Bayi orang utan sakit akibat asap kebakaran hutan

orang utan Hak atas foto Reuters
Image caption Orang utan tetap belajar di alam bebas meski terkena asap akibat kebakaran hutan.

Puluhan orang utan di pagi hari keluar dari kandang mereka di pusat reintroduksi orang utan BOS Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah.

Di lokasi tersebut orang utan-orang utan dilatih untuk dapat bertahan di hutan alam bebas, meski kabut asap akibat kebakaran hutan di berbagai daerah Kalimantan membuat pemandangan menjadi buram.

Mereka belajar untuk bergelantungan di pohon dan walau orang utan dewasa tampak tidak memiliki kesulitan, tampak bayi orang utan perlahan-lahan sudah merasakan dampak dari kabut asap, kata Denny Kurniawan, program manajer BOS.

"Karena kabut asap sangat tebal, dalam dua minggu terakhir ini. Enam belas bayi orang utan tersebut terkena ISPA (infeksi saluran pernapasan atas). Itu artinya bahwa bayi orangutan sangat rentan sekali terhadap perubahan-perubahan cuaca atau pun sangat berpengaruh besar dari kabut asap ini," kata Denny.

Jadi untuk saat ini para bayi orang utan terpaksa belajar di dalam ruangan dan karena tempat yang terbatas maka mereka hanya dapat berguling-guling di lantai.

Denny pun cemas situasi ini akan berdampak buruk pada orang utan dalam waktu dekat.

"Saya sangat khawatir apabila kondisi ini terus berlangsung akan banyak sekali orang utan yang ada di tempat kami itu sakit, atau bahkan tidak menutup kemungkinan ada berapa orang utan yang dapat mati," tutur Denny.

Di pusat rehabilitasi orangutan Samboja Kalimatan Timur, yang juga merupakan milik BOS, para staf terpaksa mengevakuasi 200 orangutan di tempat itu karena kebakaran hutan yang terjadi dekat wilayah mereka.

Selain orangutan, di situ juga terdapat beruang-beruang yang perlu dilindungi.

Di Kalimantan terdapat sekitar 700 orang utan yang berada di margasatwa.

Hak atas foto Reuters
Image caption Orang utan dewasa lebih tahan menghadapi asap ketimbang bayi orang utan.

Hewan di Sumatera

Sedangkan di Sumatera, kondisi hewan juga tidak cemerlang.

Di Taman Nasional Tesso Nilo yang terletak di provinsi Riau, Indonesia, satwa juga merasakan dampak dari asap, khususnya 80 ekor gajah, harimau Sumatera, dan berbagai satwa lainnya.

Tempat tersebut merupakan kawasan konservasi satwa dan kebakaran hutan yang menyebabkan asap juga dirasakan satwa di sana, kata Didin Hartoyo, dari hubungan masyarakat Taman Nasional Tesso Nilo.

"Asap yang pasti berpengaruh terhadap satwa. Tapi saat ini belum ada conflict report (laporan kerusuhan) antara satwa dan manusia. Yang jelas, dengan adanya asap produksi madu yang sudah ada di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo itu berkurang karena terganggu dengan asap, jadi lebah tidak mau hinggap," jelas Didin.

Sedangkan Ilham Gobel petugas dari Taman Nasional Tesso Nilo mengatakan sudah mengevakuasi gajah-gajah ke tengah-tengah hutan karena kabut asap tidak mudah masuk ke tengah hutan.

Hak atas foto AFP
Image caption Warga berusaha mengatasi kebakaran hutan yang melanda Sumatera dan Kalimantan beberapa bulan terakhir.

Sulit untuk evakuasi

Menanggapi masalah yang dihadapi satwa, Eka Soegiri, Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan saat ini belum ada langkah nyata yang dapat dilakukan untuk langsung membantu satwa.

"Tentu yang kita kerjakan tidak mungkin mengevakuasi. Yang kita kerjakan adalah memadamkan sumber api. Karena kalau sumber apinya berkurang atau makin padam, harapannya mereka akan diselamatkan," ungkap Eka.

Para pengamat mengatakan Indonesia semestinya melindungi hutan-hutannya, yang merupakan hutan tropis terbesar ke tiga di dunia sehingga masalah asap dan kebakaran hutan tidak senantiasa terjadi.

Hal itu adalah solusi jangka panjang namun sekarang pemerintah harus segera memikirkan solusi jangka pendek, kata Nyoman Iswarayoga dari WWF.

"Saya pikir, bukan hanya untuk satwa, sekarang jangka pendek nomor satu adalah padamkan api. Artinya, tekan semua titik api sampai tidak muncul lagi api dan kebakaran lahan dan hutan hingga satwa, manusia dan semua yang sekarang sudah terpapar asap selama berbulan-bulan itu berhenti terkena asapi mulai dari pagi hingga malam hari," ujar Nyoman.

Anda bisa mendengarkan liputan selengkapnya dalam program Lingkungan Kita, yang disiarkan melalui radio-radio mitra BBC Indonesia, Rabu, 14 Oktober 2015 pukul 05.00 dan 06.00 WIB.

Berita terkait