingatkan kembali tentang strategi kaum kolonial yang sengaja memecah masyarakat menjadi tiga kelompok rasial untuk mempermudah menjalankan kolonialisme.

Kelas pertama adala bangsa kulit putih dari Eropa, kelas dua adalah bangsa timur asing seperti Tionghoa, Arab, dan India, serta kelas tiga yaitu pribumi atau inlander.

"Jadi ada problem ketika menggunakan kata yang sama, karena membangkitkan lagi hal-hal yang berbau rasialis. Kenapa menjadi persoalan kita? Karena seiring sejarah, sering ada kerusuhan sosial yang menjadikan orang Tionghoa sebagai sasaran. Kata-kata pribumi, asing, aseng, yang bersifat rasial itu kalau tidak dijelaskan konteksnya itu sangat berbahaya, sangat ahistoris."

"Teman-teman muda ini mungkin maksudnya berbeda, tetapi lupa konteks sejarah."

Berita terkait