Gubernur Oklahoma AS memveto RUU untuk kriminalisasi pelaku aborsi

Gubernur Oklahoma Mary Fallin Hak atas foto Getty Images
Image caption Gubernur Oklahoma Mary Fallin, disebut sebagai calon kuat calon wapres dari Partai Republik.

Gubernur Oklahoma Mary Fallin telah memveto sebuah rancangan UU yang dapat menyebabkan aborsi menjadi tindakan kriminal di negara bagian AS itu.

Meski dia menolak aborsi, dia mengatakan kebijakan itu kabur dan tidak akan bertahan di tengah tantangan hukum.

Senat di negara bagian itu mendukung RUU yang dapat menghukum dokter yang mengakhiri kehamilan dengan hukuman sampai tiga tahun penjara. Para dokter yang terbukti bersalah melakukan aborsi juga akan dilarang praktik medis.

Untuk membatalkan veto, anggota parlemen membutuhkan suara mayoritas dua pertiga di setiap kamar.

Aborsi merupakan tindakan legal di AS, dan para aktivis aborsi menyebutkan RUU itu inkonstitusional.

Dua klinik aborsi masih dibuka di Oklahoma setelah negara bagian itu menetapkan beberapa regulasi baru yang berdampak pada fasilitas itu, baru-baru ini.

Fallin, telah disebut berpotensi menjadi calon wakil presiden untuk kandidat partai Republik Donald Trump.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kelompok anti-aborsi berharap pembatalan Roe v Wade, putusan MA yang membuat hukum aborsi pada 1973.

Kelompok anti-aborsi mengatakan mereka berharap RUU itu digunakan untuk menggerakan kasus hukum yang akan membatalkan Roe v Wade, putusan MA yang melegalkan aborsi pada 1973.

Legislasi yang serupa dengan yang diterapkan di Oklahoma diberlakukan di Utah dan Louisiana pada 1991 - tetapi kemudian aturan dinyatakan inkonstitusional.

Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok konservatif berupaya untuk memperketat klinik aborsi dan dokter dibandingkan dengan memberlakukan larangan terhadap praktik tersebut secara langsung.

Pengacara hak aborsi mengatakan kebijakan ini berarti membatasi akses perempuan terhadap aborsi.

Aturan baru ini terutama menyebar di negara bagian yang dikuasai konservatif.

Pekan ini, legislator di South Carolina mengesahkan RUU yang melarang aborsi setelah kehamilan berusia 19 minggu.

Berita terkait