Lagu Genjer-Genjer, masa penjajahan Jepang dan stigma PKI

Siti Hanani Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Siti Hanani pernah mencari keberadaan ayah angkatnya tetapi tidak berhasil.

Lagu Genjer-Genjer yang dinyanyikan oleh Lilis Suryani dan Bing Slamet dan populer pada 1950-an dan 1960-an kembali hangat dibicarakan setelah merebak dugaan penyebaran paham komunisme dalam beberapa pekan terakhir di Indonesia.

Sebuah grup band asal Mojokerto, Jawa Timur, Mesin Sampink, sempat dimintai keterangan dan wajid lapor ke kepolisian karena menyanyikan lagu ini dalam konser musik.

Lagu berbahasa Using, yang diciptakan Muhamad Arif seniman Banyuwangi pada 1940-an, dianggap sebagai lagu milik Partai Komunis Indonesia (PKI), setelah peristiwa G30S.

Propaganda militer ketika itu menyebutkan lagu Genjer-Genjer merupakan lagu PKI dan "lagu pembunuhan" enam jenderal di kawasan Lubang Buaya, Jakarta, seperti digambarkan dalam film Penghianatan G30S/PKI yang ditayangkan di televisi nasional selama masa pemerintahan Orde Baru.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Lagu rakyat

Menurut Hanani, Arief memiliki jiwa seni yang kuat, meski pernah menjadi tentara rakyat di jaman penjajahan Belanda dan Jepang, minat terhadap seni tak pernah padam.

Sampai kemudian dia memimpin grup kesenian yang cukup besar di Banyuwangi Sri Muda yang merupakan bagian dari kelompok seni Lekra, yang sering kali dikaitkan sebagai organisasi bawah PKI.

Aslinya Genjer-genjer dimainkan oleh angklung, alat musik yang dikuasai Arief.

"Bapak dulu membuat angklung sendiri, mencari bambu dan membuatnya sampai menjadi alat musik angklung," kata Hanani.

Budayawan Banyuwangi yang mengenal Arief, Hasnan Singodimayan, mengatakan lagu itu menggambarkan penderitaan dan kemiskinan rakyat di zaman penjajahan Jepang.

“Itu zaman Jepang beras diambil, nasi diambil pada jaman Jepang. Tersisa apanya? Tertinggal Genjer-Genjer ya itu dimakan saja. Orang Banyuwangi makan Genjer-Genjer, padahal sayuran lainya juga ada tapi diambil Jepang yang ada genjer-genjer jadi makan saja. Jadi ada orang biasa seniman teman saya namanya Arif tidak ada PKI,” jelas Hasnan.

Ketika itu, menurut Hasnan lagu genjer-genjer sangat populer, tetapi kemudian ketika peristiwa 65 ada yang mengubah lirik lagu dikaitkan dengan pembunuhan para jenderal dan organisasi perempuan Gerwani yang dituduh terkait dengan PKI.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Hasnan lagu Genjer-Genjer sangat populer, tetapi kemudian ketika peristiwa 65 ada yang mengubah lirik lagu dikaitkan dengan pembunuhan para jenderal dan gerwani.

"Iya yang mengubah itu siapa tidak tahu. PKI sendiri atau bisa saja musuhnya PKI tidak tahu? Tujuanya apa itu? Tidak tahu," kata Hasnan.

Iya karena itu lagunya rakyat, tidak ada hubungan dengan partai. Sangat populer, sekarang anda tahu lagu umbul- umbul blambangan sangat populer ya seperti itu. Setelah tahun 1965 kok keluar jendral-jendral ya marah para tentara,” jelas Hasnan.

Stigma terhadap Gerwani yang menyanyikan lagu genjer-genjer di malam G30S juga masih berlangsung hingga kini.

Padahal menurut sejumlah fakta yang diungkap peneliti dan para penyintas cerita tentang Gerwani dan genjer-genjer itu merupakan cerita rekaan. Pasca G30S ratusan anggota organisasi perempuan ini pun ditangkap dan dipenjara tanpa pernah diadili.

Kesenian vakum

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Kusbandi mengatakan kesenian di Banyuwangi sempat vakum pasca 65.

Setelah peristiwa 65 di Jakarta, kemudian sentimen anti-PKI dan organisasi yang berada dibawahnya terjadi di banyak daerah, termasuk Banyuwangi.

Banyak seniman yang diduga memiliki kaitan dengan PKI pun ditangkap ataupun hilang. Aktivitas kesenian di daerah itu pun terhenti, selama beberapa tahun, jelas Kusbandi salah seorang seniman yang dulu masih belajar angklung.

"Saya dulu coba-coba, lalu timbul gestapu berhenti setelah itu vakum sekitar 5 tahunan itu, karena di cap angklung itu milik partai PKI, padahal engga ya itu kepunyaan rakyat. Kemudian pada tahun 1970an, ada yang berani mendirikan grup angklung, saya ditarik,” kata dia.

Kusbandi kemudian mendirikan grup seni Banyuwangi Putra hingga saat ini masih aktif pentas di berbagai tempat.

Sementara itu, Muhamad Arief yang pernah menjabat sebagai anggota DPR dari Fraksi PKI pun tidak diketahui keberadaannya pasca peristiwa 65.

“Tidak ada pak Arif hilang, banyak tokoh-tokoh PKI disini hilang, tidak dibunuh, tidak dibuang... hilang. Berarti sampai saat ini diibaratkan tidak pernah pulang? Tidak ada itu,”

Hak atas foto Koleksi keluarga Muhamad Arief
Image caption Muhamad Arief pernah bergabung dengan tentara pada masa penjajahan Jepang.

Siti Hanani mengatakan sempat mendapatkan kabar ayah angkatnya ditangkap dan di penjara, tetapi tidak dapat ditemukan meski sudah dicari ke beberapa tempat.

“Kalau toh masih hidup di mana, kalau toh sudah meninggal di mana kuburannya, saya mendengar beliau di tahan di Malang, terus ke Pulau Buru, saya ingin mengetahui dimana dia, tapi sampai sekarang tidak bisa,” kata Hanani sambil menahan tangis.

Beberapa pekan terakhir lagu ciptaan Arief ini kembali dibicarakan setelah merebaknya isu komunisme. Meski banyak yang menyebut Lagu genjer-genjer tak ada kaitannya dengan PKI, tetapi sampai kini aparat masih menganggapnya sebagai merupakan simbol PKI selain lambang palu dan arit.

Berita terkait