Hari Transgender Dunia: "Kami bukanlah insan yang harus ditakuti dan dianggap tidak normal"

priawan Hak atas foto setya
Image caption Masyarakat masih menilai priawann adalah pendosa yang menyalahi kodrat kata Setya.

#TrenSosial: Pada Hari Transgender Dunia yang jatuh pada Jumat (20/11) kemarin, BBC mengadakan tanya jawab dengan Setya, pendiri Persatuan Priawan Indonesia, yang merupakan jaringan kerja antar dan pusat informasi bagi para laki-laki bertubuh perempuan.

Selain memberikan pemahaman atas hak-hak transgender, mereka juga aktif melakukan pendidikan publik sehingga masyarakat bisa menerima keberagaman identitas gender.

Selepas sesi tanya jawab di Facebook, Setya mengatakan tidak terkejut dengan banyaknya pemahaman keliru dan bahkan makian terhadap transgender. Masyarakat, kata Setya, masih menilai bahwa mereka adalah "pendosa yang menyalahi kodrat."

Maka itu, perlu ada "dialog, baik itu melalu diskusi di kampus atau lembaga masyarakat," katanya. "Senyum saja lah yaa. Paling tidak sudah banyak yg mengetahui tentang LGBTIQ."

Berikut ringkasan tanya jawab bersama Setya:

Hak atas foto setya
Image caption Setya mengatakan mereka mengharapkan masyarakat umum untuk menerima mereka seperti layaknya WNI lain.

Dedy Winarno: Bagaimanakah cara mengubah pandangan masyarakat yang masih berpandangan negatif pada transgender ini? Sementara para transgender sendiri memilih mengeksklusifkan dirinya, lebih banyak bergaul dengan sesama transgender. Di sisi lain ketika isu-isu transgender memasuki ranah agama, seringkali terjadi gesekan-gesekan nilai dan pemahaman di dalamnya.

Setya: Mengubah pandangan masyarakat tentang transgender memang tidak mudah. Hal ini dikarenakan stigma masyarakat terhadap trangender masih negatif. Salah satu cara kami untuk merubah pandangan masyarakat terhadap transgender adalah kami berusaha tidak bersikap eksklusif dan membaur dengan masyarakat. Untuk itu, kami mengharapkan kepada masyarakat untuk menerima kami selayaknya warga negara Indonesia pada umumnya, sebab kami juga mempunya hak dan kewajiban yang sama dengan yang lain.

Sedangkan isu transgender dalam pergesekan nilai dan pemahaman agama tentu masih bersinggungan dengan stigma masarakat yang menganggap trangender sebagai pendosa dan menyalahi kodrat Tuhan. Padahal, stigma tersebut sangat berkaitan dengan sosio-kultural yang mempengaruhi perkembagan doktrim agama saat ini. Sebut saja adanya dikotomi laki-laki dan perempuan dalam berbagai kepercayaaan agama yang kemudian menjadi status quo. Akhirnya, posisi transgender cenderung sulit diterima dalam pandangan agama apapun. Karena itu, saya mengharapkan agar urusan agama kembali ke ranah pivat atau personal. Hal ini akan memungkinkan terciptanya penerimaan transgender di masyarakat.

Hak atas foto AFP

Soe Gie: Dalam komunitas transgander, apakah priawan sadar kalau pelaku priawan itu sebuah kelainan yang perlu disembuhkan?

Setya: Trangender bukanlah sebuah penyakit dan trangender sama halnya dengan warga negara lainnya yang harus diperlakukan dengan adil. Hak-hak kami sama dengan masyrakat pada umumnya, antara lain kami berhak untuk mengenyam pendidikan, berkerja, dan bermasyarakat tanpa adanya bentuk-bentuk diskriminasi.

Mohammad Sahrul: Yang dimaksud perempuan bertubuh laki-laki itu bagaimana ya? Bisa dijelaskan lebih detail? Lalu, apakah transgender itu bawaan sejak lahir atau kerena pergaulan dengan sesama transgender?

Setya: Perempuan bertubuh laki-laki adalah transgender Male to Female—mereka yang secara biologis laki-laki dan menghayati dirinya sebagai perempuan. Sebagai tambahan, trangender merupakan bawaan sejak lahir dan bukan karena pergaulan dengan transgender ( apakah kalau bapak berteman dengan kami akan menjadi trangender juga ..?☺)

Idris: Apa di hari transgender mereka tidak dibimbing ke arah yang normal? Apa malah di dukung menjadi transgender? Apa dunia harus mewajarkan semua orang menjadi transgender?

Setya: Bapak Idris, transgender bukan sebuah kelainan, kami sama dengan warga masyarakat yang lain. Ya karena kami bukanlah insan yang harus ditakuti dan dianggap tidak normal.

Hak atas foto setya
Image caption Dalam diskusi tentang gender ketiga dan hak-hak kelompok ini.

Qiezaqie: Kalau banci atau bencong (maaf) bisa di sebut trangender juga enggak?

Setya: Tidak semua banci atau bencong disebut transgender. Hal ini tergantung pada kenyamanan identitas gender masing-masing orang.

Eko Prabowo: Apa yang menyebabkan mereka memilih untuk merubah kelamin? Kalau hanya penampilan dan tingkah laku, tidak sampai merubah fisik apa bisa disebut transgender?

Setya: Ada beberapa faktor yang menyebabkan untuk memilih merubah kelamin. Salah satunya karena mereka merasa tidak nyaman dengan bagian tubuhnya yang dihayati sesuai dengan gendernya.

Jika mereka hanya menghayati dirinya pada aspek penampilan dan tingkah laku, tanpa diikuti perubahan kelamin, maka mereka bisa disebut transgender. Seperti halnya saya, saya menghayati diri sebagai laki-laki; maka saya berperilaku seperti laki-laki dan tidak melakukan perubahan fisik.

Hak atas foto Reuters

Faiiz Mia: Apakah Seorang Transgender itu bisa dipengaruhi oleh lingkungan? Semisal orang berteman dengan waria dia bisa ikut menjadi waria? Atau gara -gara trauma sewaktu kecil pernah dicabuli sehingga sewaktu besar menjadi waria?

Setya: Menjadi trangender sama sekali tidak dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti bersosialisasi dengan teman-teman transgender ataupun faktor trauma masa kecil yang disebabkan pencabulan atau pelecehan seksual.

Robin Makmur: Bukankah mereka adalah orang-orang yang mengidap kelainan jiwa? Mendukung kegilaan mereka sama saja merusak masa depan mereka. Sepengetahuan kami sangat sedikit banci yang sukses.

Setya: Transgender bukanlah orang – orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Pernyataan bahwa transgender adalah suatu penyakit kejiwaan sudah DIHAPUS dalam daftar penyakit jiwa oleh American Psychiatric Association (APA) sejak tahun 1970an. Bahkan, keberadaan transgender sudah dijelaskan secara ilmiah oleh ahli biologi Anne Fausto-Sterling dalam artikelnya yang berjudul the Five Sexes in the Sciences pada 1993. Sebagai tambahan, WHO juga sudah mengakui keberadaan transgender.

Mendukung kami sama sekali tidak merusak masa depan kami. Dengan adanya dukungan dan tidak adanya diskriminasi dari masyarakat, kami bisa lebih berkarya dan membangun masa depan kami. Saya rasa, menjadi banci atau tidak bukan pokok masalah dalam berintergritas dan bernegera. Semua hal ini tergantung pada individu masing-masing. Misalkan Anda bukan transgender, tapi anda tidak berkarya dan berkontribusi pada kemajuan bangsa ini, maka eksistensi Anda juga sia-sia. Contohnya, banyak kasus korupsi dinegeri ini yang dilakukan oleh orang yang bukan transgender dan berasal dari keluarga yang ‘katanya’ beragama. Apakah karena mereka ‘bukan transgender’ lantas mereka tidak perlu dipersalahkan? Ini hanya salah satu contoh, masih banyak contoh lain yang bisa bapak baca di media massa. Secara garis besar, saya ingin mengungkapkan bahwa integritas seseorang tidak dipengaruhi oleh orientasi gendernya. Banyak transgender yang sukses, bahkan kami bisa menciptakan lapangan perkerjaan untuk masyarakat sekitar. Sayangnya, hal-hal positif seperti ini tidak diliput media sehingga tidak banyak masyarakat yang mengetahuinya.

Hak atas foto setya
Image caption Setya mengatakan transgender bukan orang yang mengalami gangguan kejiwaan.

Zen Fanny Simanjuntak: Apakah pemerintah atau hukum sudah mengakui orang-orang seperti itu dan apakah mereka bisa menikah secara legal?

Setya: Pemerintah sudah mengakui keberadaan transgender di Indonesia sejak tahun 1969. Organisasi transgender pertama adalah Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD) yang difasilitasi oleh Gubernur DKI Jakarta Raya, Ali Sadikin. Tahun 1980, istilah wadam diganti menjadi waria. Hal ini dikarenakan keberatan sebagian pemimpin Islam yang mengungkapkan bahwa istilah tersebut mengandung nama seorang nabi, yakni Adam a.s.

Menikah di Indonesia secara legal tentu saja belum bisa. Sebab, undang-undang belum mensahkan pernikahan sesama jenis (LGBTIQ) di Indonesia.

Berita terkait