Sunat perempuan di Indonesia, tradisi atau ajaran agama?

Sunat perempuan Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Septia Arnesha (berbaju ungu) berdiri di atas pelaminan dalam pesta sunat di Jakarta pada (13/04) lalu.

Pemerintah mengatakan akan mengkaji praktik sunat perempuan di Indonesia, yang menurut data PBB, lebih dari separuh anak perempuan di Indonesia mengalami praktik sunat. Tradisi ini dijalankan mulai dari upacara simbolis, sampai memotong bagian permukaan klitoris, dan dianggap sebagai ajaran Islam. Padahal peneliti menyebutkan tradisi yang berasal dari Afrika ini bukan ajaran agama. Wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari dan Rebecca Henschke, melihat bagaimana tradisi sunat perempuan ini dijalankan di komunitas warga keturunan Makassar di Jakarta Utara.

Septia Arnesha anak perempuan yang baru berusia delapan tahun ini, senyumnya terus mengembang ketika perias membubuhi wajahnya dengan bedak dan lipstik. Kemudian, Septia menggunakan baju bodo dan sarung khas suku Bugis Makassar yang berwarna cerah.

Sesekali dia memainkan kalung yang berbentuk seperti rangkaian daun berwarna emas.

“Saya senang ada pesta … senang… jadi pengantin," kata Septia.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Hari ini merupakan puncak dari pesta sunat bagi Septia sudah mulai dilakukan sejak beberapa hari sebelumnya.

Lia Syarifah, salah seorang kerabat Septia mengatakan anak perempuan wajib disunat, sebagai bagian dari tradisi.

“Anak-anak perempuan yang tidak disunat akan genit dan mereka suka bersama dengan banyak laki-laki. Jika mereka disunat mereka akan baik dan sopan dan kami percaya jika tidak disunat mereka bukan benar-benar muslim.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Septia tengah dirias dan menggunakan baju adat

Dalam praktiknya, menurut Lia, bukan sekedar simbolis.

"Ada yang dipotong… dan orangtua akan menyimpan potongan itu, kami tidak menggunakan pisau biasa, ada pisau khusus," jelas Lia.

Tradisi sunat perempuan telah dijalankan warga komunitas asal Makasar di Jakarta Utara, secara turun temurun, dan dirayakan dengan pesta besar.

Tanpa izin orangtua

Nong Darol Mahmada masih mengingat saat dia disunat ketika berusia sembilan tahun.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Lia Syarifah yang merupakan pendukung sunat perempuan mengatakan tradisi ini harus diteruskan.

“Saya tidak merasakan apa-apa, setelah itu saya bermain kembali. Saya diberi yang karena saya anak yang baik… Sunat saya merupakan simbolis tetapi pesan yang disampaikan itu salah. Saya diberitahu bahwa itu untuk laki-laki agar suami saya nantinya merasakan kenikmatan.”

Dia tak ingin anak perempuannya menjalani praktik itu. Tetapi ketika anak perempuan pertamanya lahir, bidan langsung menyunat tanpa izin darinya.

“Bidan memberitahu saya dengan sangat pelan, oh selamat anak perempuanmu telah di sunat. Saya marah dan mengatakan saya tak ingin dia disunat!

"Dia mengatakan kami tidak melukainya kami hanya menusuk kilitorisnya dengan jarum.”

Asal tradisi sunat perempuan

Rena Herdiyani Herdiyani dari lembaga Kalyanamitra mengatakan sunat perempuan di Indonesia dilakukan mulai dari simbolis sampai melukai.

"Ada yang dicungkil menggunakan pisau kecil atau jarum, diusap dengan betadine dan kain kassa, sampai pemotongan klitoris," jelas Rena.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Tradisi Sunat perempuan dirayakan dengan pesta besar.

Jurnalis Udin, guru besar Universitas Yarsi, Jakarta, mengatakan tradisi sunat perempuan di Indonesia diduga berasal dari para pendatang dari Afrika melalui Yaman, yang kemudian berdagang di Nusantara melalui wilayah Sulawesi kemudian ke Jawa.

"Tradisi sunat perempuan dengan perayaan besar, masih dilakukan di sejumlah komunitas masyarakat Sulawesi, padahal, tradisi ini tidak memiliki landasan hukum Islam, meski begitu dia mengakui sulit untuk menghapuskan tradisi ini, bahkan di Mesir praktek ini masih dilakukan," kata dia.

Di beberapa daerah lain, sunat perempuan dilakukan sejak bayi dan seringkali bersamaan dengan tindik telinga.

Menurut Jurnalis, di Mesir tradisi ini sudah dijalankan sejak jaman Fir'aun.

"Ketika itu sunat perempuan dijalankan dulu sampai dipotong klitorisnya, dan sampai sekarang masih dilakukan di Mesir, meski sudah ada larangan dan juga fatwa ulama al-Azhar tetapi di kalangan akar rumput tradisi itu masih dilakukan," jelas dia.

Tetapi dia menyatakan di Indonesia sunat perempuan berbeda dengan yang dilakukan di Afrika.

Pemerintah kaji sunat perempuan

Perwakilan khusus PBB Marta Santos Pais, mengecam praktik sunat terhadap anak perempuan di Indonesia.

"Kami melihat praktik itu bertentangan dengan hak asasi manusia untuk harga diri perempuan dan anak perempuan," jelas Marta kepada BBC.

Di Indonesia aturan tentang sunat perempuan pernah diterbitkan sebagai panduan untuk petugas kesehatan yang kemudian dicabut kembali beberapa tahun kemudian. Tetapi saat ini tak ada hukum yang jelas untuk melarangnya.

Beberapa waktu lalu, di New York, Menteri Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise menjanjikan untuk menghentikan praktik ini.

"Saya harus dapat scientific evidence, kajian, berdasarkan kajian-kajian ini bisa dipelajari dan bisa muncul kebijakan baru, Tapi kita mulai dengan sosialisasi dulu, focus group discussion," jelas Yohana, "Tinggal bagaimana pemerintah sekarang melalukan pendekatan-pendekatan yang bersifat tradisional ataupun religius untuk membantu kita apakah FGM ini masih pantas dilakukan atau sudah harus dihentikan".

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Septia dan neneknya Parti menyambut para tamu dalam pesta sunatan.

Menanggapi rencana pemerintah itu, Rena mengatakan pemerintah dapat melakukan kajian yang komprehensif.

"Langkah yg bagus jika pemerintah akan melakukan kajian. Harapan kami agar kajian dilakukan komprehensif dan mengkaji hasil penelitian lain yg sdh ada Juga mkaji aturan larangan sunat di negara Islam yg progresif

Kalyanamitra selama ini telah melakukan kampanye dan diskusi di kalangan komunitas yang menjalankan tradisi sunat perempuan, termasuk di Jakarta Utara.

Tetapi bagi Lia, tradisi itu harus tetap dipertahankan

“Itu tak dapat dihentikan… meskipun jika melanggar hukum…

"Kami akan melawan.. perang.. tidak ada yang dapat atau berani mengatakan kepada saya untuk mengatakan apa yang harus kami lakukan… "ungkap Lia sambil tertawa lepas.

Di tengah pesta yang digelar untuk Septia, gadis cilik ini tampak tidak betah berlama-lama di atas 'panggung' untuk menyambut para tamu. Ketika para tamu mulai berdatangan untuk memberikan ucapan selamat, dia malah berlari-lari dan kembali bermain dengan temannya.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Septia lebih memilih bermain dengan temannya daripada menyambut tamu.

Berita terkait