Membayar listrik dan pulsa dengan sampah lewat Bank Sampah

Bank sampah Malang Hak atas foto EKO WIDIANTO
Image caption Sejumlah produk daur ulang dijual di Bank sampah Malang.

Produksi sampah di Kota Malang semakin tahun terus naik, sementara Tempat Pembuangan Akhir Supit Urang tak mampu menampung 600 ton sampah yang diproduksi. Untuk mengendalikan sampah non-organik, sejak lima tahun lalu berdiri Bank Sampah.

Bel istirahat berbunyi, siswa SMP Negeri 10 Malang berlari keluar kelas. Ada yang ke taman, kantin, dan perpustakaan. Namun sebagian siswa memilih berkumpul dekat tempat pengolahan sampah, tepatnya di kantor Bank Sampah Sekolah.

Para siswa mengumpulkan, menimbang dan mencatat aneka sampah di depan mereka.

Balqis Avissa, seorang siswa kelas 8, sedang menenteng dua tas kresek berisi botol bekas yang dikumpulkan dari teman sekelasnya.

"Kertas, koran, barang-barang yang nggak kepakai, dikumpulin dulu, terus dibawa ke sekolah buat ditimbang. Paling berapa ya, ons-ons-an cuma, dapat Rp20 ribu," kata Balqis pada Eko Widianto, wartawan Malang yang melaporkan bagi BBC Indonesia.

Oleh siswa, sampah plastik, botol, atau kertas koran memang diolah jadi kerajinan tangan seperti tempat tisu, tas dan vas bunga.

Hak atas foto EKO WIDIANTO
Image caption Truk sampah yang mengangkut kardus yang akan disetor ke Bank sampah Malang.

Seorang guru, Muhammad Syafi'i mengatakan, dia dan pelaku usaha daur ulang sampah mengajari para siswa berkreasi membuat kerajinan ini. Namun selain menjadi kerajinan, menurut Syafi'i, sampah sisa tak dibuang.

"Jadi nanti ada bagian yang terbuang, itu kita masukkan ke Bank Sampah Sekolah. Nah setiap kelas, anak-anak itu punya rekening sendiri-sendiri, rekening yang mereka kumpulkan bisa digunakan anak-anak sendiri untuk mengelola kebersihan lingkungan atau kelas masing-masing," kata Syafi'i.

Guru pembina Pipit Yuliati menuturkan, sebelum ada Bank Sampah Sekolah, sampah plastik dan kertas menumpuk tak karuan. Setelah dibuang ke tempat sampah, plastik dan kertas hanya dibakar.

Tetapi sejak lima tahun lalu, saat Bank Sampah Malang mulai beroperasi, para siswa dan guru kemudian mendirikan Bank Sampah Sekolah.

Uang yang dihasilkan dari pengumpulan dan penjualan sampah digunakan untuk keperluan kelas dan lingkungan sekolah.

"Jenisnya (sampah) ada tiga yang dihasilkan. Koran, kertas bekas anak-anak, yang tidak dipakai itu ditimbangkan, plastik, kertas, itu saja. Anak-anak itu masing-masing punya buku, jadi satu bulan baru dihitung," katanya.

Upaya mengolah sampah lewat Bank Sampah tak hanya dilakukan sekolah, tapi juga oleh masyarakat.

Hak atas foto EKO WIDIANTO
Image caption Bank Sampah Malang menyebabkan warga aktif mengumpulkan sampah untuk dapat keuntungan.

Seperti Ningsih, warga Telogomas, Malang, yang rutin setiap pekan mengumpulkan kardus, karton, botol bekas minuman, serta perabot rumah tangga yang rusak. Mencari sampah, buat Ningsih dan warga lain, berarti mencari uang.

"Ditabung sama anggota (uang penghasilan sampah). Ada yang minta satu tahun sekali, dikumpulkan, diambil satu tahun sekali buat kebutuhan ibu-ibu itu. Lumayan bisa untuk menambah kebutuhan Hari Raya (Lebaran). Ya ada yang buat biaya sekolah, beli seragam," kata Ningsih.

Dia sendiri bisa mendapat Rp300 ribu per tahun dari sampah yang dikumpulkan dan ditimbangkan.

Karena sampah menjadi hal yang menguntungkan menguntungkan, maka lingkungan pun semakin bebas sampah.

"Ya biasanya kan sampah-sampah dibuang ke kali, sekarang enggak, sudah dikumpulkan ke masing-masing rumah sendiri. Sampah kering, sampah basah dipilah sendiri, jadi sampah-sampah di jalan itu sudah nggak ada, sudah bersih," kata Ningsih.

Keterlibatan masyarakat mengelola sampah tak lepas dari peran Bank Sampah Malang.

Direktur Bank Sampah Malang, Kartika Ikasari menuturkan jumlah nasabah Bank Sampah terus bertambah. Karena masyarakat semakin peduli mengumpulkan sampah, maka Bank bisa mengurangi volume sampah nonorganik ke TPA sampai tujuh persen.

Omset ratusan juta

Menurutnya, animo masyarakat untuk menyerahkan sampah ke Bank Sampah Malang muncul karena kini ada layanan pengambilan sampah selain juga terobosan untuk mengorganisir masyarakat dalam bentuk unit usaha.

"Setelah ada Bank Sampah, gengsinya berkurang karena dibentuk unit kelompok, jualnya (sampah) bareng-bareng. Kalau dulu kan nggak ada pengelolaan kelompok, jadi sendiri-sendiri, jadi malu sama tetangganya," kata Ika.

Kini unit pengelolaan dan penjualan sampah yang tercatat di Bank Sampah Malang mencapai 500 unit, dan masing-masing terdiri dari 20 orang. Namun total nasabah, menurut Ika, sudah mencapai 24 ribu orang.

Setahun lalu, keuntungan dari omzet penjualan sampah mencapai Rp120 juta.

Pemerintah Kota Malang hanya memberi modal awal berupa dana hibah sebesar Rp200 juta, namun kini Bank Sampah bisa bergerak mandiri.

Nasabah tak hanya menabung, karena hasil setoran sampah juga bisa ditukar dengan belanja kebutuhan pokok sampai membeli pulsa telepon dan membayar listrik.

"Rata-rata kebanyakan (pemasukan dari sampah) malah ditabung. Karena tagihan listrik mereka terlalu besar dari nilai sampahnya, ketika mereka mau membayar, akhirnya ketika kurang mereka menambah tunai atau akhirnya, ya sudah, ditabung, buat listrik bulan depan," kata Ika.

Jangan salah, meski namanya Bank Sampah namun transaksi nasabah di kantor Bank Sampah dilakukan di ruangan yang bersih dan wangi, sama seperti kantor bank biasa.

Hanya bedanya, di ruang resepsionis Bank Sampah, dipajang aneka jenis kerajinan daur ulang dari sampah plastik dan kertas.

Dan di luar, terlihat truk hilir mudik mengangkut sampah non-organik dan menyimpannya ke gudang.

Berita terkait