Upaya pesawat bertenaga surya keliling dunia terancam

Solar Impulse Hak atas foto Getty
Image caption Pesawat Solar Impulse memulai penerbangan dari Dubai Maret lalu.

Cuaca buruk dapat menghalang upaya pemecahan rekor untuk menyeberangi Laut Pasifik menggunakan pesawat bertenaga surya.

Pesawat Solar Impulse sudah masuk pada hari pertama dalam perjalanan yang diprediksi akan memakan waktu 130 jam dari Cina ke Hawaii.

Namun, ahli meteorologi mengatakan ramalan cuaca tidak mendukung.

Mereka telah meminta pilot pesawat untuk terbang dengan kecepatan menunggu di angkasa sambil menunggu aba-aba apakah dapat melanjutkan perjalanannya atau terbang balik ke darat.

Ini adalah bagian ketujuh dalam upaya untuk mengelilingi Bumi dengan hanya menggunakan tenaga surya.

Pesawat yang dilapisi 17.000 panel surya ini berangkat dari Abu Dhabi. Namun penyeberangan Pasifik ini adalah bagian perjalanan yang paling menantang.

Hak atas foto
Image caption Pilot Andre Borschberg dan Betrand Piccard ketika hendak lepas landas dari Abu Dhabi Maret 2015.

Tim di belakang pesawat ini sebelumnya sudah harus menunggu sebulan di Nanjing, Cina, karena cuaca kurang baik untuk lepas landas.

Solar Impulse tidak hanya membutuhkan dorongan angin namun awan yang minimal agar pesawat itu bisa menyerap energi dari matahari sehingga bisa terbang pada malam hari.

Para ahli meteorologi tim tersebut yakin mereka telah menemukan rentang waktu yang sesuai ketika pesawat itu memulai perjalanan pada jam 18:39 GMT pada hari Sabtu (30/05).

Pilot Andre Borschberg dari Swiss juga telah membuat kemajuan yang baik namun masalah cuaca bisa menjadi hambatan.

Bertrand Piccard dari Solar Impulse yang mengamati penerbangan ini dari Monako mengatakan, “Kemarin kami memiliki kesempatan mengatasi masalah cuaca sebelum tiba di Hawaii di hari kelima.

“Namun dengan prediksi yang kami lihat sekarang, kami tidak melihat kesempatan itu, yang berarti untuk sekarang perjalanan ke Hawaii masih terhambat.”

Pesawat ini sekarang terbang dengan kecepatan rendah melintasi Laut Jepang.

Secara ideal, mereka harus melintasi AS, kemudian Lautan Atlantik sebelum musim badai mulai mencapi puncak pada bulan Agustus.

Berita terkait