Menuturkan kehidupan Siti lewat film hitam putih

Siti Hak atas foto Siti
Image caption Sekar Sari sempat menangis saat pengambilan gambar.

Sutradara film Siti, Eddie Cahyono, dan pemeran utama, Sekar Sari, menuturkan gagasan dan pengalaman di balik film hitam putih dan berbahasa Jawa tersebut.

Tidak seperti biasanya, sebuah film panjang yang menggunakan warna hitam dan bahasa Jawa meraih gelar film terbaik dalam Festival Film Indonesia 2015.

Judulnya Siti dan diarahkan oleh sutradara Eddie Cahono.

Kisahnya tentang seorang ibu yang menghidupi keluarga: seorang anak laki-laki yang lasak sementara suaminya lumpuh di tempat tidur dan ibunya juga tinggal bersama mereka.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Bukan cuma untuk makan sehari-hari, juga membayar hutang suami waktu membeli kapal dulu. Siti pun menjual kerupuk pada siang hari dan malam harinya menjadi karyawan karaoke mendampingi para tamu bernyanyi riang sambil menenggak alkohol.

  • Judul film: Siti
  • Sutradara: Eddie Cahyono
  • Pemain utama: Sekar Sari
  • Durasi: 88 menit

Karena menggunakan bahasa Jawa, Siti dilengkapi dengan teks bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, dan film hitam putih ini terpilih sebagai film terbaik FFI 2015 serta meraih penghargaan di Shanghai International Film Festival.

Perasaan Siti yang hitam putih

Kepada BBC Indonesia, Eddie menjelaskan alasannya memilih hitam putih untuk Siti.

"Karena menurut saya, memang film ini rasanya hitam putih. Kehidupan Siti itu tidak berwarna, jadi saya merasa harus hitam putih, tidak berwarna."

"Ini mungkin mewakili perasaan Siti yang desperate, putus asa tapi pada akhirnya harus memilih antara untuk kebahagiannya, untuk kebahagiaan sendiri."

Hak atas foto Siti
Image caption Siti menjual kerupuk siang hari dan menjadi karyawan pendamping tamu di karaoke.

Menurut Eddie, insipirasi Siti berawal dari keinginannya untuk mengambil gambar di Pantai Parangtritis, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Waktu itu Eddie mendengar ada karaoke yang ditutup dan ada LC -atau Lady Companion yang merujuk pada perempuan pendamping tamu karaoke- yang meninggal karena minum alkohol oplosan.

"Saya gali saja ceritanya dari situ, seorang LC di usia yang masih muda sudah meninggal, terus dia itu hidupnya untuk siapa. Itu pertanyaan awalnya."

"Baru kemudian saya kembangkan bagian dalam situasi yang sulit itu, Siti harus memilih untuk kebahagiannya sendiri," jelas Eddie.

Setelah sukses dengan Siti, Eddie kini mendapat pendanaan internasional dari Prancis untuk membuat film baru, tentang seorang ibu yang mencari anaknya yang akan dihukum mati di Cina.

Pemeran pilihan kedua

Selain meraih penghargaan film terbaik FFI 2015, Siti juga mengantarkan pemeran utamanya, Sekar Sari, meraih Pemeran Utama Wanita Terbaik Usmar Ismail 2016.

Image caption Sekar Sari sedang menempuh studi S2 Seni Tari di Universitas Roehampton, London.

Yang agak mengejutkan, Siti merupakan film panjang pertama Sekar Sari, yang saat ini sedang menyelesaikan program S2 di Universitas Roehampton di London.

Dan tambah mengejutkan lagi adalah Sekar ternyata bukan merupakan pilihan pertama untuk memerankan film tersebut.

"Saya ikut casting, terus saya tidak keterima. Jadi ok, jadi bukan rejeki saya main film itu."

Namun dua minggu kemudian Sekar mendapat telepon karena pemeran yang terpilih malah berhalangan dan dia harus siap hanya dua minggu menjelang pengambilan gambar.

Dalam waktu persiapan dua minggu tersebut, Sekar lebih banyak berdiskusi dengan sutradara untuk mendalami peran sebagai Siti, seorang perempuan yang ditampilkan dengan karakter tangguh.

"Lebih banyak dialog ya. Mas Eddie ngajak ngobrol 'kamu pernah mendapat masalah berat nggak'. Jadi Mas Edie banyak membantu saya untuk mengeksplorasi pengalaman-pengalaman yang pernah saya alami dan kemudian dihadirkan di film, tentunya dengan formulasi karakter yang ada di film," jelas Sekar di studio BBC Indonesia di pusat kota London.

Sekar pun menangis

Setelah meraih gelar Pemeran Wanita Utama Terbaik di Usmar Ismail, Sekar mengaku ada juga awak film Siti yang menyelutuk 'untung pemeran pilihan pertama berhalangan'.

Bagaimanapun bagi Sekar -yang sebelumnya sama sekali tidak membayangkan akan meraih gelar pemeran terbaik- Siti adalah sebuah kerja berat.

"Jujur waktu itu tidak ada espektasi bahwa akan seperti ini apresiasinya, jadi waktu itu bermain sepenuh hati. Mungkin itu rahasianya."

Dalam pengambilan gambar, Sekar bahkan sempat menangis karena Siti berkisah tentang perempuan kuat sehingga ada titik-titik yang amat intens bagi Sekar.

"Akhirnya saya nangis. Mas Eddie bertanya 'kenapa kamu menangis'. Dan aku jawab, 'Mas aku nggak kuat'. Terus Mas Eddie bilang Siti nggak lemah kayak gitu," jelas Sekar dengan suara yang agak tersendat.

Lantas setelah menyelesaikan studi S2 di bidang tari, karier apa yang kelak akan dipilih Siti: seni tari atau seni peran?

"Sekarang tetap ingin eksplorasi di dunia seni tari dan seni peran, tidak membatasi diri, yang penting terus berkarya."

Berita terkait