Seniman pun dicap mirip antropolog, sosiolog, atau politikus

Image caption Ada Darmawan, Direktur Eksekutif Jakarta Biennale 2015 yang ditutup 17 Januari lalu.

Mewarisi gerakan seni rupa kontemporer 1974, Jakarta Biennale 2015 -yang digelar sejak November lalu dan baru saja ditutup pada 17 Januari 2016- terus menyuarakan sikap untuk tidak lagi menglorifikasi posisi seniman atau karya-karyanya.

"Bukan mengglorifikasi posisi-posisi seniman atau memitoskan posisi-posisi seniman lagi, atau karya-karya seni lagi," kata Direktur Eksekutif Jakarta Biennale 2015, Ade Darmawan, dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia.

Hak atas foto Jakarta Biennale 2015
Image caption Melalui Syntax System, Peter Robinson -seniman Selandia Baru- mengubah relasi kuasa antara batas seni dan bukan seni.

Dalam karya-karyanya, ekspresi seni para perupa dari berbagai kota di Indonesia -dan luar negeri seperti Buenos Aires, Auckland, Australia- tidak lagi memandang seni yang berjarak dari sekelilingnya.

"Jakarta Biennale harus punya peran kritis terhadap publik, termasuk kepada pemerintah, bisa memberikan refleksi yang paling relevan dengan yang terjadi sekarang," kata Ade.

Image caption Mural berjudul Bhoneka Tinggal Luka ini merupakan karya seniman asal Aceh, Idrus bin Harun, yang menceritakan perjalanan politik Aceh sejak era 1980-an.

Tetapi apa perkembangan estetika terbaru dari acara ini? Dan mengapa Jakarta Biennale 2015 tidak lagi 'mengagungkan' seniman yang terpusat di Jakarta, Bandung atau Yogyakarta?

Berikut petikan wawancara khusus BBC Indonesia dengan Ade Darmawan, kelahiran 1974 dan jebolan Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta, dalam rubrik Bincang BBC Indonesia Bulan Januari.

Ada pertanyaan beberapa kalangan tentang materi dan konsep Jakarta Biennale 2015, yang kesannya menyerap sebanyak mungkin karya seni rupa dari berbagai daerah. Mengapa ini dilakukan dan apa tujuannya?

Kalau kita bicara seni kontemporer, kita selalu sangat sentralistik di Jawa. Bahkan tidak cuma Jawa, tapi sentralistik di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Kita ingin meluaskan dan memperkaya pandangan ke banyak kota-kota yang menurut kami itu sangat relevan, ketika kita bicara isu tertentu. Ini tidak banyak kita lakukan dan kemukakan selama ini.

Image caption Ada Darmawan berpendapat seni kontemporer di Indonesia sentralistik di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Kita ingin memperkaya diskusi antar kota, apalagi kalau konteksnya Jakarta Biennale, dimana kita membicarakan kota. Itu sangat relevan. Dialognya tidak cuma tentang Jakarta, karena fenomena kota sangat luas untuk dibicarakan, misalnya apa yang terjadi di Surabaya, Makasar, atau di kota lain.

Kalau kita omongin kota, tidak mungkin cuma membicarakan hanya Jakarta. Kita harus bicarakan pengetahuan atau pendapat atau sudut pandang dari kota-kota lain.

Apakah ini yang Anda dan teman-teman lakukan sebagai upaya mematahkan mitos bahwa seni rupa kontemporer hanya milik seniman Jakarta, Bandung, Yogyakarta?

Ketiga kota itu -Jakarta, Bandung, Yogyakarta- memang punya sejarah yang panjang dalam perjalanan seni rupa Indonesia. Ini tidak bisa dipungkiri. Lalu juga diperkuat adanya sekolah-sekolah atau akademi (dari tiga kota itu) yang terus memproduksi banyak seniman dan praktisi seni.

Image caption Yoyok Karyono dari kelompok Melawan Kebisingan Kota memanfaatkan barang bekas dan rongsokan untuk menciptakan bunyi-bunyian.

Tapi dalam beberapa tahun terakhir, bahkan 10 tahun terakhir, produsen-produsen atau akademi seni itu tidak hanya dari sekolah seni. Dia bisa saja berasal dari komunitas, kantung-kantung budaya yang sangat beragam. Ini harus dilihat secara signifikan bahwa mereka memang mempengaruhi lanskap dan medan seni rupa di banyak kota. Dan saya pikir ini harus diperlihatkan.

Bagaimana dengan pertanyaan soal kualitas karya seni itu sendiri ketika dihadapkan konsep Anda dan teman-teman yang memberi tempat karya seni rupa dari berbagai kota?

Image caption Sebelum berkarya, seniman mural asal Semarang, Annisa Rizkiana Rahmasari, tinggal bersama korban penggusuran di Kalimalang, Bekasi.

Saya pikir pendapat itu juga berasal dari Jawa sentris juga ya... ha-ha-ha... Bahwa yang paling berkualitas adalah dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta. Saya pikir itu sudah bias. Saya pikir kita harus benar-benar melihat praktek-praktek (seni rupa) itu secara lebih terbuka lagi. Dan saya pikir Jakarta Biennale, yang kita bicarakan tidak hanya Jakarta, Bandung, Yogyakarta, saya pikir harus mengambil resiko dan harus menyatakan bahwa kita harus melihat itu secara terbuka dan kritis.

Jika dibandingkan dengan Jakarta Biennale dua atau empat tahun silam, ada yang menganggap ada yang berbeda dari Jakarta Biennale tahun ini. Yaitu ketika sebagian seniman dalam pameran kali tidak asyik-masyuk dengan dirinya sendiri, tapi mereka membawakan isu-isu sosial, isu-isu di seputar mereka yang ada sekarang itu menjadi jelmaan dari karya mereka. Apakah Anda juga melihat hal itu?

Kita harus melihatnya dari medan seni rupa secara luas ya. Kita ada galeri, komunitas, pameran besar, dan bahkan art fair, yang punya peran-perannya sendiri. Dan saya pikir, untuk Jakarta Biennale, harus punya peran tidak hanya men-showcasing atau meng-glorifikasi posisi-posisi seniman yang memusat, posisi-posisi seniman yang sebagai orang yang dengan ekspresi individual. Saya pikir peran itu sudah banyak dilakukan oleh elemen lain. Jakarta Biennale harus punya peran kritis terhadap publik, termasuk kepada pemerintah, bisa memberikan refleksi yang paling relevan dengan yang terjadi sekarang.

Image caption Tita Salina, seniman kelahiran 1973, mengumpulkan sampah laut di sekitar kawasan Pantai Indah Kapuk dan Muara Angke untuk nenjadi 'Pulau 1001'.

Jadi memang perannya beda. Bukan mengglorifikasi posisi-posisi seniman atau memitoskan posisi-posisi seniman lagi, atau karya-karya seni lagi. Jakarta Biennale --yang menggunakan uang publik, sehingga harus sebanyak-banyaknya kembali ke publik-- harus bersikap kritis terhadap apa yang terjadi di lingkungan atau masyarakat kontemporer. Makanya, kita punya pilihan-pilihan praktek seni seperti itu.

Lagipula, yang lain sudah ada art fair, ada galeri komersil yang lebih berperan di wilayah misalnya karya-karya yang teknikal atau mengedepankan keindahan.

Dengan kata lain, Jakarta Biennale kali ini memang menegaskan soal posisi itu?

Image caption Menurut Ade Darmawan yang membedakan Jakarta Biennale dengan yang lainnya adalah yang disebutnya sebagai 'Pembacaan Kota'.

Sejak awal Jakarta Biennale, berperan di situ. Kami memang mempertajam tradisi itu, yaitu dengan isu-isu yang sangat relevan sekarang. Tapi bahwa Jakarta Biennale berperan seperti itu sudah dilakukan sejak tahun 1990-an.

Dari kurasi Jakarta Biennale 2015 ini, apa yang membedakan dengan Biennale di kota-kota lain?

Image caption Seniman asal Bandung kelahiran 1961, Arahmaiani (kiri) memaparkan 'seni melawan budaya kekerasan' kepada mahasiswa di Jakarta Biennale 2015.

Pertama, sejak 2009, sejak Biennale menjadi skala internasional, kami memang bersepakat, memberi tekanan Jakarta Biennale lebih sebagai Biennale yang berbicara tentang kota, masyarakat kota, kehidupan masyarakat kontemporer di kota. Itu yang terus dibangun sejak 2009. Tahun 2009 dengan Arena, 2011 dengan Maximum City, 2013 kita ngomongin siasat atau taktik warga kota, dan sekarang kita membicarakan isu lingkungan dan sejarah.

Jadi sebenarnya dasarnya tentang pembacaan kota. Dan itu, menurut saya, akan terus difokuskan. Mungkin itu yang membedakan dengan Biennale lainnya. Dan ini membuat karakter Jakarta Biennale memiliki tawaran lain, tapi secara bersamaan kita tidak ingin itu terbatas tentang Jakarta saja.

Image caption Lima anak muda yang tergabung Jakarta Wasted Artists (JWA) berburu plang lawas di kawasan Tebet, Jakarta Selatan sebagai upaya pengarsipan.

Bisa dilihat seniman yang tampil di sini, ada dialog dengan seniman Istanbul, Sao Paulo, Buenos Aires. Lihat saja, kita tidak mencantumkan negara di belakang seniman, tapi nama kota. Menurut kami, ini lebih relevan. Kota sekarang lebih kritis, lebih relevan untuk dibicarakan ketimbang negara.

Sebagai orang yang sudah lama berkecimpung di dunia seni rupa, apakah menurut Anda setelah gerakan seni rupa baru tahun 1974, apakah ada temuan baru dari sisi estetika dari Biennale Jakarta 2015?

Image caption Konstruksi segi empat berdinding kawat besi adalah karya instalasi seniman Spanyol, Juan Perez Agirregoikoa, yang menyoroti tentang ketakutan akan pendatang dan nasionalisme sempit.

Ada fenomena baru dalam sekitar 10 tahun terakhir -yang tentu saja perlu dikritisi dan diapresiasi- yaitu karya-karya yang bekerja di ruang publik. Tidak hanya sebagai estetika seniman di ruang publik, tetapi dia bekerja sama dengan konteks ruang publik, misalnya sejarah, masyarakatnya di situ. Juga kerja-kerja berbasis komunitas, lalu ada percampuran antara kerja sosial dan estetik di wilayah itu. Itu juga menarik untuk dibahas secara estetika. Karena ketika kerja-kerja itu dibawa ke dalam ruang pameran, lalu dia akan berbentuk lain jika dibanding misalnya ketika kita datang atau bekerja di komunitas itu.

Dan saya perhatikan ada pula karya-karya yang memasukkan unsur-unsur arsitektural, yang menurut saya, ketika bicara kota, tentu saja arsitektur urban plant dan bagaimana hal itu menjadi satu elemen dalam kehidupan kota, itu menjadi sangat menarik untuk dibicarakan. Sebagian seniman masuk wilayah tersebut.

Tema estetika lainnya adalah bagaimana seniman membicarakan sejarah. Di sini menjadi menarik, karena bukan hanya bicara arsip dan kejadian yang menjadi masalah di masa lalu, tetapi seniman-seniman sudah saatnya mengkonklusi, menyimpulkan dan menyatakan fenomena sejarah itu.

Image caption "Menjamu Tamu" adalah judul lukisan cat minyak karya perupa asal Aceh, Iswadi Basri, yang berbicara tentang komersialisasi air."

Ini menarik, karena misalnya ada yang membicarakan kasus 1965, lalu seniman dari Aceh membicarakan apa yang terjadi di Aceh pada zaman Orba, itu saya pikir pernyataan yang keras. Bahkan kalau Anda pertama kali masuk, akan melihat karya perupa dari Yogyakarta, Setu Legi berjudul 'Indonesia terjual' dengan latar peta Indonesia. Kalau kita lihat, karya-karya mereka tidak lagi sebagai satir... hahaha. Saya yakin 100%n nggak bakal ada yang protes dan akan bilang setuju... hahaha. Ini menarik sudah terbuka seperti itu.

Akankah pola yang Anda gambarkan itu juga menjadi trend di negara-negara lain?

Image caption Seniman, menurut Ade Darmawan, antara lain berperan menantang perkembangan dan memberikan sesuatu yang baru.

Kecenderungannya, praktek-praktek itu memang ada, tapi untuk dibilang trend, saya pikir juga terlalu sedikit. Tapi, memang saat ini ada kecenderungan praktek-praktek seni rupa sangat lintas disiplin, sangat eksploratif. Itulah sebabnya, misalnya, banyak yang mengatakan, seniman (saat ini) kayak antropolog, sosiolog, periset, atau bahkan politikus, atau social worker. Ini tidak bisa diabaikan dan memang harus dikritisi terus-menerus. Tapi ini memang perkembangan dari seni rupa. Kita tidak bisa menahannya.

Banyak pengguna medium digital, itu salah-satunya. Kita tidak bisa menahan estetika seni rupa. Karena, ini bagian dari perkembangan masyarakat juga. Budaya akan terus berkembang, dan saya tidak tahu arahnya. Saya pikir seniman berperan di situ, menantang perkembangan, memberikan sesuatu yang baru, mempertanyakan lagi, memberikan sesutu yang lain, yang bahkan mungkin masyarakat belum siap atau tidak siap. Saya pikir dengan begitu, pikiran pengetahuan akan tumbuh dan berkembang, dan itu gunanya seni atau seniman.

Anda setuju jika ada yang mengatakan para seniman yang terlibat dalam Jakarta Biennale ini cenderung bertumpu pada konsep?

Ya dan tidak, tapi secara bagian besar, iya. Tapi saya pikir itu kecenderungan atau tantangan yang merupakan bagian dari tawaran seniman atau perupa kontemporer. Karena, kita bisa bayangkan, jika perupa hanya memproduksi citra visual. Sekarang, citra visual dahsyat sekali produksinya.

Satu hari saja bisa dibayangkan ada berapa produksi foto yang dikerjakan atau yang disebarkan oleh warga dunia. Atau kadang-kadang saya ngeledekin teman-teman seniman: kalau kita ngomongin seniman perannya adalah cuma memproduksi imaji atau citra visual, kita bisa kalah oleh alay-alay atau cabe-cabean. Itu gila-gilaan mereka. Mereka 'kan memproduksi visual juga. Kita bisa berdebat bahwa itu seni atau bukan, tapi bahwa sebagai ekspresi visual masyarakat kontemporer kita sekarang itu masif.

Pertanyaannya, apakah seniman memproduksi pernyataan seperti apa? Itu tantangan sangat menarik yang ada sekarang bagi perupa kontemporer.

Image caption Jakarta Biennale 2015 mewarisi gerakan seni rupa kontemporer 1974.

Dari analisa Anda, yang sudah lama menggeluti seni rupa, sekarang ini periode seni rupa Indonesia itu di posisi mana?

Sebetulnya menarik. Dalam beberapa tahun terakhir, tapi ini tidak hanya Indonesia, mungkin Asia Tenggara, bahkan Asia. Pada era global lokal, pada saat yang bersamaan banyak praktek lokal yang menarik, spekulatif, imajinatif, yang gila-gilaan, yang tertangkap oleh medan seni global.

Dan kita (seni rupa kontemporer Indonesia) cukup menjadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir. Katakanlah, soal praktek kurator. Walaupun kita tidak punya sekolah kurator, tetapi kita cukup lumayan menghasilkan kurator muda, medium, dan tua, jika dibanding banyak negara di Asia tenggara. Atau katakanlah jika dibanding Singapura, yang mempunyai sekolah kurator. Tapi kita ternyata inisiatif kita sangat kuat, misalnya ada 'sekolah-sekolah' yang diinisiasi oleh komunitas-komunitas telah menjadi sekolah-sekolah yang memproduksi seniman, praktisi, termasuk kurator.

Image caption Sejumlah mural karya lima seniman perempuan muda menghiasi tembok gudang Sarinah di kawasan Pancoran, Jaksel.

Ini menarik, karena akhir-akhir ini, di medan seni global, Barat sudah capek, cukup lelah, dan pada titik tertentu tidak terjadi adanya inovasi, dan museum-museum sudah berkarat -yang ditampailkan itu-itu juga. Lalu glorifikasi atau pasar sudah gila-gilaan, orang sudah capek. Mereka lalu melihat Indonesia atau Asia tenggara, sebagai laboratorium yang menarik buat mereka, karena banyak sekali tampilan yang bisa menjadi kontribusi dari Indonesia untuk medan seni dunia.

Apa konsep atau latar belakang yang mendasari Anda dan kawan-kawan membentuk komunitas Ruang Rupa (Ruru) pada tahun 2000?

Sebenarnya awalnya kita membutuhkan semacam ruang. Ini berawal pada awal 1990-an. Karena saya jadi mahasiswa ISI (Institut seni Indonesia) Yogyakarta, sudah bertemu dengan banyak seniman dan teman-teman dari IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Jadi, berbarengan dengan gerakan mahasiswa saat itu, mencoba mendobrak, sudah capek, marah dengan rezim Suharto.

Image caption Setu Legi dari Lembaga Budaya Kerakyatan Taring Padi berdiri di depan karyanya yang berjudul 'Masa Depan Tenggelam Dalam Masa Silam'.

Kita tidak sendirian, bersama banyak pihak. Jadi Ruru dapat dilihat sebagai pencanggihan dari gerakan itu, gerakan-gerakan yang gelisah, yang marah, ingin sesuatu yang baru dan bersaman dengan itu, kita membutuhkan ruang. Makanya kita buat Ruru pada tahun 2000.

Apakah latar pendirian Ruru tidak terlepas dari penolakan terhadap aktivitas seni rupa yang harus terpusat di Taman Ismail Marzuki,TIM?

Hahaha... Dulu sih iya. Kita dulu awal-awal menulis juga bagaimana pasar seni rupa. Tapi jika dibanding pasar seni rupa tahun 2000, sekarang jauh lebih besar... hahaha... Jadi, kita harus bekerja banyak lagi. Atau TIM dulu besar, tapi sekarang masih besar, masih birokratis, tapi juga pada tahun 2006, saya menjadi anggota Dewan kesneian Jakarta.

Hak atas foto jakarta biennale 2015
Image caption Di depan karya instalasi bambu (berjudul 'Manusia Asing') karya seniman Jonas Sestakresna, para perupa menggelar seni pertunjukan.

Jadi, perlawanan, atau gagasan-gagasan, atau motif-motif terhadap anti kemapanan, itu sudah jadi spirit yang terus ada, dan kehendak atau motif untuk jadi oposisi itu selalu ada, selalu kritis itu selalu ada. Itu selalu kita jaga juga.

Katakanlah, Ruru sekarang cukup besar sekarang dengan segala programnya yang sangat aktif. Itu juga kita lakukan otokritik.

Ketika tidak ada lagi pusat komunitas seni rupa, semua komunitas dapat melakukan eksplorasi, seperti kehadiran Ruru, Salihara, atau komunitas seni di Yogyakarta atau Bandung. Tapi, sebetulnya bagaimana dinamika di antara mereka saat ini?

Image caption Sejumlah mural karya lima seniman perempuan muda menghiasi tembok gudang Sarinah di kawasan Pancoran, Jaksel.

Seru. Saya pikir bisa dibilang mungkin masa yang lagi sangat dinamis. Karenanya, lalu yang menjadi menarik, adalah bagaimana kita berbagi peran. Peran kritisnya tentu saja selalu ada. Karena kita melihatnya ini sebagai ekosistem. Peran apa yang bisa dibagi, peran-peran apa yang bisa dilakukan, yang bisa saling memperkuat satu sama lain. Jadi, lebih ke unit-unit yang tersebar lalu bekerja dengan intens, dan terjalin hubungan melalui jaringan.

Kalau Anda mau jujur, Anda lebih sebagai perupa atau kurator?

Saya lebih sebagai perupa. Maksudnya, kalau pun saya mengkuratori, bahkan kadang memberi klas kurator, angle saya banyak sekali terpengaruh praktek seni rupa saya.

Anda sekarang tampaknya menekuni seni instalasi?

Saya sekarang, dalam beberapa tahun terakhir, lebih ke karya-karya yang berbasis instalasi, obyek cetak dan saya sering melakukan riset sejarah.

Dan Anda terakhir menggelar pameran tunggal di Frankfurt, Jerman. Apa tema yang Anda usung dalam pameran itu?

Itu banyak omongin soal sejarah kapitalisme di Indonesia.

Berita terkait