Anda tidak sendirian: Pesan untuk warga yang hadapi 'kabut asap'

#TrenSosial: Ketika pemerintah dianggap tidak cukup mampu menanggulangi kebakaran dan kabut asap, banyak orang tergerak membantu korban asap di area yang paling terdampak dan memberi pesan bahwa: Anda tidak sendirian.

Gerakan mereka beragam, dari donasi oksigen, donasi masker, hingga aksi turun langsung ke lapangan memadamkan api berbulan-bulan tanpa bayaran. Berikut, BBC Indonesia merangkum beberapa di antaranya:

1. Oksigen

Hak atas foto Getty
Image caption Para pelajar di Surabaya melakukan protes dan penggalangan dana untuk korban asap, Kamis (22/10).

Di tengah kabut asap yang kian menguning, udara bersih semakin langka. Sejumlah relawan menginisiasi sumbangan oksigen. Salah satunya adalah gerakan berbasis media sosial #sedekahoksigen.

BBC Indonesia bertemu dengan Ninit, seorang relawan sedekah oksigen di Palangkaraya. Dia pergi ke rumah-rumah menawarkan oksigen untuk kaum rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan orang-orang tua.

Rencananya ada sekitar 600 tabung oksigen seharga Rp40.000 akan dibagian cuma-cuma untuk para penduduk. "Membagi oksigen tidak mudah, karena beberapa orang menolak karena tidak mengerti apa kegunaannya. Padahal ini sangat berguna," katanya.

Selain #sedekahoksigen, ada juga gerakan berbasis media sosial untuk menghimpun sumbangan masker dengan tagar #maskeruntukindonesia.

Image caption Yonson, warga Desa Kereng Bangkirai, Kota Palangka Raya, menggunakan oksigen pertama kali dari #sedekahoksigen.

2. Bersama warga padamkan api

Image caption Pemadam api dari Cimtrop direkrut dari masyarakat lokal yang lebih mengerti karakter gambut.

Inilah para pemadam api dari organisasi konservasi lahan gambut Cimtrop di Palangkaraya yang bekerja siang malam memadamkan titik api menggunakan metode tradisional.

Di sebuah lahan dengan banyak titik api, mereka mengebor sumur dan memompa air untuk memadamkan api jauh ke bawah permukaan. Ini dianggap lebih efektif dibandingkan menggunakan water bombing yang memadamkan di atas permukaan saja.

"Kami bekerja pada akhir September untuk memadamkan api, tidak ada dana dari pemerintah, tetapi semuanya adalah sumbangan dari luar, dari para pecinta hutan gambut, lima juta, sepuluh juta, patungan," kata Sahara, salah satu aktivis Cimtrop.

Ada 16 awak, yang kebanyakan adalah masyarakat lokal. "Orang luar tidak bisa, karena masyarakat lokal yang menguasai alam seperti ini," kata pria berusia 43 tahun ini.

Mereka biasa bekerja dari pukul 07.00 WIB pagi hingga larut malam setiap hari karena harus berlomba dengan kecepatan api. "Api ini jalan terus, jalan terus, api tidak pernah tidur," kata Sahara.

Image caption "Anak sering telepon kenapa belum pulang? Bapak masih di hutan padam api. Anak kalau tidak ada teman di rumah saya temani bawa ke tenda."

<span >3. Masker untuk pemadam kebakaran

Hak atas foto Jonathan How
Image caption Banyak dari pemadam kebakaran yang sudah di lokasi selama lebih dari dua bulan, dan satu dari mereka belum bertemu dengan keluarganya selama tiga bulan terakhir.

Ini adalah misi kedua Jonathan How, pekerja sosial asal Singapura, setelah sebelumnya membagikan ribuan masker N95 di Kalimantan Tengah.

Dia dan satu relawan Relief.sg (RSG) bertolak ke Palembang, membagikan 100 masker yang bisa dipakai ulang untuk pada petugas pemadam kebakaran di Sumatera Selatan.

"Kebakaran di wilayah ini sangat mempengaruhi Singapura dan RSG ingin memberikan semangat bagi para pemadam yang melawan api," katanya kepada BBC.

Bagaimana kondisi mereka? "Saya rasa mereka kelelahan. Cukup menyedihkan untuk menjadi pemadam kebakaran selama berbulan-bulan tanpa banyak istirahat. Mereka memiliki peralatan, tapi anehnya, alat-alat keselamatan personal sangat minim. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki masker. Anda akan melihat beberapa pemadam kebakaran tidak menggunakan masker."

Hak atas foto Jonathan How
Image caption "Mereka tampak kelelahan," kata Jonathan.

4. Teriakan aktivis lokal

Para aktivis lokal bergerak mendorong pemerintah melakukan tindakan cepat mengatasi kebakaran hutan. Sejumlah warga di Pekanbaru misalnya, menggalang aksi unjuk rasa Revolusi Langit Biru dan di Palangkaraya di gelar aksi sumbang koin sebagai bentuk sindiran bagi menteri kesehatan dan menteri lingkungan hidup.

Image caption Sekitar 500 orang warga kota Pekanbaru, Riau, Senin (12/10) menggelar unjuk rasa memprotes penanganan kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan kabut asap.

Berita terkait