Makan dan berkomunikasi dengan jari di Kafe Fingertalk

Image caption Hampir seluruh karyawan di Kafe Fingertalk merupakan tunarungu.

“Ha-lo, se-la-mat si-ang. Sa-ya i-ingin me-me-san Tu-na Sa-us Le-mon sa-tu por-si. Mi-num-nya, es teh ta-rik satu.”

Ucapan itu keluar dari mulut saya ketika pertama kali berkunjung ke Kafe Fingertalk, sebuah tempat kongkow yang terselip di kawasan Pamulang Timur, Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

Saya tidak sedang sakit waktu itu, atau berupaya melucu. Saya sedang berupaya berbicara dengan sejelas mungkin agar sang pramusaji dapat membaca gerakan bibir saya.

Bukan tanpa alasan kafe ini dinamai Fingertalk karena hampir semua karyawannya tunarungu dan berbicara menggunakan jari. Namun, pengunjung yang datang tak perlu terlebih dulu piawai berbahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan pramusaji karena di setiap meja terdapat selebaran berisi panduan sederhana untuk memesan dalam bahasa isyarat.

Image caption Para pelayan di Kafe Fingertalk dapat membaca gerakan bibir pengunjung untuk memahami pesanan makanan dan minuman.

Cara lain ialah berbicara dengan jelas, seperti yang saya lakukan, karena beberapa pramusaji mampu membaca gerakan bibir. Metode ini cukup efektif karena Nurul, nama pramusaji yang saya ajak bicara, paham sepenuhnya. Dalam 10 menit, pesanan saya datang dan rasanya enak.

Menurut Ali Wafa Al Aziz, manajer kafe sekaligus satu-satunya karyawan yang bukan penyandang disabilitas, kafe Fingertalk berdiri sejak Mei 2015 lalu.

“Sudah setahun kafe ini berdiri dan banyak kemajuan yang dicapai. Dari empat orang karyawan, sekarang orang yang bergabung sudah 12 orang. Kami juga sudah buka cabang baru,” kata Ali.

Image caption Juru masak di Kafe Fingertalk mendapat pelatihan memasak di salah satu hotel berbintang di Bali.

Bermula dari Nikaragua

Pemilik Kafe Fingertalk adalah Dissa Syakina Ahdanisa, perempuan berusia 25 tahun, yang kini bekerja di Singapura.

Dissa menceritakan ide di balik pendirian kafe itu bermula ketika dia menjadi pekerja relawan di Nikaragua, Amerika Tengah. Di sana dia melihat sebuah kafe yang semua pekerjanya tunarungu. Kembali ke Indonesia, dia meniru konsep kafe tersebut demi memberi lapangan pekerjaan bagi penyandang disabilitas.

Hak atas foto Fingertalk
Image caption Dissa Syakina Ahdanisa mendirikan Kafe Fingertalk pada Mei 2015 lalu.

“Modal untuk memulai bisnis ini tidak begitu besar, sekitar Rp30 juta-Rp40 juta dengan renovasi dan sebagainya. Kami juga banyak mendapat keringanan karena ini adalah sebuah social business. Jadi seperti sewa tempat, kami mendapat keringanan dari pemilik, yaitu Ibu Pat, yang juga seorang tunarungu,” kata Dissa.

Modal yang Dissa keluarkan setahun lalu untuk merenovasi gedung dan memberi pelatihan kepada para karyawan kini telah kembali.

“Kita sudah break even point, Alhamdulillah. Dan kami dengan penjualan sekarang, kami sudah bisa menabung untuk membuka cabang. Selama 12 bulan, ada bulan yang defisit. Namun, saya bisa bilang 70%-80%-nya kami profit,” ujar Dissa.

Memberi lapangan pekerjaan

Selain mmenggenjot penjualan di cabang baru, Dissa berniat menambah pemasukan dengan menggandeng perusahaan-perusahaan besar yang memiliki program CSR atau tanggung jawab sosial korporat. Dengan cara ini, kafe akan dapat bertahan sekaligus memberi lapangan pekerjaan bagi penyandang disabilitas.

Sebab, faktanya, sulit untuk kaum difabel bisa bekerja di sektor formal meski Undang-Undang Nomor 4 tahun 1997 mewajibkan perusahaan swasta memperkerjakan seorang penyandang disabilitas dari setiap kelipatan 100 karyawan normal.

Image caption Setiap meja di Kafe Fingertalk dilengkapi panduan sederhana bahasa isyarat.

Irfan Rustandi, program manajer dari Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia, mengatakan ada sebanyak 7 juta penyandang disabilitas di Indonesia. Walau dia tidak mengantongi data resmi, Irfan mengklaim hanya sedikit di antara 7 juta orang itu yang bekerja di sektor formal.

“Kalau boleh jujur, biarpun kita dilindungi undang-undang, penegakan hukumnya tidak jelas. Sehingga ketika ada perusahaan yang tidak memperkerjakan penyandang disabilitas, tidak ada pengaruhnya,” kata Irfan.

Menurut Irfan, dasar keengganan perusahaan untuk menyerap tenaga kerja difabel adalah tingkat pendidikan penyandang disabilitas yang rendah dan minimnya kemampuan mereka. Padahal, apabila diberi kesempatan dan pelatihan, kaum difabel tak kalah bersaing dengan karyawan yang normal.

Hal ini dibuktikan Diana Samakta, pemilik Samakta Guest House di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Dia memperkerjakan empat karyawan tunarungu di penginapan miliknya. Hasilnya, sama sekali tidak mengecewakan.

“Untuk keterampilan, mereka justru sangat fokus, sangat cepat sekali, dan sangat perfect,” kata Diana.

Dia lalu mencontohkan bagaimana karyawan tunarungu dapat berkomunikasi dengan tamu dan bisa memenuhi permintaan para tamu.

“Dengan segala keterbatasan, mereka luar biasa,” ucap Diana.

Anda bisa mendengarkan versi audio artikel ini dalam program Dunia Bisnis yang disiarkan radio-radio mitra BBC Indonesia, pada Senin (09/05) pukul 05.00 WIB

Berita terkait