#TrenSosial: Lagu parodi "Buka Saja" tampilkan Sudirman Said dan anggota MKD

Hak atas foto Eka Gustiwana
Image caption Eka Gustiwana dikenal telah membuat berbagai video dengan teknik speech composing, salah satu yang terkenal adalah video penyiar berita Jeremy Teti yang 'bernyanyi' tentang bahan bakar minyak.

Sebuah video klip berisi lagu parodi berjudul Buka Saja yang merespons proses persidangan Mahkamah Kehormatan Dewan di DPR mendapat perhatian pengguna media sosial.

Video yang diunggah di YouTube itu dibuat oleh Eka Gustiawan dengan teknik speech composing atau penyatuan ucapan menjadi lagu dan hingga kini sudah diputar lebih dari 16.000 kali.

"Buka saja, buka saja, kalau tidak dibuka nanti jadi fitnah," begitu Sudirman Said yang 'bernyanyi' dalam lagu tersebut --merujuk pada rekaman dugaan pelanggaran etika Ketua DPR Setya Novanto.

Dalam video itu, Eka mengutip sejumlah pernyataan anggota MKD yang terkesan membela Setya, seperti: 'apa yang salah dengan pertemuan Setya Novanto ini?Salahnya di mana?', 'rekaman itu tidak legal', dan 'Anda tidak tahu rekaman ini asli atau palsu?'.

Proses sidang etik dimulai pekan lalu menghadirkan pihak pelapor Menteri ESDM Sudirman Said dan Presiden Direktur Freeport Ma'roef Syamsoeddin. Rencananya sidang dilanjutkan Senin (07/12) dengan mendengarkan keterangan pihak terlapor, Setya Novanto.

Sementara itu, Setya dalam sejumlah keterangan kepada media tidak pernah mengakui bahwa suara dalam rekaman itu adalah suara dirinya.

Hak atas foto Eka Gustiwana
Image caption Video Eka mendapat banyak respons. "Miris melihat kelakuan yang katanya "Yang Mulia" sungguh tidak punya malu´╗┐," kata satu pengguna Youtube.

Banyak pengguna membagi video itu di jejaring sosial dan menyebutnya sebagai video yang kocak dan kreatif. Namun Eka dalam unggahan YouTube-nya memperingatkan bahwa video ini hanyalah parodi semata dan "tidak direkomendasikan mengambil kesimpulan apapun dari video ini karena sudah mengalami tahap editing."

'Busuk dan kotor'

Banyak kritik yang dilontarkan terkait sidang MKD pekan lalu. Sebuah protes yang dilakukan oleh sejumlah seniman di depan gedung DPR pada Kamis (03/12) kemarin, misalnya, menggambarkan MKD sebagai "Mahkamah Kehormatan Djamban".

Mereka menyusun sejumlah toilet sebagai simbol 'busuk dan kotor.'

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sejumlah pengunjuk rasa menyusun toilet di depan gedung DPR di Jakarta pada Kamis (03/12) kemarin sebagai simbol 'busuk dan kotor'.

Para pengguna media sosial dan sejumlah pengamat juga menganggap bahwa MKD terkesan melindungi Setya Novanto dengan pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan dalam sidang. Namun anggota MKD Adies Kadir dari Partai Golkar membantah tundingan itu.

Tidak hanya Eka yang merespons sidang MKD dengan parodi. Pekan lalu, pengguna media sosial ramai menggunakan tagar 'Pertanyaan MKD' untuk mengkritik anggota MKD yang dianggap melontarkan pertanyaan ngawur.

Berita terkait