Pencak Silat dan ekspresi rindu kampung dalam Tari Rantak

Image caption Tari Rantak adalah tari asal Minangkabau yang tidak begitu populer, tetapi memiliki keunikan tersendiri.

“Satu... dua... tiga... empat... lima... hentaknya pakai tumit! Enam...”

Suara itu menggema di auditorium Galeri Indonesia Kaya (GIK), Grand Indonesia, Jakarta, diiringi hentakan kaki belasan orang yang mendentum berirama.

“Ini kita lakukan sebanyak 11 kali ya,” lanjut Nur Kusuma Ngarasati atau yang biasa dipanggil Raras, pelatih tari dari Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts (CIOFF) Indonesia, sebuah lembaga seni dan budaya yang bekerja sama dengan UNESCO.

Raras sedang melatih Tari Rantak dalam sebuah workshop lima hari yang diadakan GIK untuk masyarakat umum. Pelatihan tersebut akan ditutup dengan pementasan tari asal Minangkabau (Sumatera Barat) tersebut di hadapan khalayak.

Image caption Para peserta belajar gerakan Tari Rantak hanya dalam lima hari.

Sesuai namanya, Tari Rantak identik dengan rantak atau hentakan kaki penari di sebagian besar ragam (sekuen gerakan dalam tari).

Tari yang dapat dibawakan laki-laki dan perempuan tersebut dibuka dengan penari yang memasuki panggung dan membentuk formasi, dipandu tabuhan suara gandang (gendang) Minang yang cepat dan tegas.

Selangkah demi selangkah, penari masuk, dengan kaki kanan mereka “menghentak bumi” di setiap perpindahan.

Image caption Suara hentakan kaki penari menjadi ciri khas utama Tari Rantak.
Image caption Dalam lima hari, Raras dan tim dari CIOFF mengajarkan 15 ragam Tari Rantak kepada peserta.

“Jadi itu semua dinamis. Musik yang kita dengar tidak hanya dari alat musik, tetapi juga dari suara yang dikeluarkan akibat pergerakan penari. Inilah yang membedakan Tari Rantak dengan tari lainnya dari Minangkabau,” tutur Raras.

Saat itu, keringat mulai membulir di kening penari yang telah berkecimpung di dunia tari sejak berusia empat tahun dan tergabung dalam CIOFF hampir sepuluh tahun itu.

Rantak telapak kaki yang penuh tenaga terus mewarnai sesi pertama workshop yang berlangsung selama dua jam dan mempelajari tiga gerakan dari total 15 ragam Tari Rantak.

Filosofi Pencak Silat

Tari Rantak yang diajarkan di GIK adalah tari karya mendiang Gusmiati Suid, seorang maestro tari kelahiran Batusangkar, Sumatera Barat.

Tari itu diciptakannya pada 1976, sebagai ekspresi ketidakpuasan terhadap tarian Minang, yang dinilainya terlalu gemulai.

Dia pun mengkreasi Tari Rantak dengan mengadopsi filosofi Pencak Silat, seni bela diri warisan nenek moyang, yang telah dikenal lama di Sumatera Barat.

Selain rantak, gerakan-gerakan Pencak Silat inilah yang kemudian menjadi ciri khas Tari Rantak.

Raras memaparkan, “misalnya jika ada lima belas ragam dalam Tari Rantak, sekitar sebelas di antaranya berasal dari Pencak Silat, sementara tarian Minang lain, paling hanya empat atau lima di antaranya.”

Image caption Raras memeragakan salah satu gerak yang terinspirasi filosofi pencak silat, Ukua jo Jangko.

“Ada beberapa filosofi Pencak Silat yang dipakai di tari ini. Tapi yang terlihat jelas itu adalah Ukua jo Jangko, itu artinya seperti mengukur (dengan jangka),” tuturnya.

Salah satu gerakan yang menerapkan filosofi Ukua jo Jangko, adalah gerakan tangan pada saat pembukaan tari.

Ketika telapak kaki kanan menghentak lantai, tangan kanan juga dihentak masuk melewati tangan kiri yang setengah disilang di depan dada. Tangan kanan kemudian ditarik cepat keluar, dibuka, seperti hendak mengukur.

“Ini adalah gerakan dasar Pencak Silat,” kata Raras sambil memeragakan gerakannya.

Menurut Raras gerakan tersebut memiliki makna “setiap tindakan yang akan diambil seseorang, harus diperhitungkan terlebih dahulu”

Image caption Peserta workshop melakukan pemanasan sebelum latihan dimulai.

Juga ada filosofi Garak-garik (gerak-gerik), “itu bisa dilihat dari gerakan kepala, yang diawali melihat ke bawah, lalu ke depan. Filosofinya, adalah melihat segala sesuatu dengan kewaspadaan”.

Sementara filosofi Tagak-tagak yang mana penari berdiri dalam posisi tegap di beberapa posisi, melambangkan konsep merenung sebelum mengambil tindakan.

“Jadi, setiap gerakan tari, dipikirkan pendahulu kita, bagaimana kita bersikap bijaksana, bagaimana kita bersikap arif terhadap kehidupan. Tari-tari Indonesia sangat baik sekali, jika kita tak hanya tahu tentang gerakannya, tetapi juga filosofinya.”

“Gampang-gampang susah”

Workshop Tari Rantak tersebut adalah bagian dari program Galeri Indonesia Kaya (GIK) yang melatih tari nusantara berbeda setiap bulannya.

“Karena kalau (pelatihan tari) tidak dilakukan, pengetahuan tari akan berhenti di generasi senior kita,” ungkap Program Associate Bakti Budaya Djarum Foundation yang mengurus GIK, Billy Gamaliel.

Image caption Billy Gamaliel menilai pelatihan tari sebagai upaya 'regenerasi' budaya.

Apalagi menurutnya, ketertarikan anak muda untuk menyaksikan seni pertunjukan yang berhubungan dengan budaya Indonesia, masih rendah, “itu-itu saja yang mempelajari dan menonton. Jadi kalau generasi senior sudah tidak ada, seni pertunjukan, misalnya tari Indonesia akan mati.”

Karena alasan untuk ‘regenerasi’ dan melihat beragamnya budaya Indonesia, GIK, menurut Billy mencoba memilih tari yang tidak begitu dikenal. Dan dari Sumatera Barat, terpilihlah Tari Rantak “yang tidak terlalu banyak orang yang tahu” jika dibandingkan tari Minang lainnya seperti Tari Piring atau Tari Pasambahan.

Image caption Para peserta yang mengikuti workshop Tari Rantak, dibagi atas dua sesi: sore dan malam.

Alasan itulah yang membuat Eko Setiawan, penari dan pelatih tari muda dari sebuah sanggar tari di Pamulang, Tangerang Selatan, mendaftar menjadi salah satu peserta workshop.

“Kalau lihat (tarinya di video) di youtube, takut salah mentransfer (kepada teman-teman). Jadi, mumpung ada yang melatih, ya kenapa nggak,” kata Eko menyampaikan alasannya mengikuti workshop ini.

Image caption Eko (kedua dari kanan) berniat membagi ilmu yang didapat kepada murid-muridnya di sanggar.

Dan setelah mengikuti beberapa sesi workshop, mempelajari Tari Rantak ternyata tidak ‘semudah’ yang dia kira.

“Untuk awal sebenarnya sulit. Gampang-gampang susah. Terutama di temponya. Ada yang berhenti sebentar, gerak lagi, ada yang gerakannya lebih cepat, lebih lambat, tempo harus saya pelajari lagi. Saya yang seperti ini (sering menari) saja suka ketinggalan tempo.”

Tetapi, itu tidak menyurutkan semangat lelaki yang sudah senang menari sejak masih kanak-kanak ini.

“(Saya) merasa ada tanggung jawab. Tanggung jawab untuk mempelajari. Karena kalau saya cuma sekedar hobi, tetapi tidak mengerti maknanya, tidak mengerti tariannya dan tidak bisa menyalurkannya, itu sayang. Dan remaja-remaja lain tidak akan ada yang tahu tentang tari ini kalau tidak ada yang mau menularkan,” tandasnya.

Rindu kampung

Namun, mungkin tidak ada yang lebih merasakan begitu spesialnya belajar Tari Rantak kali ini, selain Yohana Suwandi, atau yang biasa dipanggil Yona.

Image caption Lahir dan besar di Sumatera Barat, Yona sangat penasaran mempelajari Tari Rantak.

Berbeda dengan Eko yang berprofesi sebagai penari, Yona, yang merupakan konsultan perekrutan karyawan, terakhir kali menari saat dia masih kanak-kanak, sekitar 20 tahun lalu.

Workshop Tari Rantak begitu istimewa baginya, karena sejak kecil perempuan asal Padang, Sumatera Barat dan baru pindah ke Jakarta tiga tahun lalu itu, kerap menonton Tari Rantak dan sudah lama ingin mempelajarinya.

"Apalagi sekarang jauh di rantau. Ada kerinduan dengan kampung sendiri. Dengan menari Minang, selain melepas penasaran, bisa buat ingat kampung," ujar Yona.

Kerinduan akan kampung halaman dan ketertarikan yang begitu besar, bukan berarti pula mempermulus jalan perempuan ini mempelajari Tari Rantak.

"Susah banget," ujar Yona sambil tergelak saat ditemui di sela-sela workshop.

"Yang sulit itu menghafalkan gerakannya. Tari Minang kan cepat sekali gerakannya, jadi susah nangkapnya."

Image caption Gerakan tarian Minangkabau dinilai sejumlah peserta, 'sangat cepat'.

Meskipun tidak pernah absen datang latihan dalam lima hari workshop, kendala itulah yang kemudian menjadi batu sandungan bagi Yona.

Pada hari terakhir workshop, Raras dan tim mengumumkan lima dari 13 peserta, yang terpilih untuk tampil pada pagelaran keesokan harinya.

Dengan pertimbangan hafalan gerakan, Yona tidak terpilih. Eko terpilih.

Hari Penampilan

Meskipun tidak terpilih, semangat Yona untuk menikmati seni asal kampung halamannya, tidak pudar.

Ia tampak dalam barisan penonton pagelaran Keunebah di GIK yang dibuka dengan Tari Rantak.

Image caption Yona di antara penonton pada saat hari-H penampilan.

Ketika lampu mulai meredup dan musik menghentak, tampak ada ketegangan di wajah Yona.

Penari mulai masuk dengan hentakan-hentakan kaki khas Tari Rantak. Tangan Eko dan empat rekannya, bergerak cepat, tegas seperti mengukur, melambangkan filosofi pencak silat yang sebelumnya diajarkan Raras, Ukua Jo Jangko.

Musik terus mengalun, hentakan terus berganti. Tubuh penari bergerak lihai di panggung.

Image caption Dengan menghentak lantai, lima penari yang terpilih memasuki pentas.

Di bangku penonton, tampak Yona yang kini tersenyum tipis.

Di saat separuh tarian, tibalah bagian di mana tempo tari tiba-tiba berubah cepat. Bagian yang selama ini dikhawatirkan Eko.

Musik berubah cepat, Eko tampak kehilangan tempo beberapa gerakan. Namun, dia cepat mengembalikan ritmenya lagi, sesuai musik.

Image caption Eko (kiri) sempat kehilangan tempo beberapa gerakan.
Image caption Meskipun hanya berlatih selama lima hari, para peserta tampak tampil dengan percaya diri.

Musik memuncak, hentakan rantak kembali menggema, ditutup suara tepuk tangan penonton, termasuk Yona. Tari Rantak berdurasi sekitar lima menit yang dipelajari dalam workshop lima hari itu berakhir.

"Iya, sedih sih tidak terpilih. Tetapi senangnya, mereka perform-nya bagus, bangga. Tapi sayangnya, saya malah jadi semakin rindu kampung setelah lihat tadi," kata Yona sambil tersenyum sumringah kepada BBC Indonesia.

Image caption Penonton di auditorium Galeri Indonesia Kaya.

Dan tentunya yang paling bahagia saat itu adalah para penari.

"Lega, tetapi sebenarnya sedikit grogi. Tadi ada gerakan yang salah karena kehilangan hitungan. Udah lebih lega. Cuma ya, kurang maksimal saja rasanya," ucap Eko usai tampil.

Image caption Para peserta Tari Rantak berpose sebelum tampil.

Meskipun singkat, Eko mengaku telah mendapatkan banyak hal dari pelatihan dan penampilannya. Mulai dari mengenal dasar gerak dan filosofi pencak silat, ragam tarian baru, dan yang menurutnya "paling penting", kebersamaan dengan teman-teman baru.

Dengan nafas yang masih memburu dan keringat di sekujur dahinya, Eko pun kembali menyampaikan apa yang diutarakannya saat latihan beberapa hari lalu. "Saya berniat menyalurkan kepada anak didik yang lainnya, anak-didik saya. Di sanggar maupun di sekolah, biar mereka tahu ragam Tari Rantak ini. Bukan hanya mendengar, tahu, tetapi juga harus mencoba dan paham filosofinya," pungkas Eko.

Berita terkait