AriReda tiga dekade melagukan puisi

AriReda Menyanyikan Puisi Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Reda Gaudiamo dan Ari Malibu sudah tampil bersama sejak lebih dari 30 tahun lalu.

Tak dinyana, sudah lebih dari seperempat abad Reda Gaudiamo dan Ari Malibu berduet dalam apa yang sebagian besar penampilannya mereka sebut "musikalisasi puisi"

Bahkan sebetulnya, Reda dan Ari sudah berduet jauh lebih dahulu, untuk menyanyikan lagu-lagu balada yang baku.

"Awalnya, waktu mulai tampil bersama dulu, tahun 1982, kami diduetkan begitu saja, membawakan lagu-lagu seperti karya-karya John Denver," ungkap Reda.

Lima tahun kemudian, tahun 1987, mendiang penulis dan sutradara teater AGS Arya Dipayana menawari Reda untuk membawakan musik lain, yang oleh AGS Arya Dipayana waktu itu disebut "musikalisasi puisi."

"Saya sempat ragu-ragu," kata Reda. Tapi ya akhirnya mereka tampil juga, membawakan lagu-lagu berdasarkan sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, Toto Sudarto Bachtiar, dan Goenawan Mohamad, yang komposisinya disusun AGS Arya Dipayana.

Hak atas foto BBC INDONESIA

Setahun berikutnya, 1988, Reda kembali diajak tampil membawakan puisi, dan kali itu ia mengajak Ari, si kriting yang dulu diduetkan begitu saja.

Sejak itu, mereka pun jadi duet yang permanen, AriReda, yang hanya membawakan lagu-lagu yang disusun berdasarkan puisi, awalnya komposisi-komposisi lagu berdasar puisi itu kebanyakan disusun oleh AGS Arya Dipayana dan Umar Muslim.

Lepas dari apakah istilah itu sebetulnya tepat atau tidak, musikalisasi puisi itu, kata Ari Malibu, "adalah sebuah cara lain untuk menikmati dan menyampaikan puisi."

"Ada yang mendeklamasikannya, ada yang membacakannya, ada yang menampilkannya dalam aksi teatrikal. Dan kami melalui musikalisasi, melagukannya," tambah Ari bula.

"Ketika puisi-puisi itu disampaikan melalui lagu secara tepat, dan sampai pada publik dengan tepat, di situlah keberhasilannya," kata Ari.

Hak atas foto BBC INDONESIA

Reda, sebetulnya juga banyak menulis lirik lagu untuk penyanyi dan pecipta lagu lain.

"Tapi kalau untuk dinyanyikan sendiri, bersama Ari, saya lebih suka yang dari puisi-puisi karya para penyair itu. Hahaha," Reda tertawa.

Bagaimana mereka menentukan puisi-puisi mana yang 'dimusikalisasi?'

"Ada puisi-puisi yang seperti, kata-katanya itu bernada. Sudah bermelodi. Tinggal kita lanjutkan saja," kata Ari Malibu, gitaris duet ini.

Namun, sejauh ini banyak lagu-lagu mereka yang diciptakan oleh seniman lain, khususnya Umar Muslim dan mendiang AGS Arya Dipayana, sutradara Teater Tetas yang tergolong salah satu yang pertama menggulirkan pementasan-pementasan 'musikalisasi puisi.'

Hak atas foto BBC INDONESIA

Adapun bagi Reda, yang memang penulis dan wartawan, dan penyuka puisi, "Tidak semua puisi enak dibikin lagu. Bahkan puisi pendek dan liris pun bisa jadi enak dibaca tapi belum tentu enak dibuat lagu," katanya.

"Tapi ada puisi-puisi yang seperti memanggil untuk dibuat lagu. Seperti berloncatan begitu saja nada-nada dari kata-kata di puisi-puisi itu," papar Reda sambil tangannya bergerak memperagakan, dan matanya berbinar-binar, mukanya berseri-seri.

Hak atas foto BBC INDONESIA

"Misalnya, Gadis Kecil, karya Sapardi Djoko Damono," Reda berkisah.

"Membacanya, saya merasa terbawa begitu saja. Dan langsung saja terbayang, suasananya, melodinya -bagai ada film yang bermain di kepala saya. Dan ambil gitar, lagunya pun langsung jadi, kurang dari 10 menit," kisah Reda.

'Gadis Kecil' pun menjadi judul dari album kedua Ari Reda, yang berisikan 11 komposisi lagu yang didasarkan sajak-sajak Sapardi Sjoko Damono.

Dalam lebih dari 25 tahun perjalanannya, Ari Reda sudah memusikalisasi puluhan puisi, karya berbagai sastrawan seperti Abdul Hadi WM, Hartojo Andang Jaya, Joko Pinurbo, Acep Zamzam Noor, Goenawan Mohamad, dan khususnya Sapardi Djoko Damono.

Dan, kata Reda Gaudiamo, "kami memiliki semacam kedekatan khusus dengan sajak-sajak Pak Sapardi."

Hak atas foto BBC INDONESIA

"Sajak-sajak itu Sapardi terasa liris, menyentuh, sederhana." Sehingga sebagian besar dari kompoisisi mereka didasarkan apda karya-karya Sapardi.

Seberapa puas Sapardi sendiri terhadap apa yang dilakukan Ari Reda -dan para komposer mereka terhadap sajak-sajaknya?

"Oh, senang sekali," kata Sapardi, sambil melayani belasan orang yang meminta tanda-tangan di TIM malam itu.

"Mereka menyanyikan sajak-sajak saya jadi lebih indah daripada kalau saya bacakan sendiri," katanya sembari tertawa.

"Tetapi sebenarnya, apakah saya senang atau tidak, ya tidak penting. Karena ketika dibuat lagu, sajak-sajak itu sudah menjadi karya seni yang lain. Sudah menjadi karya mereka. Memang begitu," tambah Sapardi.

Hak atas foto BBC INDONESIA

Betapa pun, dalam pengalaman Ari Reda, pernah mereka membuat komposisi yang mereka sangka tidak disukai Sapardi.

"Saat itu, untuk sebuah pentas apresiasi sastra, kami memutuskan untuk menampilkan sajak itu dengan musik rock, dengan gitar yang menyayat. Tapi, saya merasa, Pak Sapardi kurang suka. Hahaha!"

Sejauh ini setidaknya sudah tiga album 'Musikalisasi Puisi,' mereka terbitkan: Becoming Dew, Gadis Kecil, dan terakhir, Menyanyikan Puisi."

Tetapi untuk perjalanan 28 tahun, tentu bukan produktivitas yang terlalu tinggi. Bisa dimaklumi, karena publik mereka yang cukup khusus. Mereka pun kukuh pula pada pilihan jenis dan bentuk musik yang jauh dari riuh. Yang dalam konser pun, akan bisa dianggap pasif: hanya duduk brdua di tengah panggung sepanjang konser.

Namun tak berarti mereka hanya ditonton oleh kalangan yang sudah menonton sejak 1988 -saat pertama kali menyanyikan puisi.

Cukup banyak penonton baru. Misalnya Nanda, seorang perempuan di awal 20an.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

"Wah, luar biasa. Saya kayak tersihir, dari awal sampai akhir," kata Nanda, usai menyaksikan konser AriReda Menyanyikan Puisi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, akhir bulan Januari lalu. "Sederhana, tapi unik dan menyentuh," katanya lagi.

Begitu pun Kornelius, asal Malang, yang kebetulan sedang di Jakarta saat itu. "Saya beruntung mendapatkan tiketnya," katanya.

Kornelius dan Nanda, sebagaimana sebagian penonton dua malam konser itu, belum lahir, ketika Reda Gaudiamo dan Ari Malibu tampil berduet pertama kali, tahun 1982. Tapi keduanya mengaku bahwa sebagai anak muda yang penuh semangat, dalam situasi yang begitu cepat dan tergesa-gesa sekarang, lagu-lagu AriReda memberikan sentuhan tersendiri buat perasaan mereka.

Di dunia musik, AriReda bisa jadi bukan duet yang terlalu populer, penggemar mereka mungkin jumlahnya tak seraksasa bintang-bintang pop, dan lagu-lagunya mungkin tidak terlalu sering diputar di radio-radio, misalnya. Namun tak bisa disangkal, AriReda memiliki publik sendiri, dan mewarnai musik Indonesia, dengan perlahan, liris. Dan dengan lirih.

------------------

Silakan menyimak perbincangan dan penampilan AriReda dalam konser AriReda Menyanyikan Puisi di program Seni Budaya BBC yang disiarkan melalui radio-radio mitra BBC Indonesia, Jumat 12 Februari 2016, mulai pukul 05.00 dan pukul 06.00 WIB.

Berita terkait