Dikecam, penolakan Apple untuk bongkar iPhone penyerang San Bernardino

Lee Rigby Hak atas foto PA
Image caption Lee Rigby dibunuh para militan di sebuah jalanan di london, tahun 2013.

Keluarga Lee Rigby, prajurit Inggris yang dibunuh kaum ekstrimis pada tahun 2013, mengecam Apple yang menolak perintah pengadilan untuk membongkar iPhone milik terduga teroris.

Hari Rabu (17/2), Apple mengatakan memodifikasi perangkat lunak untuk membantu FBI mengakses data pada telepon genggam Syed Rizwan Farook, pelaku serangan San Bernardino, bisa menjadi "berbahaya".

Paman Rigby, Ray McClure mengatakan perusahaan itu "melindungi privasi pembunuh dengan mempertaruhkan keselamatan publik."

Tapi sejumlah pegiat perlindungan privasi menyatakan dukungan pada sikap raksasa teknologi itu.

Para pejabat AS mengatakan Malik menyatakan kesetiaan pada apa yang disebut Negara Islam atau ISIS di media sosial pada hari penembakan.

'Pandangan sempit'

Pengadilan memerintahkan Apple untuk membantu FBI mengakali perangkat lunak keamanan pada iPhone Farook, yang disebutkan oleh FBI mengandung informasi-informasi penting.

Tetapi perusahaan mengatakan menolak perintah pengadilan dan mengajukan banding, dengan alasan tindakan itu "akan merupakan preseden yang berbahaya."

McClure, paman dari Lee Rigby yang dibunuh oleh dua ekstrimis Islam di bulan Mei 2013, mengatakan sikap Apple itu didasari "pandangan sempit."

Hak atas foto reproducao
Image caption Setiap iPhone kini dilengkapi sistem pengaman yang hanya bisa dibuka oleh kode penggunanya sendiri.

"Bukti sangat penting berada dalam smartphone itu, dan Apple menolak FBI untuk mengakses informasi itu," katanya kepada BBC.

"Jika pengadilan bisa mengeluarkan surat perintah untuk menggeledah rumah di Inggris atau Amerika Serikat, kita tak akan menghalanginya, dan akan membiarkannya. Jadi mengapa telefon pintar diperlakukan berbeda?"

"Jika Tim Cook (kepala eksekutif Apple) tidak memiliki simpati bagi teroris, mengapa ia menghalangi FBI mengakses catatan telepon itu?"

Dalam sebuah surat terbuka pada hari Rabu, Tim Cook mengatakan Apple selalu bekerja sama dalam penegakan hukum.

"Ketika FBI membutuhkan data yang kami miliki, kami memberikannya," tulisnya.

"Para insinyur Apple juga selalu sedia membantu FBI ... Kami telah bekerja keras untuk mendukung upaya pemerintah dala memecahkan kejahatan mengerikan ini. Kami tidak memiliki simpati untuk teroris."

Hak atas foto AP
Image caption Pimpinan Apple, Tim Cook beralasan, perintah pengadilan itu akan mengancam keamanan konsumen.

Melupakan korban

Perusahaan itu mengatakan akan menentang perintah pengadilan, karena menciptakan 'jalan belakang' untuk menerabas sistem operasinya itu "terlalu berbahaya."

Tapi menurut McClure, perusahaan-perusahaan teknologi melupakan korban kejahatan, beserta keluarga dari mereka yang tewas.

"Saya akan sangat benci membayangkan terjadinya lagi pembunuhan lain di jalanan London seperti yang terjadi pada Lee Rigby, saya akan benci membayangkan terjadinya serangan seperti apa yang terjadi di Paris.'

"Berapa banyak korban kejahatan itu yang tak dipenuhi keadilannya karena sikap Apple?"

Bukan sekadar baca pesan

Namun para pegiat perlindungan privasi mendukung sikap Apple.

"Cara seperti itu mengesampingkan keselamatan semua orang dan mengancam hak-hak privasi kita," kata Sherif Elsayed-Ali dari Amnesty International.

"Ini bukanlah tentang membaca pesan dari seorang teroris -ini tentang bagaimana hal ini bisa disalah-gunakan untuk kepentingan lain."

Hak atas foto AP
Image caption Syed Ridwan Farook dan Tashfeen Malik, dua penyerang yang 'terinspirasi' oleh ISIS.

Bulan Desember 2015, Farook dan istrinya, Tashfeen Malik, membunuh 14 orang dalam serangan di California yang terinspirasi oleh kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.

Sejak bulan September 2014, data pada peranti Apple terbaru -seperti pesan SMS dan foto- akan mengunci secara langsung.

Dan jika alat tersebut dikunci, hanya kode pengguna yang dapat dipakai untuk mengakses data. Jika telah sepuluh kali salah kode, secara otomatis semua data bisa terhapus.

Apple mengatakan stafnya sendiri bahkan tidak bisa mengakses data.

Berita terkait