Dewan Kesepian Jakarta: Menjadi jomblo dan tetap baik-baik saja

Hak atas foto DEWAN KESEPIAN JAKARTA
Image caption Diambil dari kutipan terkenal Pramoedya Ananta Toer dalam buku Rumah Kaca, “hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya."

Mereka membuat laman khusus yang didedikasikan untuk para lajang, memparodikan kutipan-kutipan tokoh terkenal hingga mengedit logo produk populer sebagai lelucon. Upaya membesarkan hati kaum muda yang kesepian? Atau... lebih dari itu?

Laman itu dibuat sekitar dua tahun lalu dan namanya diplesetkan dari lembaga otonom pengembangan seni kota, Dewan Kesenian Jakarta.

Dewan Kesepian Jakarta, menurut salah satu pencetusnya, awalnya dibuat iseng saja karena mereka "gemar membuat meme, dan ingin menertawai diri sendiri."

"Waktu kami bikin page ini, mayoritas dari kami selibat (lajang). Nah sekarang satu admin malah sudah kawin. Yang sudah kawin itu jahat.... Ibarat kawan yang sudah tidak mau seiring sejalan," kata salah satu pendiri - yang enggan menyebutkan namanya.

Dia mengatakan admin yang terlibat berasal dari berbagai profesi, ada peneliti, penulis, dosen, hingga karyawan kantoran.

Hak atas foto DEWAN KESEPIAN JAKARTA
Image caption "Sindiran dari Bung Besar yang menjelaskan mengapa banyak anak muda terjerembab ke jurang mirasantika," tulis Dewan Kesepian Jakarta dalam Facebook mereka.

Laman itu memuat banyak hal yang umumnya terkait dengan status lajang, rasa kesepian (yang biasanya disematkan padanya), dan kerinduan pada mantan pacar.

"Potong bebek angsa, masak dikuali, jomblo udah lama, nyesek tiap hari, galau ke sana, galau ke sini, lala lala lala lalala..." begitu tulisan dalam sebuah meme yang memparodikan lagu anak Potong Bebek Angsa.

Dalam unggahan lain, mereka mengubah kutipan-kutipan dari tokoh terkenal seperti Soekarno, J.F Kennedy, hingga Nietzsche. "Yang fana adalah mantan. Nyeseknya abadi," mengutip bait puisi Sapardi Djoko Darmono yang ikonik, "yang fana adalah waktu. Kita abadi."

Hak atas foto DEWAN KESEPIAN JAKARTA
Image caption Mengutip bait puisi Sapardi Djoko Darmono yang ikonik, "Yang fana adalah waktu. Kita abadi."

Beberapa kali, mereka juga mengunggah foto editan logo produk, sampul buku, atau papan peringatan di tepi jalan. "Dilarang menggunakan bahu jalan untuk bersandar dari kegalauan."

Umumnya banyak pengguna Facebook yang meresponnya dengan tawa. Tapi, unggahan mereka yang beragam dan - seringnya - juga terkait isu yang sedang hangat kerap mendapat kritikan. Salah satunya adalah kritikan terkait plesetan kutipan Tan Malaka soal sejarah, hingga tuduhan berpaham kiri.

Lebih dari humor

Terlepas dari kontoversi itu, Dewan Kesepian Jakarta lewat gurauan-gurauan lucunya ingin menjadikan laman mereka sebagai perayaan bagi kaum-kaum lajang. "It's ok to be single," kata mereka.

Melalui laman ini, mereka ingin mengatakan bahwa menikah atau pacaran bukanlah suatu keharusan dan menjadi lajang adalah pilihan. Mereka juga ingin mengkritik tatanan sosial dan budaya yang secara tidak langsung membentuk persepsi tersebut, yang menjadikan kesendirian adalah sebuah kesalahan.

Hak atas foto Dewan Kesepian Jakarta
Image caption Tuna asmara juga harus dilindungi negara. Setuju?
Hak atas foto Dewan Kesepian Jakarta
Image caption Karena di "Di Balik Mantan Yang Sehat, Terdapat Jiwa Yang Penat." Masa?

"Daripada ikut arus mem-bully jomblo, ya mendingan kita mengadvokasi jomblo toh?" kata mereka. "Kami bersemboyan menyepikan rakyat, merakyatkan sepi."

Psikolog Roslina Verauli mengatakan besar tidaknya tekanan untuk mendapatkan pasangan dan menikah sangat tergantung dengan konteks budaya dan sosial seseorang. Tetapi, dia melihat bahwa saat ini pandangan tentang perkawinan sudah mengalami perubahan dan orang-orang lebih memilih untuk sendiri daripada memaksakan diri.

"Mereka sudah bisa melihat bahwa sendiri adalah sebuah pilihan," katanya.

Berita terkait