Kisah musikus Indonesia yang tampil di ‘Rimba’, kamp pengungsi Prancis

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Tenda-tenda penampungan sementara para pengungsi di kawasan yang dijuluki ‘Rimba’ di Calais, kota pesisir Prancis, sudah dibongkar.

Menjelang pembongkaran, penyanyi dan rapper asal Indonesia, Nova Ruth, tampil di kamp penampungan migran itu, bersama produser yang berbasis di Barcelona, Grey, atau dikenal dengan nama Filastine.

Mereka juga tampil di berbagai festival di Eropa bersama sejumlah seniman legendaris seperti Beck, namun penampilan di Calais adalah sesuatu yang tak pernah akan bisa dilupakan, katanya kepada Rebecca Henschke.

Sejak tahun 2002, Calais, kota pesisir yang merupakan titik penyeberangan terdekat dari daratan

<span >Benua Eropa ke Inggris, menjadi lokasi sebuah kamp penampungan pengungsi, dan kerap dijuluki sebagai Rimba Calais.

Hak atas foto Filastine
Image caption Nova Ruth dan Filastine adalah musisi pertama yang tampil di Jungle.

Para penghuni kamp adalah mereka yang berharap, dan berusaha melompat, menyelinap ke bagasi truk atau kereta yang akan menyeberang ke Inggris.

Di situ, sekitar 6.000 orang melakukan apa saja agar bisa makan, selamat, sehat dan tidak kedinginan di sebuah kumpulan tenda dan gubuk yang tak memiliki fasilitas air bersih.

Nova Ruth yang besar di Malang, Jawa Timur, mengatakan bahwa apa yang tampak di sana sungguh surealis.

“Saat saya tiba di sana, terasa seperti mimpi, tapi nyata. Saya menyadari bahwa inilah yang kita hadapi, bencana yang kita hadapi,” katanya.

Musikus pertama di Jungle

Yang mengejutkan bagi mitra bermusiknya, DJ Grey, musikus yang tinggal di Barcelona dan dikenal dengan nama panggung Filastine, adalah bahwa suasana di sana relatif tenang.

Hak atas foto Filastine
Image caption "Orang-orang sangat penasaran" dengan kedatangan Nova dan Grey yang memiliki nama panggung Filastine.

“Mereka, orang-orang yang berbeda-beda bahasa, berbeda agama, bersama dalam periode paling keras dalam hidup mereka. Tak ada uang tak ada tujuan, tapi mereka bekerja sama. Jadi ini bisa dibilang merupakan ilham tentang bagaimana ras manusia bisa bekerja sama dalam situasi paling buruk sekalipun,” katanya.

Para pegiat Inggris membangun sebuah struktur berbentuk kubah di tengah-tengah kamp pengungsi, dengan daftar lengkap pertunjukkan teater, seni rupa, dan musik.

Nova dan Filastine adalah musikus pertama yang datang dari luar untuk tampil di sana. Dan untuk pertama kalinya pula di sana dipasang perangkat pengeras suara besar dan segala perangkatnya secara lengkap.

“Orang-orang sangatlah penasaran. Kalau malam, tak banyak yang bisa mereka lakukan di sana –memangnya mau ke mana? Mereka hidup di dalam tenda perkemahan yang kecil, dengan tempat yang sangat sempit. Dingin sekali di sana. Maka, kumpul-kumpul untuk suatu acara budaya merupakan hal yang sangat langka bagi mereka,” papar Grey.

Nova Ruth memulai karier bermusiknya bersama kelompok hip-hop Indonesia, Twin Sista.

Ia tumbuh besar menyanyikan lagu-lagu rohani Pantekosta, pembacaan Quran di masjid, dan bermain gamelan Jawa.

Belajar nyanyi sebagai Kristen, Muslim

Hak atas foto Filastine
Image caption Nova belajar menyanyi sebagai Kristen dan Muslim.

"Yang saya bawa dari Indonesia untuk ditampilkan di panggung adalah sopan santun –sesuatu yang tak akan pernah saya tinggalkan.

"Saya tak akan pernah mengucapkan kata-kata kotor di panggung –saya tak akan pernah bisa melakukannya. Yang kedua adalah bahasa, dan kemudian nada –saya melagukan nada-nada Jawa."

"Saya belajar bernyanyi sebagai Kristen, sebagai Muslim, dan sebagai orang Jawa. Saya membawa ketiga hal ini ke panggung," kata Nova.

Komposisi-komposisi Filastine memadukan alunan kontemporer elektronik dengan rekaman suara asli, perkusi dan alat petik akustik.

Langgam mereka penuh dengan irama Timur Tengah dan melodi Asia. Dan para penonton di Calais merasa akrab dengan musik mereka.

“Saya merasa, sepertinya musik dan video dan seni kami secara keseluruhan terasa sungguh cocok dengan penonton ini, “kata Grey.

Hak atas foto Filastine
Image caption Grey alias Filastine mengatakan penonton mereka beragam bahasa dan agama.

Saya merasa sepertinya kami menjangkau penonton terbaik kami, beragam bahasa, beragam agama, yang mencerminkan jenis musik yang kami upayakan dan kami buat.

Sebelum menjadi Filastine tahun 2006, Grey merupakan anggota marching band Infernal Noise Brigade.

Ia menggunakan sebagian hidupnya untuk merekam bebunyian dan mempelajari berbagai irama dunia.

Salah satu perjalanan, membawanya ke Indonesia tahun 2010, saat ia berjumpa Nova Ruth.

Mereka sudah mengunjungi lima benua, dan bermain dalam sekitar 500 penampilan di berbagai acara musik dunia.

Mereka sekarang sedang melakukan perjalanan konser keliling Indonesia.

Seri Abandon

Bulan ini mereka merilis episode pertama Abandon, sebuah seri empat album video yang menampilkan tarian pembebasan dari pekerjaan yang merendahkan martabat.

Hak atas foto Filastine
Image caption Episode pertama video yang berkisah tentang para penambang.

The Miner, atau Para Penambang, berkisah tentang orang yang memutuskan untuk tidak lagi mengerjakan pekerjaannya yang merusak Bumi.

“Setiap album itu menampilkan pekerjaan yang buruk bagi jiwa kita dan jelek bagi Numi.”

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Untuk membuat video itu, Filastine bekerja sama dengan sinematografer Astu Prasidya, dan seorang penari jalanan Jakarta, Al Imran Karim.

Mereka pergi menembus kabut udara beracun untuk memfilmkan para pekerja di pertambangan sulfur Kawah Ijen di Jawa Timur.

Kami memfilmkan dia saat bekerja, memintanya berkisah tentang tempat itu dan bagaimana dampaknya terhadap orang-orang yang bekerja di sana dan pemberontakan yang muncul darinya.” tutur Grey.

Indonesia adalah eksportir batu bara terbesar dunia, sebagian besar ditambang di Kalimantan.

Hak atas foto Filastine
Image caption Membuat video tentang pekerja tambang di Kawah Ijen.

Di Indonesia juga terdapat begitu banyak penambangan liar –tersebar di bebagai pelosok.

“Ketika saya berbicara dengan para penambang, mereka bilang bekerja di sana untuk mencari nafkah menghidupi keluarga. Itulah persoalan dasar orang-orang: bagaimana mencari penghidupan, dan tidak berpikir panjang tentang masa depan. Nyatanya, tak ada satu pun penambang yang berbincang dengan saya, yang menginginkan anak-anak mereka menjadi penambang juga,” papar Nova.

Mereka membuat film itu tanpa izin dari perusahaan pertambangan, dan karya tarinya berlangsung di landasan helicopter, sebelum mereka ditangkap dan diinterogasi.

Filestine saat ini sedang melakukan konser keliling Indonesia, antara lain di @america Pacific, Jumat 1 April 2016 dan di Betelnut, Ubud, Bali, 9 April mendatang.

Berita terkait