Mendebat dugaan dana reklamasi Rp30 milyar, Tempo, dan teman-teman Ahok

Pemberitaan Tempo terkait dugaan aliran dana sebesar Rp30 milyar dari pengembang reklamasi ke relawan Basuki Tjahaja Purnama memicu perdebatan panas di media sosial.

Debat memanas setelah majalah (juga koran dan media online) Tempo menindak-lanjuti pertanyaan anggota DPR Junimart Girsang kepada Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo pekan lalu, dengan beberapa pemberitaan.

Yang paling memicu perdebatan adalah laporan utama majalah Tempo edisi terakhir, yang memuat pernyataan Andreas Bertoni (mantan managing director Cyrus Network Public Affairs) yang disebut sebagai 'pembawa uang,' dan ditulis telah memberi 'kesaksian' kepada KPK.

Disebutkan Tempo, Andreas mengaku ada dua kali pencarian dana yaitu Rp1,3 miliar dan Rp 7 miliar, 'sebagai bagian dari realisasi proposal pendirian Teman Ahok.'

Cyrus dan Sunny Tanuwidjaja anggota staf khusus Ahok yang diduga menerima uang tersebut telah membantah mentah-mentah.

Seiring dengan makin dekatnya Pilkada DKI Jakarta, isu ini pun meledak menjadi bahan perdebatan panas di kalangan para pendukung Ahok, penentang Ahok, para pemerhati media, dan bahkan para wartawan sendiri.

Di Twitter, majalah Tempo dijadikan bukan-bulanan dengan tagar #DasarTempe dengan lebih dari 3.600 kicauan, setelah sebelumnya dicecar dengan #JatuhTempo (lebih dari 19.000 kicauan) - menyusul laporan majalah itu tentang dugaan 'barter' dalam reklamasi Teluk jakarta.

Lalu apa yang sebetulnya diperdebatkan? Berikut sejumlah argumen yang mengkritik dan membela pemberitaan terkait tuduhan dana Rp30 miliar tersebut:

1. Motif Andreas

Pembicaraan seputar kesaksian Andreas Bertoni, yang disebut sebagai pembawa uang, menjadi salah satu yang paling banyak dibahas. CEO The Cyrus Network Hasan Nasbi dalam akun @datuakrajoangek mengatakan AB sebagai orang yang sering berbohong dan kini bekerja untuk membantu pengusaha Sandiaga Uno dan Bupati Batang.

"Silahkan publik menilai nanti. Layak ga itu orang jadi narsum," katanya.

"Liputan Tempo "duit pengembang" tidak meyakinkan, sumber tunggal, tidak didukung sumber-sumber lain & dokumen-dokumen, dimuat hanya karena sudah diperiksa KPK," kata Guntur Romli.

TemanAhok menyebut Andreas sebagai "saksi ngarang", namun lainnya mengatakan laporan itu berimbang. "Pertama, sudah mendapatkan bukti, kedua, KPK sudah membenarkan," kata @AndiArief_AA, bekas staf khusus presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Hak atas foto TWITTER

Wartawan Tempo, Budi Setyarso, dalam seri kicauannya di Twitter mengatakan bahwa dalam beberapa kesempatan, mereka memang pernah memakai narsum dari kalangan yang dituduh maling atau berstatus napi.

Namun proses wawancara, menurut Budi, hanyalah awal. "Selanjutnya: verifikasi, verifikasi, dan verifikasi," dalam kicauan di akun @BudiSetyarso.

"Jadi bukan latar belakang narsum yang penting, melainkan kualitas informasi dan prosedur pengecekannya secara jurnalistik."

2. Pelabelan

Mohamad Guntur Romli dalam akun Twitter-nya mengatakan dalam pemberitaannya Tempo melakukan pelabelan pada istilah Teman Ahok dan teman-teman Ahok yang dikaitkan dengan dugaan uang Rp50 milyar.

"Bullying sudah dimulai, yang terkait Teman Ahok atau hanya teman Ahok akan dituding kecipratan 30 M," katanya.

Hak atas foto TWITTER

Di sampul koran Tempo misalnya, foto para pendiri Teman Ahok dipersoalkan karena aliran dana dari pengembang reklamasi ke kelompok relawan itu tidak disebut secara pasti.

"Koran ini isinya sama ama yang kemarin-kemarin. Sekarang pakai pajang-pajang muka kita," kicau @TemanAhok. Dalam berbagai laporan, TemanAhok mengatakan pendanaan kegiatan mereka dilakukan murni dari penjualan kaus dan merchandise.

3. Teman Hasan atau teman Andreas?

Miftah Sabri yang dalam laporan itu disebut sebagai teman dekat Andreas dan memprakarsai pertemuan Andreas dengan KPK memberikan klarifikasi dalam situs selasar.com. Dalam tulisannya, dia mengaku bukan teman dekat Andreas dan tidak memprakarsai pertemuan Andreas dengan penyelidik KPK.

"Tidak ada pertemuan antara saya dengan teman-Tempo membahas tentang Teman Hasan dan Teman Andreas ini," tulisnya. "Saya tidak memprakarsai. Apalagi memfasilitasi."

4. 'Kill the messenger'

Seorang wartawan Tempo, Wayan Agus Purnomo, dalam akun Facebook menanggapi berbagai opini yang menyerang media tersebut. "Bila tak mampu membantah substansi persoalan, maka bunuhlah karakter sang pembawa pesan," tulisnya dalam unggahan yang telah dibagikan lebih dari 4.500 kali.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption KTP dukungan untuk Ahok telah mencapai lebih dari satu juta akhir pekan lalu.

Dalam beberapa contoh, dia menyebut tuduhan yang dilontarkan akun @kurawa yangmengaitkan pemberitaan dengan masalah keuangan perusahaan - yang akhirnya menelurkan tagar #jatuhTempo.

Disebutkan Wayan, soal keuangan Tempo, "publik bisa melihat sendiri datanya sebab Tempo perusahaan terbuka. Tetapi mengaitkan itu dengan pemberitaan, tentu saja itu pikiran picik, meskipun itu sah-sah saja."

Wayan menyebut @kurawa menggunakan kondisi keuangan Tempo, untuk "menyebarkan fitnah demi dapat pengiklan. Padahal, cek saja fakta-fakta yang disampaikan. Bantah apa yang salah," tulisnya.

Berita terkait