Harga minyak turun tajam, ekonomi Arab Saudi terancam?

Minyak Arab Saudi Hak atas foto Reuters
Image caption Arab Saudi belum berniat menurunkan produksi minyak mereka sekalipun harga terus turun.

Sejak bulan Juni 2014, harga minyak terus mengalami penurunan dan para analis sempat memperkirakan hal itu hanya terjadi untuk sementara.

Namun perkiraan itu salah, dan dewasa ini harga minyak mentah Brent masih berada di bawah US$50 per barrel, dan Arab Saudi harus bersiap untuk menghadapi kenyataan bahwa harga minyak berada di kisaran US$30.

Beberapa negara anggota organisasi pengekspor minyak dunia OPEC telah menyerukan pertemuan darurat untuk membahas soal ini, tetapi Arab Saudi menepis keinginan itu dan terus memproduksi minyak mentah.

Penurunan ini jelas berdampak terhadap ekonomi Arab Saudi yang sangat mengandalkan minyak bumi, tapi sejauh mana dampak tersebut?

Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), Saudi membutuhkan harga minyak pada tingkat sekitar US$105 per barrel agar APBN mereka tetap sehat.

Hak atas foto Reuters
Image caption Subsidi harga bensin dikurangi di Arab Saudi dan harga melonjak 50% dari harga semula.

Tahun lalu pemerintah Arab Saudi mengalami defisit anggaran US$98 miliar yang disebabkan oleh penurunan harga minyak dan investasi besar-besaran di sektor infrastruktur.

Pemotongan subsidi

Di luar faktor ekonomi, defisit juga disebabkan oleh faktor-faktor politis.

"Kebijakan geopolitik yang agresif di Timur Tengah juga memperburuk anggaran mereka," kata analis Daniel Mahoney dari Centre for Policy Studies kepada harian bisnis London, City AM.

Dampak defisit anggaan ini mulai terasa dalam berbagai hal, misalnya kenaikan harga bensin sebesar 50% yang dialami oleh penduduk Arab Saudi.

Pemotongan anggaran pada sektor publik juga akan dilakukan, berupa pemangkasan subsidi yang selama ini diberikan untuk layanan air dan listrik.

Hak atas foto AFP
Image caption Salah satu sumur bor milik Aramco, perusahaan negara yang rencananya akan diprivatisasi oleh pemerintah Saudi.

Total pemangkasan ini mencapai 14%, yang dinyatakan oleh analis Ian Stewart dari Deloitt sebagai kebijakan "radikal", seperti dikutip City AM.

Langkah lain yang akan diambil adalah rencana penjualan obligasi luar negeri sebesar US$27 miliar, yang akan menjadi lonjakan drastis dari utang luar negeri mereka sebesar US$4 miliar yang terakhir kali mereka lakukan pada tahun 2007.

Privatisasi juga tampaknya akan menjadi pilihan, dengan penjualan perusahaan minyak negara Aramco sebagai yang pertama akan ditawarkan kepada pembeli asing.

Dengan langkah-langkah ini, tampaknya Arab Saudi akan mengatasi krisis dengan langkah-langkah finansial, ketimbang melakukan pengurangan produksi minyak bumi.

Berita terkait