Seperempat yang aborsi pernah hamil sebelumnya

Hak atas foto RIA Novosti
Image caption Remaja harus tahu bagaimana bilang tidak dan kapan bilang ya dalam seks dan hubungan

Nyaris satu dari empat remaja yang melakukan aborsi di Inggris dan Wales pernah hamil sebelumnya setidaknya sekali, ungkap sebuah studi dalam Journal of Adolescent Health.

Menurut para peneliti, mereka memerlukan dukungan dan saran mengenai kontrasepsi.

LSM kesehatan seksual dan reproduksi FPA mengatakan, pendidikan seks bagi remaja di sekolah sangatlah penting.

Peneliti dari University of East Anglia yang menggunakan data aborsi dari Kantor Statistik Nasional dan Departemen Kesehatan menyimpulkan, bahwa jumlah aborsi di kalangan kelompok usia ini menurun sejak tahun 2007, dengan tingkat saat ini di 17 per 1.000 remaja.

Hak atas foto bbc
Image caption Remaja yang pernah aborsi, potensial untuk mengalami lagi kehamilan tak direncanakan

Tapi selama 20 tahun terakhir, proporsi remaja yang melakukan aborsi dan sudah pernah hamil sebelumnya, meningkat sebesar 33%.

Untuk menjaga tingkat kehamilan remaja 15-19 tahun pada rekor terendah saat ini, perlu dialokasikan tambahan waktu untuk mendidik remaja yang hamil bagaimana di masa depan menghindari kehamilan yang tidak diinginkan.

'Kelompok berisiko tinggi'

Lisa McDaid, peneliti utama dari UEA Norwich Medical School, mengatakan gadis belia yang hamil dapat dianggap "kelompok risiko tinggi untuk kehamilan yang tak diinginkan berikutnya, tidak pas waktunya, atau tidak diinginkan."

Dikatakannya: "Semua organisasi perlu bekerja bersama sehingga remaja bisa memiliki rencana kontrasepsi yang efektif yang memenuhi kebutuhan mereka setelah kehamilan, juga agar remaja mendapatkan dukungan yang berkelanjutan untuk mendorong penggunaan dan peningkatan akses pada kontrasepsi darurat."

Hak atas foto THINKSTOCK
Image caption Pendidikan seks menunda remaja dalam melakukan hubungan seks pertama

Natika Halil, pemimpin FPA, mengatakan pendidikan seks (SRE) di sekolah-sekolah adalah cara penting untuk mendorong anak-anak muda mendapat informasi ini.

"SRE (pendidikan seks dan reproduksi) menunda usia anak muda dalam melakukan hubungan seks pertama, dan di luar mekanisme reproduksi dan kontrasepsi - yang tidak boleh diabaikan - pendidikan seks dan reproduksi itu mengajarkan tentang persoalan yang lebih luas tentang persetujuan dan pembicaraan (untuk melakukan hubungan seks), rasa hormat dan keyakinan diri, bagaimana mengenali sehat atau tidaknya suatu hubungan, bagaimana mengatakan tidak dan kapan berkata ya."

Tapi dia mengatakan dukungan yang berkelanjutan juga harus terus diberikan.

"Yang juga sama pentingnya adalah bahwa ketika anak muda telah melakukan aborsi, mereka diberikan perawatan yang tepat, termasuk pengetahuan tentang pilihan kontrasepsi mereka."

Berita terkait