Unesco: Siswa negara miskin kekurangan buku pelajaran

Buku pelajaran Hak atas foto Unesco
Image caption Unesco mengatakan perlu ada cara yang lebih baik untuk membeli dan mendistribusikan buku-buku pelajaran.

Sejumlah siswa di negara-negara miskin menderita kekurangan buku-buku pelajaran, menurut laporan dari lembaga PBB di bidang pendidikan (Unesco).

Studi yang dilakukan oleh Unesco mencontohkan satu buku pelajaran dibagi 12 siswa di Kamerun.

Laporan tersebut menyerukan sistem pembelian buku-buku pelajaran yang lebih terpusat agar harganya terjangkau oleh mereka.

Direktur laporan Aaron Benavot mengatakan pengadaan buku-buku pelajaran adalah cara penting untuk meningkatkan standar di sekolah.

"Buku-buku pelajaran yang dirancang dengan baik dalam jumlah yang cukup adalah cara yang paling efektif untuk meningkatkan belajar siswa," kata Benavot, direktur Global Education Monitoring Report Unesco.

Laporan tersebut menunjukkan perlu dilakukan pendekatan dengan cara yang sistematis dalam proses pendistribusian buku-buku pelajaran sama halnya seperti program kesehatan masyarakat.

Hak atas foto Unesco
Image caption Buku-buku pelajaran individu akan menjadi cara langsung untuk meningkatkan literasi, kata laporan

"Kita harus belajar dari kesehatan dan membuat sebuah sistem baru sehingga buku-buku pelajaran dapat dibeli dengan murah dan efektif dari percetakan ke sekolah dan ke tangan anak-anak," kata Benavot.

Unesco mengatakan bahwa ratusan juta pound bisa diselamatkan oleh proses pengadaan yang terkoordinasi dengan baik.

Saat ini, sistem distribusi yang berbeda di seluruh dunia, yang artinya bahwa banyak murid tidak memiliki akses berarti untuk bisa membaca buku karena tidak ada dana, kurangnya transparansi tentang bagaimana uang dibelanjakan dan kegagalan dalam memprediksi permintaan.

Kurangnya ketersediaan buku-buku pelajaran dari sekolah berarti bahwa banyak keluarga yang harus membeli salinan buku tersebut, yang tidak akan terjangkau kalangan orang-orang miskin.

Unesco mengatakan bahwa di 12 negara-negara Afrika, membayar biaya sekolah menghabiskan sepertiga dari total pengeluaran rumah tangga.

Laporan ini memperingatkan bahwa meningkatnya jumlah murid-murid di negara-negara seperti Kenya, Malawi dan Namibia membuat keberadaan buku-buku pelajaran bahkan menjadi langka.

Ada peringatan tentang kurangnya pembelian buku-buku pelajaran oleh pemerintah, anggaran yang mereka gunakan untuk pembelian buku kurang dari 1%.

Studi Unesco mengklaim bahwa memberikan satu buku per siswa di negara-negara sub-Sahara Afrika akan meningkatkan nilai literasi antara 5% dan 20%.

Laporan ini menyoroti bahwa kurangnya buku-buku pelajaran tidak terbatas di negara-negara Afrika saja, mereka pun menemukan banyak murid-murid yang tidak mempunyai buku pelajaran atau harus berbagi di negara Paraguay dan Argentina.

Ada peringatan dari OECD bahwa jumlah bantuan luar negeri untuk negara-negara miskin jatuh menurun, karena mereka banyak mengalihkan bantuan internasional untuk krisis pengungsi Suriah.

Berita terkait