Para penyelam 'menyelamatkan' dugong yang diikat di Maluku Utara

Media playback tidak ada di perangkat Anda

#TrenSosial: Dua dugong yang dikurung oleh nelayan di Pulau Kokoya, Maluku Utara, akhirnya dilepas setelah sekelompok penyelam menyebar video dugong itu di media sosial.

Galuh Riyadi, 31, dan sejumlah penyelam dari Eclipse Dive mendapat informasi tentang dugong yang dikurung tanpa sengaja dari seorang anak yang tinggal di pulau itu pada akhir pekan lalu.

"Ada dua dugong yang diletakkan di dua jaring yang berbeda, yang satu kecil tidak diikat, dan yang besar kira-kira dua meter lebih itu diikat buntutnya. Badannya luka-luka dan buntutnya pun hampir putus karena gesekan dari ikatannya itu," katanya kepada BBC Indonesia.

Mereka sudah mencoba untuk berbicara pada nelayan dan meminta agar dugong itu dilepas, namun Galuh mengatakan mereka tidak yakin hewan terancam punah itu rela dilepaskan.

"Karena Sabtu kita harus kembali ke Ternate, kami lepas informasi itu di media sosial dan mention Ibu (Susi Pudjiastuti)."

Mereka mengunggah video dan foto dugong ke Instagram, Facebook, dan Twitter sehingga mendapat perhatian pengguna. "Kejam sekali," kata satu pengguna Instagram. Lainnya mengatakan, "Tidak bisa dipercaya, orang bisa begitu kejam."

Para penyelam yang berbicara pada nelayan mengatakan dugong tersebut ditangkap karena merusak jaring, namun kemudian mereka menduga dugong itu juga dikomersilkan. "(Sekitar Rp10.000 untuk lihat dan Rp150.000 untuk ambil foto," tambah Galuh.

Hak atas foto TWITTER

Kicauan mereka akhirnya ditanggapi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dugong kecil dilepaskan pada Minggu (13/03) sementara dugong yang besar dilepas satu hari setelahnya.

Indikator ekosistem sehat

Dugong yang dikenal juga dengan sebutan duyung atau sapi laut adalah mamalia laut langka yang bisa ditemukan di Laut Sulawesi, Maluku, dan Sumatera, kata Benevica ketua Jakarta Animal Aid Network (JAAN).

"Karakternya jinak dan bersahabat. Keberadaan dugong bisa menjadi indikator bahwa laut bersih, tidak terkontaminasi dengan limbah," katanya. "Kami ingin nelayan ikut serta menyelamatkan mamalia laut ini karena keberadaannya (justru) mendukung kegiatan nelayan."

Galuh mengatakan respons dari pemerintah memberinya harapan. "Kami yang muda (sebelumnya) menganggap pemerintah tidak peduli, boro-boro terhadap alam, sama manusianya juga kadang tidak peduli. Lewat kejadian ini, kami sadar masih banyak harapan untuk menyelamatkan alam Indonesia dan lautnya."

Dia juga berpendapat edukasi adalah salah satu kunci untuk menyelamatkan spesies laut.

"Awalnya sempat kesal dengan nelayan itu, tetapi edukasi yang diberikan pada nelayan (nyatanya) kurang. Mungkin saja mereka tidak tahu itu binatang langka, buat mereka itu ikan biasa. Edukasi dari pemerintah dan masyarakat sangat kurang sih."

Berita terkait