#TrenSosial: Video 'melawan asap' warga Pekanbaru jadi viral di media sosial

Hak atas foto Andang Wiratmoko
Image caption "Kami tidak diam!" kata sejumlah komunitas di Pekanbaru.

Pengguna media sosial 'berteriak' mengungkapkan kekecewaan dan keprihatinan dengan tagar melawan asap, seiring memburuknya kualitas udara di beberapa daerah karena kabut asap.

Tagar #MelawanAsap menjadi topik paling populer Twitter di Indonesia, Selasa (15/09), dan telah digunakan lebih dari 52.000 kali.

Sebuah video yang berjudul "Kami Tidak Diam #MelawanAsap" - memperlihatkan kondisi Pekanbaru, Riau, yang dipenuhi kabut - menjadi salah satu yang banyak disebar di sosial media. Video ini sudah ditonton lebih dari 69.000 kali dalam sehari.

"Sudah 18 tahun ini, ada musim tiap tahun namanya musim asap. Untuk tahun ini, tahun yang paling parah asapnya," kata Andang Wiratmoko, 26 tahun, salah satu pembuat video ketika dihubungi BBC Indonesia.

"Istri saya jadi susah bernafas, sekarang dia sedang hamil, tidak bisa ke mana-mana, di kamar terus. 'Kerjaannya' sesak nafas dan muntah-muntah. Padahal di kamar sudah pakai AC juga," kisah Andang.

Hak atas foto Andang Wiratmoko

Video yang dibuat oleh delapan komunitas di Pekanbaru ini juga memperlihatkan berbagai pesan warga Pekanbaru.

"Inilah rumah kami, lihat asap di mana-mana, yang bertanggung jawab ada di mana?" tulis mereka pada papan-papan putih. "Kami tidak akan diam, kami akan melawan. Ini bisa dihentikan agar kami tidak mati perlahan. Bertahan dan melawan."

Lianda Martha, relawan Akademi Berbagi di Pekanbaru, yang ikut aksi, mengatakan bahwa ini adalah bentuk sentilan untuk pemerintah.

Hak atas foto Maman Rahman
Image caption Komikus Maman Rahman menyoroti nasib anak-anak yang harus menghirup asap di sejumlah kota di Indonesia.

"Tidak terlihat matahari, hanya samar-samar," katanya. "Ada dua hal utama yang kami desak pada pemerintah. Pertama penanganan darurat dan kedua, jangka panjang. Kami tidak melihat komitmen pemerintah untuk menyelesaikan masalah."

Pekan lalu, sejumlah komikus dan kartunis juga membuat gerakan #masihmelawanasap untuk menyoroti ketidaktegasan pemerintah melakukan penegakan hukum terhadap para pelaku.

Apa yang bisa Anda lakukan?

Bagi Anda warga yang terkena dampak kabut asap, ada sejumlah cara untuk meminimalisir dampaknya. Kami berbicara dengan sejumlah pakar kesehatan dan inilah yang dianjurkan:

  1. Kurangi aktivitas di luar ruangan, jika terpaksa harus keluar rumah gunakanlah masker yang tertutup rapat.
  2. Dianjurkan untuk menyalakan pendingin ruangan di rumah dan tutup lubang-lubang agar debu dan asap tidak masuk dalam ruangan.
  3. Jadikan gaya hidup bersih dan sehat, termasuk memastikan bahwa makanan dan minuman bersih dari partikel debu.
  4. Segera kunjungi dokter atau petugas kesehatan jika mengalami kesulitan bernafas, batuk terus menerus, nyeri dada dan gangguan lainnya.

Kualitas udara di Kota Pekanbaru dan Palembang pada Senin (14/09) masuk kategori berbahaya seiring dengan meningkatnya jumlah titik api di Pulau Sumatera.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menyebutkan terdapat 1.143 titik panas atau hotspot di Pulau Sumatera. Dari jumlah tersebut, sebaran terbanyak berada di Sumatera Selatan dengan 724 titik api dan Jambi dengan 234 titik api.

Walau berbahaya, Sutopo mengatakan tidak mungkin dilakukan evakuasi warga karena cakupan wilayah yang dipenuhi kabut asap sangat luas.

Berita terkait