Memperjuangkan aliran buku ke pelosok negeri

Image caption Taman Bacaan Anak Lebah memiliki 20-an cabang di Indonesia, sebagian besar berada di kawasan Indonesia Timur.

“Kwek..kwek.kwek..Itu adalah bunyi suaraku. Tahukah kamu siapa aku? Ya benar, aku adalah bebek.”

Kalimat itu diucapkan salah seorang bocah saat membaca sebuah buku cerita bergambar. Buku tersebut adalah salah satu dari sekian puluh buku yang telah dia simak di Taman Bacaan Anak Lebah di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan.

Saat pagi, taman bacaan tersebut tampak lengang dan tiada beda dengan jajaran rumah lainnya di kawasan itu. Namun, ketika jam pulang sekolah tiba, mendadak tempat tersebut ramai dengan belasan anak yang datang khusus untuk membaca.

Taman Bacaan Anak Lebah di kawasan Bintaro hanyalah satu dari 20-an cabang di Indonesia. Namun, dari jumlah itu, sebanyak 19 cabang berada di Indonesia Timur. Elvera Nuriawati Makki selaku pendirinya punya alasan tersendiri mengapa dia memusatkan perhatian di kawasan tersebut.

“Indonesia Timur (selama ini) selalu menjadi prioritas kesekian, tidak pernah menjadi prioritas utama. Perputaran ekonomi selama ini berpusat di Pulau Jawa. Dan imbasnya ke buku: toko buku di Indonesia Timur jarang ada," kata Elvera.

"Kalaupun ada, menjual buku-buku untuk orang dewasa. Bila ada buku anak-anak, harganya mahal. Karena hal tersebut, kita melihat banyak daerah di Indonesia Timur yang tidak mendapat akses ke buku anak-anak,” tambah perempuan yang akrab disapa dengan sebutan ‘kak Vera’ itu.

Untuk mengirimkan buku ke kawasan Indonesia Timur, Vera mengaku menyodorkan kendala klasik: biaya. Dia mencontohkan harga pengiriman tiga kardus penuh berisi buku mencapai Rp2,5 juta hingga Rp2,7 juta.

“Padahal, harga seluruh buku di kardus itu hanya mencapai Rp900.000,” kata Vera kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.

Biaya pengiriman buku yang tinggi diakui Setia Dharma Madjid, selaku Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Penerbitan Indonesia (IKAPI), sebagai faktor yang mempengaruhi ketersediaan buku di daerah pelosok Indonesia.

“Jangkauan buku sampai ke tingkat ujung pedesaan itu terbatas. Makin jauh dari Pulau Jawa, maka harga buku semakin mahal karena ongkos distribusi dan sebagainya,” kata Setia.

Transportasi

Stanley Ferdinandus, pendiri Heka Leka, sebuah LSM yang bergerak di bidang pendidikan anak di provinsi Maluku, mengatakan kondisi transportasi amat menyulitkan distribusi buku ke tangan anak-anak di pulau-pulau yang jauh dari ibu kota provinsi.

Ia mengisahkan bagaimana dia dan koleganya menumpang kapal selama berhari-hari untuk membawa buku dari Ambon ke pulau-pulau di perairan Laut Arafura.

“Jangankan ke pulau di bagian selatan yang berbatasan dengan Nusa Tenggara Timur atau Australia, perjalanan ke Pulau Banda saja sulit. Padahal, dari Ambon ke Banda hanya memerlukan waktu satu jam perjalanan pesawat terbang. Tapi jadwal pesawat tidak tentu, apalagi kapal laut,” ujarnya.

Sulitnya mengirim buku ke pulau-pulau di Provinsi Maluku tidak menyurutkan tekad Stanley dan kawan-kawannya. Selama empat tahun berkiprah, Heka Leka telah mengirim buku ke 30 lokasi yang tersebar di berbagai pulau.

Image caption Buku-buku anak di kawasan Indonesia Timur sulit diperoleh sehingga harganya pun relatif mahal.

Adapun biaya perjalanan dan buku berasal dari kantung pribadi maupun sumbangan dari berbagai donatur, termasuk dari Taman Bacaan Anak Lebah pimpinan Vera Makki.

Semua jerih payah itu, menurut Stanley, terbayar ketika melihat anak-anak gembira mendapat buku.

“Pertama mungkin mereka heran karena buku adalah benda asing yang jarang mereka jumpai. Namun, mereka akan gembira ketika melihat buku cerita yang penuh gambar dan sarat informasi,” kata Stanley.

Minat baca

Pengalaman Stanley membuktikan bahwa minat baca rakyat Indonesia sejatinya tidak rendah, seperti disampaikan Setia Dharma Madjid, dari IKAPI.

Setia sendiri mengaku pernah melakukan suatu langkah percobaan: ia mengirim ribuan buku ke sebuah desa berpenduduk sekitar 1.000 orang di Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat.

Di sana, 4.000 judul buku dititipkan di rumah-rumah secara bergilir. Setelah periode waktu tertentu, buku-buku di sebuah rumah akan diganti dengan buku-buku dari rumah lain.

“Hasilnya, semua judul buku habis dibaca oleh penduduk desa tersebut. Hanya ada satu orang yang tidak membaca karena penglihatannya rabun,” kata Setia.

"Ini kan jelas bahwa minat baca tidak rendah," katanya meyakinkan.

Senada dengan itu, Elvera Nuriawati Makki dari Taman Bacaan Anak Lebah, mengatakan bahwa yang harus diperbaiki di Indonesia adalah meningkatkan jangkauan buku ke pelosok. Apabila buku-buku telah sampai, menurutnya, institusi pendidikan setempat harus terjun mengelola.

“Karena itu, kami menggandeng Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) setempat. Kami akan menyediakan bukunya, asalkan ada kegiatan membaca buku setidaknya tiga kali dalam seminggu,” tutup Vera.

Anda bisa mendengarkan liputan selengkapnya dalam program Liputan Khas, yang disiarkan melalui radio-radio mitra BBC Indonesia, Kamis, 10 September 2015 pukul 05.00 dan 06.00 WIB.

Berita terkait