WhatsApp tambahkan fitur enkripsi

WhatsApp Hak atas foto AP
Image caption Fitur enkripsi ujung-ke-ujung aktif secara otomatis mulai hari Selasa (05/04).

Layanan pesan ponsel WhatsApp mengumumkan bahwa perusahaan itu akan mengenkripsi semua komunikasi penggunanya mulai Selasa (05/04).

Dengan enkripsi, pesan dikaburkan ketika melesat dari gawai pengirim dan hanya dapat didekripsi di gawai penerima.

Sistem ini menjadikan pesan tak terbaca jika disadap, misalnya oleh kriminal atau penegak hukum.

WhatsApp, yang memiliki miliaran pengguna di seluruh dunia, mengatakan transfer dokumen dan panggilan suara juga akan dienkripsi.

Anak perusahaan Facebook itu mengatakan melindungi komunikasi pribadi adalah salah satu “keyakinan inti” mereka.

Pembicaraan tentang enkripsi jadi perhatian publik setelah FBI meminta Apple membantu mengakses data dalam iPhone milik pelaku penembakkan di California, Syed Farook.

WhatsApp menyatakan, “idenya sederhana: ketika Anda mengirimkan pesan, yang bisa membacanya adalah orang atau grup yang jadi tujuan Anda. Tidak ada yang bisa melihat isi pesan tersebut. Kriminal tidak bisa. Hacker tidak bisa. Rezim opresif tidak bisa. Bahkan kami tidak bisa.”

Pengguna dengan versi terbaru aplikasi WhatsApp diberi tahu akan perubahan ini ketika mengirim pesan pada Selasa (05/04). Pengaturan enkripsi ini aktif secara otomatis.

'Kemenangan besar'

Amnesty International menyebut langkah ini “kemenangan besar” bagi kebebasan berpendapat.

“... Ini adalah dorongan besar bagi kemampuan orang mengekspresikan diri dan berkomunikasi tanpa rasa takut,” kata badan tersebut dalam pernyataan pers.

“Ini kemenangan besar bagi privasi dan kebebasan berpendapat, khususnya bagi aktivis dan jurnalis yang bergantung pada komunikasi yang kuat dan terpercaya untuk melakukan pekerjaan mereka tanpa membahayakan nyawa.”

Image caption WhatsApp akan mengenkripsi panggilan teks, transfer dokumen, maupun panggilan suara.

Keputusan WhatsApp juga disambut baik oleh profesional keamanan digital.

“Dengan ditutupnya akses data bahkan dari perusahaan dibalik aplikasi itu sendiri, hanya badan penegak hukum kurang informasi yang mungkin akan menggerutu tentang ‘teroris’ sementara publik menikmati pesan teks, foto, video, dan panggilan telepon terenkripsi yang telah mereka inginkan sejak Edward Snowden mengungkap bahwa pemerintah mengawasi komunikasi rakyatnya,” ujar Lee Munson, peneliti keamanan digital di Comparitech.

Besar kemungkinan langkah ini akan membuat jengkel badan penegak hukum, khususnya Departemen Kehakiman AS yang baru-baru ini memperlihatkan kekhawatiran akan informasi yang “tak terjangkau” dalam perangkat komunikasi. Departemen Kehakiman AS tidak menanggapi permintaan komentar BBC pada Selasa kemarin.

Berita terkait