Peluang bisnis katering di era daring

Menu katering sehat Hak atas foto Clean Cookery
Image caption Menu makanan sesuai diet paleo yang dibuat Clean Cookery.

Bisnis katering memang sudah ada sejak lama, tapi kini usaha ini menjadi menarik buat anak-anak muda yang menyasar pasar khusus serta menggunakan berbagai kemajuan teknologi untuk membesarkan usaha mereka dalam meraih keuntungan.

Salah satunya adalah Raja Nadhira.

Sehari-harinya dia adalah seorang pekerja kantoran, tapi sesampainya di rumah pada jam 7 atau 7.30 malam setiap harinya, Nadhira mulai memasak sekitar 35 boks makanan pesanan katering yang akan diantar keesokan harinya.

Sejak November 2014 lalu lewat Clean Cookery, Nadhira khusus menyediakan hantaran makanan buat orang-orang yang tengah menjalani diet paleo - diet tanpa karbohidrat dan gandum - sebuah gaya hidup yang juga ia jalani.

Karena menjalani gaya hidup itulah, Nadhira melihat peluang bisnis dalam menyediakan makanan buat orang yang ingin mengikuti gaya hidup itu.

Menurut Nadhira, sebenarnya sudah banyak katering khusus diet lainnya, tapi kebanyakan berfokus pada jenis diet Mayo, yang hanya boleh diikuti dalam jangka waktu kurang lebih dua minggu sehingga kurang bisa mengikat pasar.

"Jadi aku pikir di situ ada market untuk diet yang lebih sustainable, berkelanjutan, jangka panjang, yang lebih mengarah ke lifestyle, jadi aku berpikir untuk buka katering paleo, karena prinsip (dietnya) lebih seperti itu (gaya hidup)," katanya.

Image caption Raja Nadhira memulai bisnis katering sehat sejakNovember 2014.

Setiap malam, Nadhira akan memasak sendiri pesanan makan siang dan makan malam dari para pelanggannya. Meski di siang hari, persiapan memotong berbagai bumbu atau sayur sudah dilakukan oleh pembantunya.

Dengan harga paket antara Rp50 ribu-Rp60 ribu per hari per sekali makan, maka Nadhira bisa meraih omzet sekitar Rp40 juta per bulan.

Jumlah yang lumayan. Dan omzet ini berpotensi untuk bisa jadi lebih besar lagi.

"Waktu itu sempat, customer sampai 40. Di atas 40 itu sudah susah banget, waktu motong-motong, pembantu aku sampai kewalahan, akunya juga kerjaan banyak banget, itu capek banget rasanya. Tapi kalau aku mau melayani orang lebih banyak lagi, itu perlu beli kulkas lagi, kurir mesti nambah lagi, hal-hal kayak gitu yang bikin, berani atau enggak untuk nambah modalnya itu," kata Nadhira.

Ada satu cara utama yang membuat Nadhira merasa yakin dia bisa mengembangkan bisnis katering ke pelanggan baru meski sebelumnya tak punya pengalaman di bidang katering, yaitu dengan meluasnya penggunaan media sosial.

Clean Cookery berfokus pada penggunaan Instagram untuk mempromosikan bisnisnya, langkah yang didasari pertimbangan khusus.

"Kalau makanan katering kan orang pasti ingin lihat foto makanannya karena mereka nggak bisa nyoba, karena fokusnya foto jadi aku memilih untuk post di Instagram," katanya.

Aktifnya orang Indonesia dalam menggunakan media sosial juga menjadi pertimbangan bagi Nadhira untuk berani memulai bisnisnya, karena dia bisa menjangkau pasar yang cukup besar dengan biaya minimum.

"Usaha kecil itu krusial banget untuk promosi di media sosial sekarang ini," ujarnya lagi.

Jika Nadhira fokus pada menyediakan makanan bagi orang-orang yang melakukan diet paleo, maka Prasma Anindita dan Herdian Nugroho mendirikan Kotak Sarapan, sebuah layanan katering yang, seperti namanya, khusus melayani sarapan saja.

Hak atas foto Kotak Sarapan
Image caption Tampilan aplikasi Kotak Sarapan.

Pelanggan hanya bisa memesan menu lewat aplikasi HP yang mereka buat.

Ruang tamu apartemen Prasma seluas 15 meter persegi terasa sempit pada jam 7 pagi, karena Prasma bersama Herdian harus mengawasi 10 kurir yang sibuk mengepak 100 pesanan sarapan yang harus diantar pagi itu.

Semuanya dimasak oleh 20 lebih juru masak rumahan nonprofesional yang mereka kumpulkan.

Prasma dan Herdian memilih untuk fokus pada pasar sarapan yang selama ini, menurut mereka, belum cukup tergarap.

"Ada ketidakseimbangan supply dan demand sebelum jam 10 pagi. Intinya orang tetap butuh makan jam segitu tapi mal belum buka, restoran belum buka, katering juga kebanyakan makan siang dan makan malam. Dan kebanyakan sarapan yang tersedia ya, abang-abang pinggir jalan atau kafe yang spesifik sarapan dan biasanya cukup mahal. Tapi ketiadaan mal dan restoran itu membuat pasar sarapan underrepresented dibanding makan siang atau makan malam," katanya.

Image caption Kurir menyiapkan paket antaran katering pelanggan Kotak Sarapan.

Dengan harga rata-rata 25 ribu rupiah, dan setiap harinya ada 100 pesanan, maka omzet mereka bisa mencapai 50 juta rupiah sebulan.

Bukan hal buruk buat bisnis yang baru berjalan lima bulan.

Tetapi, berbeda dengan cara Nadhira menggunakan Instagram sebagai media promosi, Prasma menggunakan strategi lain untuk mengembangkan usaha dalam waktu cepat.

Dengan latar pekerjaan Prasma dan Herdian sebagai programmer, mereka memperlakukan Kotak Sarapan seperti layaknya sebuah perusahaan startup.

Dan sama halnya seperti halnya perusahaan startup digital lainnya, yang mereka kejar bukan semata keuntungan finansial, melainkan pertumbuhan pengguna atau konsumen.

"Kita banyak bagi-bagi sampler atau tester ke orang. Orang yang invite orang untuk coba platform kita juga mendapat free credit. Tapi sekarang pengeluaran kita tertutup, karena kita punya 40-50% pelanggan yang membayar," kata Prasma.

Anda bisa mendengarkan liputan selengkapnya dalam program Dunia Bisnis, yang disiarkan melalui radio-radio mitra BBC Indonesia, Senin, 28 Maret 2016 pukul 05.00 dan 06.00 WIB.

Berita terkait