Rekoleksi Memori: museum temporer pelanggaran HAM

Museum Temporer Rekoleksi Memori
Image caption Wahana "Lubang Maut" karya Yovita Ajtahida, ironi pada penggambaran Lubang Buaya versi resmi.

Bolak-balik perempuan kecil ini berjalan dari satu sudut ke sudut lain di dalam kerangka kotak raksasa berbahan logam itu, dengan kain-kain kasa menjuntai di sana sini.

Stephanie Larassati, sang arsitek, memeriksa ini itu, mengecek gambar di tangannya, memberikan instruksi memeriksa berbagai detil.

Begitu kecil ia di tengah –atau di depan kotak raksasa yang sedang ia bangun, yang sore itu masih belum bisa saya bayangkan akan berwujud seperti apa nantinya.

Keesokan harinya saya kembali, menemukan bangunan itu sudah berdiri penuh: sebuah bangunan geometris simple yang jadi begitu menonjol di hadapan Gedung Teater Jakarta di sebelahnya yang tampak pelik dan masif.

“Museum Temporer Rekoleksi Memori,” begitu bangunan itu dirancang –dan disebut, berdiri di Taman Ismail Marzuki selama enam hari, 7-12 Desember 2015.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Stephanie Larassati menyiapkan pembangunan konstruksi Museum Temporer itu.

Menolak tutup mata

Kerangka-kerangka logam itu dibalut kain-kain kasa hitam, yang menjadi dinding, lebih tepatnya tabir, yang di satu sisi melindungi, menutupi, di sisi lain juga memamerkan selintasan apa yang ada di baliknya.

Stephanie, seorang arsitek yang bekerja di Berlin, Jerman, merancang konstruksi ini bersama Gosha Muhammad dan Wendy Sudibyo.

Awalnya Stephanie dan dua kawannya merancang sebuah museum untuk Peristiwa 1998. Namun itu masih butuh waktu, karena akan merupakan suatu museum permanen.

Yang ini, adalah museum temporer, untuk enam hari saja 7-12 Desember 2015 ini. "Jadi bahan-bahannya juga yang bisa dipasang dan dibongkar dengan mudah: perancah logam, kawat dan kain paranet hitam -kain kasa, yang banyak digunakan sebetulnya di pertanian. " papar Stephanie.

"Tapi yang paling penting, bangunan ini menyimbolkan aksi anak muda, generasi muda Indonesia, yang menolak untuk menutup mata akan sejarah gelap Indonesia," tutur Stephanie.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Pemenang Kehidupan karya Adrian Mulya -dengan penonton istimewa hari itu.

"Museum ini menyimbolkannya dengan bangunan yang bersifat masif, dan tertutup namun pada saat yang sama juga bersifat tembus pandang. Sehingga yang di luar bisa melihat ke dalam, dan yang di dalam bisa melihat ke luar."

Saya memandang museum itu, dan memang: konstruksi ini menjadi metafora dari pelanggaran HAM dan apa yang oleh Stephanie disebut sebagai 'sejarah kelam' Indonesia. Kita selalu bisa memandangnya, karena masalahnya begitu masif, menjulang, raksasa. Namun kita tak bisa menyentuhnya: "tak ada pelanggaran HAM yang pernah diselesaikan," kata Direktur Museum Temporer, Yulia Evina Bhara.

Lalu sejarah kelam? Stephanie mengatakan, itu terjadi di mana-mana, di sepanjang era.

"Tapi khususnya Peristiwa 1965 adalah yang paling spektakuler, dan begitu tak tersentuh. Bahkan pembicaraannya sering dianggap tabu, sering dihalang-halangi, bahkan menimbulkan ancaman," kata Yulia Evina Bhara pula.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Penyekat ruangan adalah juga batang-batang besi, kawat, dan kain kasa.

Pemenang kehidupan

Memasuki konstruksi seluas 280 meter persegi, dan menjalani kelokan-kelokan yang juga dibentuk melalui kawat, kain kasa paranet -dan batang-batang perancah logam. Kita dihadapkan pada berbagai karya para seniman muda -semua merupakan refleksi atas 1965.

Mulai yang paling abstrak seperti karya Jompet Kuswidananto, berupa sebidang dinding yang penuh dengan puluhan pisau yang menancap, warna-warni.

Hingga karya fotografi yang begitu terancang, berjudul Para Pemenang Kehidupan, 10 foto potret perempuan penyintas karya Adrian Mulya.

"Sebagian adalah para anggota atau aktivis Gerwani -Gerakan Wanita Indonesia, organ perempuan PKI- namun sebagian sekadar dituduh terlibat," ungkap Adrian Mulya.

Dalam 10 foto itu, para perempuan itu tampak rapi, dengan ekspresi yang terjaga.

"Saya memang merancangnya, karena ingin mereka muncul dalam penampilan terbaik. Jadi mereka tahu akan difoto," kisah Adrian pula.

"Jadi saya menata setting, pencahayaan, latar belakang."

"Saya menginginkan mereka dalam penampilan terbaik, sebagai penghargaan saya atas perjalanan hidup mereka -yang pilu, penuh penderitaan. Dan pada akhirnya mereka keluar sebagai pemenang. Mereka adalah para pemenang kehidupan."

Di bagian lain, ada instalasi karya Yovista Ahtajida. Sebuah instalasi video dua sudut.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Karya Elisabeh Ida, di bagian Dekonstruksi -pemahaman sejarah yang dihancur-leburkan.

Parodi Lubang Buaya

Di satu sudut, adalah dinding yang dilukis dengan gaya seni lukis rakyat, "Wahana Loebang Maoet, " begitu karya itu disebut.

Ini sebuah parodi tentang Lubang Buaya. Disusun seakan permainan hiburan tontonan rakyat, semacam wahana misteri yang bisa ditemui di pasar-pasar malam -yang menawarkan pengalaman horor menyeramkan. Namun yang ditawarkan adalah pengalaman Lubang Buaya -sumur tempat ditemukannya jenazah enam jendral dan seorang kapten dalam Peristiwa 1965.

"Ini respons saya sebagai orang yang tak mengalami langsung represi Soeharto," kata Yovista.

"Setiap kali ke Lubang Buaya, yang tak jauh dari rumah saya, bukan kisah sejarah yang saya dapat, namun cerita seram dari museum -tentang kekejaman PKI, bagaimana cara mereka menyayat-nyayat para jenderal."

"Maka untuk karya ini saya ambil metode Soeharto itu. Lubang Buaya saya rebranding sebagai rumah hantu."

Sebuah karya yang telak menjungkir-balikkan paparan sejarah resmi yang selama ini diterima sebagai kebenaran satu-satunya.

Konstruksi-dekonstruksi-rekonstruksi

Ada pula karya Elizabeth Ida, instalasi multi media di tiga ruangan.

Di ruangan pertama adalah rangkaian foto ukuran kecil -diambil dari potongan adegan film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer yang pernah menjadi film wajib bagi pelajar pada setiap 30 September.

"Ini bagian konstruksi," kata Elizabeth Ida, seniman yang bermukim di Gent, Belgia.

"Itulah konstruksi sejarah yang saya bangun pada suatu waktu. Disusun terutama dari narasi film itu," papar Ida.

Yang kedua adalah dekonstruksi. Berisi foto-foto dan video para eksil -orang-orang kiri Indonesia yang terkucil di negara-negara Barat terutama, setelah Peristiwa 65.

"Jadi, berkat berbagai pertemuan saya dengan para eksil, keyakinan-keyakinan saya selama ini dibongkar. Saya mengalami proses yang membuat saya membongkar semua konstruksi yang dibangun semasa orde baru. Ibaratnya, bangunan konstruksi pemahaman saya dihancur-leburkan."

Dan yang ketiga adalah 'rekonstruksi.'

"Saya ingin merekonstruksi pemikiran sendiri dengan kolase-kolase foto -dan video."

Dalam kolase foto, antara lain dimunculkan pohon beringin lambang Golkar yang dulu begitu berkuasa, ditampilkan dalam citra brokoli.

Film Pengkhianatan G30S/PKI juga merupakan dasar dari karya instalasi Kiki Febriyanti: sebuah televisi kecil memutar video percakapan dengan anak muda terkait sosok-sosok sejarah yang sebagian dibicarakan di film itu, dan sejumlah kursi yang dingin di depannya -Anda bisa duduk di salah satunya dan menonton.

Ada pula karya-karya foto Sigit Pratama, yang memapar interaksinya dengan Peristiwa 65 melalui ingatan dan tafsir paling pribadi.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Stephanie Larasati, salah satu arsitek perancang Museum Kontemporer: Rekoleksi Memori

Menemukan konteks

Lalu bagaimana sang arsitek, Stephanie Larassati memandang karya-karya yang mengisi museumnya ini?

"Saya merasa karya-karya itu sangat berkomplimen terhadap asitekturnya."

"Banyak karya menggunakan warna-warna monokrom, yang sesuai dengan arsitekturnya. Tapi ada juga karya dengan warna-warna mencolok yang membuatnya muncul menonjol. seperti karya Elisabeth Ida."

Stephanie betul, lepas dari berbagai urusan artistik, karya-karya itu membuat bangunan Museum Temporer : Rekoleksi Memori, dengan gestur tinggi menjulang, masif -dengan warna datar itu jadi mendapat konteksnya.

Berita terkait