Lucky Kuswandi berkarya di tengah politik penyensoran

Image caption Sutradara kelahiran 1980, Lucky Kuswandi melalui film terbarunya terinspirasi dari pengalamannya dalam bersentuhan dengan politik asimilasi rezim Orde Baru.

Melalui film pendek The Fox Exploits The Tiger's Might, yang memukau kritikus film di Festival Cannes 2015, sutradara Lucky Kuswandi mengangkat persoalan politik asimilasi rezim Orde Baru terhadap warga Indonesia keturunan Tionghoa.

Melalui simbol dan karakter utama dalam film ini, yaitu Aseng (anak muda keturunan Tionghoa) dan David (anak petinggi militer), Lucky mengeksplorasi relasi kekuasaan antara yang menindas dan ditindas.

Namun, menurutnya, relasi kekuasaan itu kadang-kadang saling berkelindan dan saling menguntungkan--atau lebih tepatnya saling mengambil keuntungan, yang dia sebut khas rezim Orde Baru.

Lucky, kelahiran 1980, mengatakan film ketiganya ini dilatari pengalaman dan pengamatan dirinya sebagai warga Indonesia keturunan Tionghoa ketika politik asimilasi masih dipraktikkan.

Hak atas foto babi buta film
Image caption Dalam pekan kritikus Festival Cannes 2015, film pendek The Fox Exploits The Tiger's Might karya Lucky Kuswandi menarik perhatian kritikus film serta mendapat sambutan luar biasa dari para penonton.

"Latar belakang saya yang etnis Cina dan terutama saya hidup di zaman Suharto, tentu saja efeknya besar terhadap saya," kata Lucky dalam percakapan dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Rabu (27/05) siang.

Di benak sutradara terbaik dalam Indonesian Film Directory's Club Awards 2014 melalui film "Selamat Pagi Malam", warga Tionghoa dijauhkan dari segala sesuatu yang berbau politik dan dipaksa mengabaikan kebudayaan leluhurnya.

Politik propaganda

Dari pengalamannya, anak sulung dari dua bersaudara ini memiliki pandangan bahwa rezim saat itu "memaksa" etnis Tionghoa untuk apa yang dianggap "menjadi Indonesia," alias berasimilasi, termasuk dengan mengganti nama.

Image caption Dari pengalamannya, anak sulung dari dua bersaudara ini memiliki pandangan bahwa rezim saat itu "memaksa" etnis Tionghoa untuk "menjadi" Indonesia, alias berasimilasi, dengan mengganti nama segala.

"Yang menarik propaganda Suharto itu sangat berhasil," kata Lucky, setengah menganalisa.

"Karena," lanjutnya dengan mimik serius, "waktu saya kecil sampai sebelum saya sekolah ke Amerika Serikat, saya sebetulnya sungguh-sungguh terrepresi, tapi saya tidak merasakannya. Saya merasa itu nasib kita dan memang kita seharusnya diperlakukan seperti itu."

Dia lantas mengenang apa yang dia rasakan kala itu: "Saya juga tidak peduli nama Cina saya apa, dan saya tidak mau terkait dengan ke-Cina-an saya, karena hal itu sesuatu yang bikin malu, istilahnya."

Hak atas foto babi buta film
Image caption Film pendek The Fox Exploits The Tiger's Might (poster kedua dari kanan) merupakan karya sutradara Indonesia kedua yang berkompetisi di pekan kritik Festival Cannes, sesudah Tjoet Nja Dhien karya Eros Djarot di tahun 1989.

Menurut Lucky, bahkan kata "Cina" itu diarahkan secara sistematis oleh pemerintah (Indonesia) ke dalam pengertian negatif. "Karena ketika mendengar 'Cina,' asosiasinya ke komunis."

Bertahun-tahun menerima cara pandang seperti itu, Lucky pada akhirnya sampai pada kesadaran yang berbeda ketika dirinya mengambil studi program film di Art Center College di Pasadena, Amerika Serikat.

Hak atas foto babi buta film
Image caption Lucky Kuswandi (kedua dari kiri) bersama awak film pendek The Fox Exploits The Tiger's Might di sela-sela Festival Cannes 2015.

"Kemudian saya sadar bahwa ternyata ini semua politik propaganda, dan ternyata ini ini tidak benar. Jadi di situlah saya terusik, dan saya merasa 'OK mungkin perlu kita voice out, menyuarakannya."

Isu seksualitas

Dalam La Semaine de la Critique atau Pekan Kritikus Festival Cannes 2015, film pendek The Fox Exploits The Tiger's Might karya Lucky Kuswandi menarik perhatian kritikus film serta mendapat sambutan luar biasa dari para penonton.

Film ini adalah karya sutradara Indonesia kedua yang berkompetisi di pekan kritik Festival Cannes, sesudah Tjoet Nja Dhien karya Eros Djarot di tahun 1989.

Hak atas foto babi buta film
Image caption Sutradara Swedia, Isabella Carbonelli, mengatakan: "Film ini membuat badan saya merasa hangat, seperti ada panas yang menjalar di tubuh saya. Ini film favorit saya."

Fabien Gaffez, Komite pekan kritikus festival ini menyebut film Lucky "bermain-main antara permainan yang menikmatkan dengan kenikmatan yang jalang."

Sutradara Swedia, Isabella Carbonelli, terang-terangan memuji film Lucky dengan mengatakan: "Seperti ada kerikil di sepatu kita. Film Lucky berhasil menganggu saya."

"Film ini membuat badan saya merasa hangat, seperti ada panas yang menjalar di tubuh saya. Ini film favorit saya," katanya.

Image caption "Kenapa saya membicarakan mengenai isu seksualitas ini, karena memang isu seksualitas itu jarang dibicarakan dalam perfilman kita. Mungkin karena dianggap tabu," kata Lucky yang mengaku terinspirasi film The Night Porter karya Liliana Cavani dan film-film karya Nia Dinata.

Adapun seorang pekerja film asal Amerika Serikat, Shubra Prakash, mengatakan: "Film ini secara gamblang memperlihatkan persoalan seksualitas dengan segala kompleksitasnya dan kekuasaan."

Didukung orang-orang kreatif

Film The Fox memang karya 25 menit yang menumpuk kekuatannya pada saling sengkarut tema antara seksualitas dan kekuasaan, eksploitasi militer yang superior terhadap minoritas Cina yang inferior secara politik, berkelindan dengan eksplorasi seksual para tokohnya.

Image caption Lucky Kuswandi mengaku terinspirasi film The Night Porter karya Liliana Cavani dan film-film karya Nia Dinata.
Image caption "Saya beruntung memiliki orang-orang kreatif, mereka-mereka yang memiliki spirit yang sama. Jadi kita create secara bebas, ketika kita diberikan safety net dan itu sangat saya dapatkan."

"Saya membicarakan isu seksualitas ini, karena memang isu seksualitas itu jarang dibicarakan dalam perfilman kita. Mungkin karena dianggap tabu," kata Lucky yang mengaku terinspirasi film The Night Porter karya Liliana Cavani dan film-film karya Nia Dinata.

"Tapi menurut saya, kami membicarakan isu ini secara terbuka dan secara dewasa. Jadi saya rasa penonton pun akan cukup dewasa untuk menerima apa yang kita bicarakan," tambahnya.

Ditanya bagaimana dia mampu meyakinkan diri sendiri untuk "berani" mengangkat isu seksualitas dalam filmnya, Lucky berkata:

"Saya beruntung memiliki orang-orang kreatif, mereka-mereka yang memiliki spirit yang sama. Jadi kita berkarya secara bebas."

Pemilu Presiden dan kerusuhan 1998

Pemilu Presiden 2014 lalu, yang diwarnai persaingan ketat kedua kandidat dan pendukungnya, ikut melatari pembuatan film The Fox karya Lucky.

Salah satu kandidat calon presiden saat itu adalah Prabowo Subianto, mantan pimpinan pasukan elite TNI Angkatan Darat, Kopassus, yang masih terkait dengan rezim Orde Baru.

Hak atas foto babi buta film
Image caption Pemilu Presiden 2014 lalu, yang diwarnai persaingan ketat kedua kandidat dan pendukungnya, ikut melatari pembuatan film The Fox karya Lucky.

Dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Lucky juga mengatakan: "Pada tahun 1998, etnis Cina menjadi salah satu korban kekerasan dari kediktatoran masa lalu."

"Namun pada saat pilpres kemarin, kelompok kaya dari etnis Cina juga banyak yang memberikan dukungan kepada capres bermasalah tersebut."

"Hal ini yang membuat saya tertarik untuk mengungkap, melalui film ini, betapa cairnya relasi kuasa antara yang menindas dan yang ditindas," ungkap sutradara film Madame X (2010) dan Selamat Pagi Malam (2014) ini.

"Saya rasa, kami sebagai film maker, pasti kami mengambil apa yang terjadi di lingkungan kami sendiri."

Mempertanyakan sensor film

Dalam pekan kritik di Festival Cannes 2015 lalu, sejumlah penonton bertanya tentang situasi perfilman Indonesia. Dia juga ditanya tentang sejauh mana peluang film karyanya ini dapat diputar bagi publik lebih luas.

Dalam jawabannya, Lucky menyebut bahwa keberadaan Lembaga Sensor Film (LSF) sudah tidak relevan lagi untuk situasi saat ini, karena "saya tidak percaya kita harus melindungi masyarakat dengan cara menutup-nutupi. Sebaliknya, biarlah masyarakat tumbuh dewasa sendiri."

Image caption Kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Lucky Kuswandi menjelaskan alasannya menolak keberadaan Lembaga sensor film.

Lagi pula, lanjutnya, penyensoran seperti itu tidak bermanfaat bagi pekerja film. "LSF tidak pernah jelas soal kriteria, misalnya apa yang boleh dan tidak boleh."

Dia kemudian memberikan contoh ketika dia mendapat faksimili dari LSF mengenai filmnya sebelumnya, tentang "apa yang harus dibuang" namun tanpa melalui diskusi terlebih dahulu.

"Misalnya ada adegan seks, itu langsung diartikan sebagai pornografi. Padahal harus ada diskusi, kenapa adegan itu penting (di situ), membicarakan tentang apa..."

Karena, "kita membuat adegan seks tidak semata-mata untuk (terjadinya) adegan seks," katanya lagi.

Menurutnya, para pekerja film sejak awal telah menawarkan opsi jalan keluar pengganti pola sensor lama, yaitu melalui sistem klasifikasi, yang mengelompokkan film dengan rentang umur penonton.

"Karena umur itu menentukan kedewasaan untuk penonton," ujar Lucky.

Hak atas foto babi buta film
Image caption Lukcy Kuswandi (kanan) dan salah-seorang pemeran utama film 'The Fox" di sela-sela Festival film Cannes.

"Jadi, saya rasa, itu sistem yang sangat efektif, karena itu juga semacam bentuk penyensoran tetapi tidak ada efek bagi karyanya sendiri, tidak dipotong misalnya, tapi kita menyaring siapa yang boleh menonton dan siapa yang tidak," jelasnya.

Kreatif saat dibatasi

Di sisi lain, pembatasan oleh LSF dan tekanan oleh berbagai kelompok yang mengatas-namakan agama, mendorong Lucky untuk mencari cara agar tetap bisa mencipta secara kreatif.

Image caption Menurut Lucky, para pekerja film sejak awal telah menawarkan opsi jalan keluar pengganti pola sensor lama, yaitu melalui sistem klasifikasi di mana film tersebut dikelompokkan sesuai umur.

Politik penyensoran serta kecenderungan Indonesia yang makin konservatif, menurutnya, "pasti ada efeknya terhadap saya dalam membuat film. Ini pasti."

Para seniman yang berkecimpung di dunia film, menurutnya, harus tetap bisa tumbuh ketika dihadapkan dengan berbagai pembatasan. Jadi dalam pembatasan para seniman film harus pandai-pandai berpikir untuk mengakali keadaan secara lebih kreatif.

Jadi di satu sisi perjuangan untuk menghapuskan pembatasan-pembatasan itu harus terus diupayakan, namun di sisi lain penciptaan karya juga tidak boleh berhenti dan harus terus dilakukan.

Berita terkait