Eka Kurniawan membangun narasi di kepala

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Eka Kurniawan ketika peluncuran novelnya terbaru berjudul "O" di Jakarta, Sabtu (20/03) lalu.

Eka Kurniawan adalah novelis Indonesia pertama yang karyanya masuk dalam nominasi penghargaan literatur bergengsi Man Booker International Prize 2016.

Novelnya Lelaki Harimau atau Man Tiger bersanding bersama belasan novel karya tersohor dunia, seperti penulis Jepang, Kezaburo Oe, Turki (Orhan Pamuk), Korea Selatan (Han Kang), Italia (Elena Ferante), atau Prancis (Marie NDiaye).

Man Booker sering disebut penghargaan prestisius terhadap karya sastra yang posisinya satu tingkat di bawah penghargaan Nobel sastra.

Pria kelahiran Tasikmalaya tahun 1975 ini mengaku kaget saat namanya masuk dalam nominasi.

Hak atas foto Eka Kurniawan
Image caption Novelnya Lelaki Harimau (2004) atau Man Tiger bersanding bersama belasan novel karya tersohor dunia, seperti penulis Jepang, Kezaburo Oe, Turki (Orhan Pamuk), Korea Selatan (Han Kang), Italia (Elena Ferante), atau Prancis (Marie NDiaye).

"Saya sampai tidak tahu harus berkomentar apa," ujarnya dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, untuk rubrik Bincang BBC Indonesia.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Wawancara berlangsung setelah acara peluncuran novelnya terbaru yang berjudul 'O', Sabtu (20/03) malam, di sebuah toko buku di pusat perbelanjaan di Jakarta.

Wawancara berlangsung setelah acara peluncuran novelnya terbaru yang berjudul 'O', Minggu (13/03) malam, di sebuah toko buku di pusat perbelanjaan di Jakarta.

Apa yang membedakan novel terbarunya dengan novel-novel sebelumnya? Mengapa dia acap menyebut novelis Norwegia, Knut Hansum? Dan apa yang melatari dia menghindari media sosial? Berikut petikan wawancaranya:

Apa yang membedakan novel baru Anda ini dengan novel-novel Anda sebelumnya?

Ada beberapa hal yang masih tetap, misalnya, cara saya menulis yang relatif biasanya lebih visual, penggunaan flashback, misalnya. Tapi ada beberapa hal yang baru, misalkan, saya pertama kali menulis novel dalam bentuk fabel. Binatang-binatang bicara benda-benda seperti revolver, kaleng sarden. Itu sesuatu yang di novel-novel saya sebelumnya tidak begitu muncul.

Apa yang Anda rasakan ketika nama Anda masuk dalam nominasi Man Booker International Prize 2016?

Hak atas foto Eka Kurniawan
Image caption Sejauh ini, Eka telah menulis empat novel yaitu Cantik Itu Luka (2002), Lelaki Harimau (2004), Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014), serta O (2016).

Satu sisi sangat senang, sisi lain sangat mengejutkan. Saya sampai tidak tahu harus berkomentar apa.

Dan apakah sejak awal Anda berambisi untuk masuk dalam nominasi itu?

Enggak juga sih. Awalnya, saya biasanya nulis untuk beberapa teman sekitar. Waktu pertama saya menulis tahun-tahun 2000, sering kali saya foto copy dan saya bagi-bagikan kepada teman-teman sendiri saja. Dan sampai sekarang, saya menulis dengan memikirkan tentang siapa teman saya yang akan membaca, atau adik saya, atau siapa ya. Pada dasarnya, saya lebih banyak membayangkan orang-orang dekat saja yang membaca.

Anda menyebut novelis Norwegia Knut Hansum berpengaruh besar dalam perjalanan kepenulisan Anda. Mengapa?

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Eka Kurniawan mengaku sempat putus asa ketika sejumlah penerbit menolak novelnya ketika di awal-awal menekuni dunia menulis.

Sebenarnya ketika saya membaca novel Knut, terutama novel Lapar, yang bercerita tentang penulis pemula yang pergi ke ibu kota Norwegia. Dia hidup berjuang sebagai penulis, sampai dia kelaparan. Ketika saya membacanya, saya merasa, yang awalnya menulis sebagai hobi, tiba-tiba saya merasa mendapatkan sesuatu yang - entahlah apa namanya - tiba-tiba saya merasa ingin menjadi penulis.

Artinya, novel itu yang menggerakkan saya menjadi penulis secara serius. Sejak membaca novel itu, saya memutuskan untuk menjadi penulis.

Anda pernah bercerita bahwa novel-novel Anda pernah ditolak oleh sejumlah penerbit. Di titik mana Anda memutuskan untuk tetap menjadi penulis, karena Anda pernah mengaku sempat frustasi karena penolakan itu?

Novel saya ditolak itu pada awal-awal, terutama novel Cantik itu Luka. Sebelum novel ini, saya pernah menerbitkan dua buku. Yang satu skripsi tentang Pramudya Ananta Toer, dan satu lagi kumpulan cerita pendek yang halamannya sangat tipis.

Hak atas foto Eka Kurniawan
Image caption Novel-novel Eka Kurniawan telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Ketika saya menerbitkan Cantik itu luka sangat tebal, yaitu 500 halaman. Kemudian saya tawarkan kepada empat atau lima penerbit, dan semuanya menolak dengan alasan berbeda-beda. Salah-satu diantaranya bilang 'kami sebetulnya tertarik, tapi kayaknya takut novel setebal itu untuk seorang penerbit pemula'.

Di satu sisi, itu membikin saya putus asa, tapi di sisi lain itu memberi semacam keberanian. Mungkin belum saatnya (menjadi penulis), ya, sudahlah. Toh saya masih muda. Waktu itu saya berumur antara 24 dan 25 tahun. Saya pikir, saya masih lajang, masih tidak punya tanggungan, jadi saya terus saja menulis sampai satu titik, terus saya gagal, terus gagal, saya coba memikirkan karir yang lain, ha-ha-ha...

Anda pernah menulis bahwa penulis Irlandia James Joyce lebih mengedepankan pencarian bahasa, sementara penulis Jorge Luis Borges lebih menitikberatkan pada pencarian gagasan. Ketika ada dua pendekatan seperti itu, di mana kecenderungan Anda?

Hak atas foto Eka Kurniawan.com
Image caption "... Saya senang mencari buku-buku yang orang enggak terlalu membacanya, karena bagi saya itu sesuatu yang kadang-kadang mengejutkan," kata Eka Kurniawan.

Kecenderungan saya mungkin lebih dekat ke gagasan. Saya sedikit bermain-main dengan bahasa, tapi saya rasa tidak seliar James Joyce. Karena, pertama, barangkali karena saya melihat novel sebagai pendekatan dari cerita, dari gagasan. Karena barangkali latar belakang saya suka membaca novel-novel genre seperti cerita silat, cerita horor yang dasarnya memang cerita. Mereka relatif berbahasa dengan baik, tapi tidak eksploratif dalam soal bahasa. Sangat berbeda dengan, katakanlah James Joyce atau William Faulkner.

Benarkah Anda cenderung lebih suka membaca novel-novel karya orang asing ketimbang karya novelis Indonesia?

Sebenarnya tidak juga. Saya masih membaca cerita-cerita silat, cerita horor (karya penulis dalam negeri). Barangkali tidak terlalu kelihatan saja. Karena saya senang mencari buku-buku yang orang enggak terlalu membacanya, karena bagi saya itu sesuatu yang kadang-kadang mengejutkan. Kadang-kadang saya lebih sering beli buku (berbahasa) Indonesia di toko buku online, yaitu buku lama yang tidak diterbitkan lagi.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption "... Kecenderungan saya mungkin lebih dekat ke gagasan. Saya sedikit bermain-main dengan bahasa, tapi saya rasa tidak seliar James Joyce..." ungkap Eka Kurniawan.

Saya menikmati cerpen-cerpen karya Danarto, Budi Darma, bahkan novel hiburan tentang agen rahasia Indonesia yang sangat lucu. Itu saya baca dan sangat menghibur. Itu tidak banyak orang tahu. Itu seperti kita pergi ke hutan, terus kita menemukan suatu tempat di mana ada buah-buahan, di mana orang tidak tahu, sehingga saya memakannya sendiri.

Masih soal novel karya orang asing. Apakah Anda membacanya karena dari karya mereka, Anda menemukan banyak kebaharuan?

Tentu saja. Itu dunia yang sangat relatif berbeda. Saya juga membaca penulis-penulis asing, dan biasanya menghindari buku-buku yang sudah terlalu dikenal atau mainstream. Kalau saya mau jujur, saya sangat jarang membaca, misalnya, penulis yang aslinya menulis dalam bahasa Inggris. Karena mereka terlalu populer dan terlalu umum dan, meski satu-dua novelnya masih saya baca, terutama yang klasik, tetapi biasanya saya punya minat khusus terhadap novel dengan latar bahasa atau kebudayaan yang sangat spesifik. Misalnya saya membaca novel-novel dari Eropa Timur, bahkan Asia.

Dalam proses Anda berkreasi, dalam situasi seperti apa, gagasan Anda gampang mengalir sehingga Anda nyaman menulis?

Hak atas foto Eka Kurniawan.com
Image caption Salah-satu novel karya Eka Kurniawan, Cantik itu luka (2002) yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris untuk versi India.

Tentu saja ketika saya tidak terlalu memikirkan rutinitas, ketika saya bisa duduk dengan buku. Biasanya saya bisa berpikir ketika saya membaca, atau duduk melamun. Membaca itu pada dasarnya kita mengikuti narasi yang ditulis di buku itu, dan pada dasarnya otak kita ikut membuat narasi baru yang berbeda. Ketika kita membaca alurnya begini, kita bertanya 'kenapa tidak begini, begini'. Jadi kita kemudian menciptakan alur-alur baru ketika kita sambil membaca, kita sambil berpikir. Ini situasi yang sangat mengasyikkan.

Dalam proses menulisnya, misalnya seratus jam menulis, saya mungkin menulis hanya sepuluh jam, sembilan jam. Sisanya itu lebih banyak melamun, membangun narasi atau ceritanya di dalam kepala.

Dari empat novel Anda, mana yang paling membuat Anda terkesan?

Kalau ditanya sampai titik itu, biasanya ada dua hal. Pertama, saya relatif belum puas dengan keempat novel saya. Tetapi kalau ditanya tingkat kepuasan, ya, akan selalu berubah-ubah. Artinya, itu sesuatu yang berkembang.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Eka Kurniawan bersama anak dan istrinya.

Kalau saat ini, kalau saya menulis kembali, saya kecil kemungkinan menulis seperti Cantik itu Luka, karena situasi berubah dan pengalaman sudah berubah. Tetapi novel terbaru saya (yang berjudul 'O') adalah novel yang paling saya inginkan sekarang. Ya, novel terbaru itu relatif lebih dekat dengan apa yang ingin saya lakukan.

Nama Anda sekarang dikenal dan banyak disebut. Media asing bahkan mengapresiasi novel-novel Anda. Apakah Anda berubah dengan situasi seperti ini, dan apakah Anda menjadi terbebani?

Kalau beban barangkali tidak terlalu saya pikirkan, karena saya senang menulis. Kedua, karena saya lebih merasa sebagai pembaca, dan barangkali karena terlalu banyak membaca, saya merasa harus menulis.

Sampai saat ini, satu-satunya yang saya nikmati adalah ketika saya memiliki waktu untuk membaca, ketika semakin bertemu banyak orang.

Kadang bicara dan mengobrol dengan orang lain, saya bisa mendengar apa yang mereka baca sekarang, serta rekomendasinya agar saya membaca buku yang awalnya saya tidak tahu sama sekali. Itu membuat pengalaman baru yang sangat menyenangkan.

Dalam beberapa kesempatan Anda menjauhi media sosial. Anda serius mengutarakan hal itu?

Sangat serius, karena saya rasa saya lebih nyaman berada di di rumah, ketemu dengan orang. Ketemu orang secara nyata, riil, yang bisa saya ajak mengobrol.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Eka Kurniawan bersama seorang penggemarnya dalam acara tanda tangan dalam novelnya 'O' yang baru diluncurkan.

Kadang-kadang saya lebih senang kalau malam hari, ketika saya capek dan anak saya tidur, saya memilih keluar rumah, duduk di warung Indomie. Biasanya warung Indomie itu pemiliknya orang Sunda, sehingga saya bisa mengingatkan diri sendiri untuk bicara dalam bahasa Sunda. Di sini (Jakarta) saya sering menggunakan bahasa Indonesia, kecuali bila bicara dengan ibu saya, saya menggunakan bahasa Sunda. Tapi di warung Indomie, saya ngomong bahasa Sunda, mendengarkan dia bercerita.

Saya rasa ini sesuatu yang lebih penting buat seorang penulis untuk mendengar orang lain becerita yang tidak akan kita temukan di tempat lain.

Anda disebutkan menghindari media sosial karena kecenderungannya pada budaya komentar yang cukup menganggu Anda?

Buat saya, ketika ada hasrat untuk mengomentari sesuatu, kemudian orang lain mengomentarinya lagi, kita merasa tergerak untuk terus berkomentar. Akhirnya ini sebuah percakapan nyaris tanpa jeda untuk kontemplasi, untuk diam, bahkan untuk klarifikasi. Kadang-kadang ada berita yang disebarkan, dan kita membaca beberapa baris, serta seolah kita percaya, dan sama sekali tidak ada klarifikasi, tanya balik, atau tidak mencari sumbernya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption "Buat saya, ketika ada hasrat untuk mengomentari sesuatu, kemudian orang lain mengomentarinya lagi, kita merasa tergerak untuk terus berkomentar. Akhirnya ini sebuah percakapan nyaris tanpa jeda untuk kontemplasi, untuk diam, bahkan untuk klarifikasi," kata Eka Kurniawan.

Saya merasa itu bukan dunia saya. Saya lebih baik membaca buku, riset, bicara dengan orang. Kalau ada sesuatu, misalnya kita tidak setuju, kita bisa melihat ekspresi kenapa dia tidak setuju, kenapa kita berbeda. Ketika berhadapan dengan orang, kita bisa tahu, bahkan bisa lebih rileks.

Anda relatif tidak bersinggungan dengan penulis lain atau komunitas sastra yang ada. Apakah Anda sengaja menjauhinya?

Mungkin lebih tepatnya, saya tidak terlalu banyak bicara, atau tidak terlalu banyak berkomentar, tapi kalau berhubungan setiap minggu, saya ketemu dengan teman-teman penulis, ngopi bareng, ngobrol, tetap berhubungan, meski jarang komentar, ha-ha-ha...

Anda sengaja membatasi berkomentar?

Mungkin lebih sedikit membatasi karena saya rasa hidup saya tidak hanya urusan menulis. Saya punya banyak lingkaran-lingkaran pertemanan yang berbeda, saya punya teman-teman masa sekolah, teman-teman kuliah. Saya rasa, saya menjalani hidup yang lebih variatif saja, ha-ha-ha...

Apa arti menulis bagi Anda?

Saya rasa ada dua hal. Pertama, menulis sebagaimana kenapa manusia itu menulis, yaitu karena kita ingin mencatat sesuatu lantaran kita takut itu terlupakan. Kita mencatat segala, itu tradisi menulis secara umum. Para jurnalis, penulis, sejarawan, semua menulis sesuatu yang kita harap tidak terlupakan.

Kedua, tentu saja, untuk berbagi gagasan, bahkan berbagi perasaan, pikiran, bahkan kekhawatiran. Artinya, satu manusia, satu individu berbagi dengan individu lain, satu bangsa dengan bangsa lain. Saling berbagi.

Berita terkait