Film 'Sendiri Diana Sendiri' dan dialog poligami di Toronto

Hak atas foto BABIBUTA FILM l HIVOS
Image caption Konflik yang mengalir seiring percakapan-percakapan yang senyap

Di Toronto International Film Festival 2015, untuk ketiga kalinya, film Sendiri Diana Sendiri karya Kamila Andini diputar lagi Jumat (18/09,) menyusul pemutaran perdana internasionalnya akhir pekan lalu.

Dengan judul bahasa Inggris Following Diana atau kurang lebih Mengintil Diana, film ini terpilih dalam seleksi resmi TIFF untuk program Short Cuts.

Ini program film pendek yang sebelumnya dikhususkan bagi film-film Kanada. Inilah untuk pertama kalinya, di tahun 2015 ini, program Short Cuts dibuka untuk film pendek dari seluruh dunia.

Yang ditampilkan dalam Short Cuts kali ini adalah 76 film pendek yang dibagi dalam 11 kategori, terdiri dari 36 film pendek asal Kanada dan 40 film pendek dari seluruh dunia.

Saat pemutaran internasional pertama, Sabtu (12/09), gedung Scotiabank yang berkapasitas 500 penonton penuh sesak.

Malam itu, film Following Diana diputar sebagai film penutup dari Short Cuts Program Tiga.

Program ini menampilkan film-film dengan "cerita-cerita yang unik terkait perubahan lingkungan dan situasi, dan berbagai momen yang membuat kehidupan jadi jungkir balik."

Tepuk tangan bergemuruh sesudah film 40 menit itu berakhir. Dan Kamila Andini pun didapuk maju dalam acara tanya jawab.

Hak atas foto BABIBUTA FILM
Image caption Kamila Andini bersama para sutradara lain dalam diskusi usai pemutaran di TIFF

Dipandu programmer Short Cuts Kathleen McInnis, Dini, demikian sutradara muda ini dipanggil, menjawab pertanyaan penonton yang umumnya berkisar pada bagaimana ia membicarakan isu poligami dengan sudut pandang dan narasi seperti yang tampak di film itu.

"Diana mewakili persoalan perempuan di Indonesia, pergulatan perasaan dan posisi perempuan sebagai istri sekaligus ibu," begitu antara lain Dini menjawab, seperti disampaikan produser Meiske Taurisa lewat siaran pers yang diterima BBC.

Penonton juga bertanya, bagaimana Dini menemukan, mengembangkan serta memutuskan momen-momen tokoh Diana, protagonis film itu.

Dini menjawab, bahwa adegan Diana dan suaminya dalam menghadapi konflik sesudah suami menyebutkan niatnya untuk menikah lagi, adalah adegan kunci yang seterusnya mengembangkan karakter Diana.

Yang banyak dipuji juga adalah permainan Raihaanun sebagai Diana yang mampu memancarkan perasaan-perasaan dalam Diana dengan berbagai spektrum yang rumit.

Poligami dalam presentasi

Sesudah percakapan tentang anak, tentang makan, dan kerutinan kerumah-tanggaan lainnya, Ari (Tanta Ginting) bilang kepada Diana (Raihaanun), isterinya, bahwa ada yang ingin dia tunjukkan.

Ari membawa komputer jinjingnya, menyalakannya, dan menyetelkan sesuatu: presentasi power point lengkap dengan diagram.

Presentasi skema bisnis? Bukan. Itu adalah skema keluarga mereka mendatang, soal penafkahan, soal jadwal menginap, dan lain sebagainya jika sudah ada isteri kedua Ari. "Aku akan menikah lagi," kata Ari dengan datar.

Hak atas foto BABIBUTA FILM l HIVOS
Image caption Anak sering menjadi faktor yang membuat perempuan menyerah ketika suaminya melakukan poligami

"Akan" -kata yang menunjukkan, segalanya sudah pasti.

Ari tidak sedang meminta izin. Ia sedang memberitahukan. Ia sedang melakukan fait accompli. Dan bahwa presentasi dengan piranti lunak itu memang "menunjukkan" sebuah skema yang sudah dirancang dan akan dijalankan, bukan tawaran untuk dirundingkan.

"Film ini memang berangkat dari pertanyaan-pertanyaan," kata Dini kepada Ging Ginanjar dari BBC Indonesia.

"Pertanyaan tentang diri saya pertama-tama: sebagai perempuan, sebagai isteri, sebagai ibu. Lalu muncul pertanyaan tentang kekuasaan: kekuasaan sebagai individu, kekuasaan di keluarga, yang kemudian juga melebar pada kekuasaan di keluarga lebih besar, di masyarakat, di lingkungan agama, dan seterusnya."

"Dari mana kekuasaan itu berasal? Siapa yang memliki kekuasaan, di keluarga, di masyarakat? Mengapa? Apakah di keluarga harus suami yang memiliki kekuasaan? Mengapa? Apakah perempuan hanya menerima keputusan, dan bukan bagian dari pengambilan keputusan? Mengapa," Kamila Andini memapar pertanyaan-pertanyaan yang mendasari Sendiri Diana Sendiri.

Kisah nyata

Adegan yang tak terbayangkan ganjilnya, presentasi power point itu itu bukan adegan datang dari langit begitu saja. Melainkan dari kisah nyata.

"Memang begitu kejadiannya," ungkap Dini.

Hak atas foto BABIBUTA FILM l HIVOS
Image caption Diana berangkat dari pertanyaan-pertanyaan tentang perempuan, tentang ibu, tentang kekuasaan

Ia mengisahkan, cerita film itu berdasarkan kisah nyata teman baiknya sendiri.

"Suami teman saya itu, memang melakukan presentasi begitu dengan laptopnya untuk bilang ke teman saya bahwa dia akan menikah lagi. Saya begitu syok mendengar cerita dia," kata Dini lagi.

Digambarkan Dini, ia tak pernah membayangkan, bahwa poligami bisa sampai ke tingkat itu. Suatu langkah yang didasarkan pada nilai dan keyakinan yang berakar pada masa lampau, diajukan pelakunya dengan piranti yang begitu modern.

Perasaan, bukan emosi

Ini film besar kedua Kamila Andini, putri sineas garda depan Garin Nugroho.

Film pertamanya Laut Bercermin, tahun 2011, memenangkan berbagai penghargaan di berbagai festival, selain tampil di festival besar antara lain Festival Film Berlin.

Berbeda dengan Laut Bercermin yang berkesan antropologis, dengan sajian visual yang memanjakan mata dari alam Wakatobi, Sendiri Diana Sendiri adalah film percakapan yang senyap.

Hak atas foto BABIBUTA FILM
Image caption Di sesi pemotretan TIFF: produser Mieiske Taurisia, Kamila Andini, Raihaanun -dan Rintik, puteri Dini

"Saya memang lebih tertarik untuk mengeksplorasi perasaan-perasaan Diana, dan bukan emosi-emosinya" tutur Kamila Andini, yang juga menulis skenario film ini.

Seperti ditunjukkan selama 40 menit di film itu, Kamila Andini berusaha melawan penggambaran umum tentang perempuan yang akan bereaksi histeris jika dihadapkan pada situasi itu, atau menerima dengan ikhlas dan pasrah sebagai bentuk pengabdian dan ketaatan pada nilai budaya dan agama.

Dini menggambarkan Diana dalam reaksi-reaksi yang penuh spektrum, yang serba tak terduga. Yang mungkin akan menjengkelkan baik bagi pendukung maupun penentang poligami.

Dan itulah yang membuat ratusan penonton hening selama 40 menit mengikuti perjalanan Diana, dan meledak dalam tepuk tangan di menit ke-41, saat film berakhir.

Festival Film Internasional Toronto ke-40 yang sangat prestisius berlangsung Kamis 10 September hingga 20 September mendatang.

Selain Sendiri Diana Sendiri, di festival kali ini juga tampil Copy of My Mind karya Joko Anwar.

Berita terkait