Twit Tifatul Sembiring picu debat soal Islam, homoseksualitas, dan ISIS

rainbow flag Hak atas foto Reuters

Sebuah kicauan dari mantan Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, dituding menyerukan kekerasan, dan mengangkat debat terkait ujaran kebencian, agama, homoseksual, hingga kekejaman ISIS di Twitter. Sejauh mana suatu hadist bisa menjadi dasar atas kekerasan dan pembunuhan?

Ini dimulai dari twit Tifatul Jumat (26/02) pagi yang mengutip Hadist Riwayat Ahmad.

Hak atas foto TWITTER

Kutipan tersebut memicu reaksi keras dari pengguna media sosial. Banyak yang mempertanyakan mengapa Tifatul mengutip hadist tersebut mentah-mentah karena dianggap menyerukan kekerasan.

"Oh membunuh itu pidana Pak," kata satu pengguna. Lainnya menulis, "(Lalu) apa bedanya Anda dengan teroris?"

Pengguna dengan akun ‏@andienas, kemudian merespons dengan mengutip ayat Al-Quran. "Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. QS. Al-Maaidah. 8."

Ada sejumlah pengguna membela Tifatul, tetapi kebanyakan menilai apa yang dilakukan politisi PKS itu tergolong ujaran kebencian yang bisa dijerat hukum.

Hak atas foto TWITTER

Tifatul tampaknya cukup terganggu, dan menyerang balik dengan mempertanyakan: mengapa harus digolongkan sebagai ujaran kebencian karena twit itu merupakan hadist nabi?

Dia bahkan berkelit dengan membuat kuis...

Hak atas foto TWITTER

Namun, satu pengguna Facebook berpendapat lain, "mengutip hadist itu nggak boleh sembarangan. Jika dipakai untuk pembenaran ajakan kekerasan, bisa saja itu termasuk penistaan agama."

Perdebatan tidak berhenti sampai di situ dan meluas ke ranah politik. Politisi PDI Perjuangan, Budiman Sudjatmiko, misalnya mempertanyakan pernyataan politisi PKS itu ke pimpinan rekan koalisinya, Prabowo Subianto dari Gerindra.

Hak atas foto TWITTER

Akhmad Sahal, peneliti kajian Islam yang tinggal di Amerika Serikat kemudian menulis rangkaian twit untuk menunjukan apa yang keliru dari tindakan Tifatul.

Melalui akun @sahaL_AS, dia mengatakan bahwa hadist yang dikutip Tifatul merupakan dasar kelompok militan ISIS untuk menghukum mati kaum LGBT dengan menjatuhkannya dari gedung bertingkat.

"Tapi ISIS pakai hadist itu dengan tanpa paham falsafah hukum Islam tentang hukum pidana. Pak @tifsembiring setuju dengan hukuman brutal ISIS itu?" katanya.

Hak atas foto TWITTER

"Memetik satu dua hadist ahad untuk hukum pidana itu seperti orang bodoh tentang kedokteran, hanya baca manual kedokteran, terus merasa jadi dokter," simpul Sahal. "Dengan kata lain, memetik satu dua hadist tanpa (me)ngerti prinsip-prinsip hukum Islam jadinya MALPRAKTEK hukum Islam."

Hadist Ahad, disebutkan dalam cuitan Ahmad Sahal, adalah hadist yang bersifat 'kemungkinan berasal dari Nabi,' berbeda dengan Hadist Mutawatir, yang dipastikan 100% benar dari Nabi.

Hadist Ahad itu terdiri dari tiga: sahih, hasan, dlaif.

"Nah karena hadits ahad itu sifatnya dzanniy (probable), maka Ulama sangat hati-hati untuk memakainya dalam soal PIDANA," tulis Sahal pula.

Lalu apa tanggapan Tifatul? Ia berusaha menangkis kesamaan semangat twitntya yang memicu reaksi itu dengan retorika dan tafsir Islam yang dipraktikan ISIS.

Hak atas foto TWITTER

Perdebatan pun marak di Twitter dan kata kunci Tifatul dan Tiffie (panggilan netizen untuk mantan menkominfo itu) masuk dalam topik populer.

"Dan umat Islam berkata citra mereka dirusak pihak luar. Padahal twit-twit Tiffie lebih merusak. Hukum Islam tegas, tapi Allah maha Penyayang," kata akun ‏@edykhemod.

Pun, Nosa Normanda dengan akun ‏@wonderguitar menyimpan cemas, "Deg-degannya twit @tifsembiring sudah terlanjur nyebar, follower-nya banyak. Ada yang mati apa dia mau tanggung jawab?"

Sementara itu...

Hak atas foto TWITTER

Berita terkait