Pesawat tenaga surya Solar Impulse tuntaskan penerbangan lintas Atlantik

Hak atas foto EPA
Image caption Solar Impulse menjelang pendaratan di Sevilla.

Pesawat tanpa bahan bakar, Solar Impulse, akhirnya mendarat di kota Sevilla di selatan Spanyol dan menuntaskan penerbangan lintas Atlantik yang bersejarah.

Penerbangan tahap ke-15 yang dipiloti Bertrand Piccard tersebut dimulai di New York, Senin (20/06).

Sebelumnya, manajer proyek ini berharap agar penerbangan lintas Atlantik berakhir di Paris, untuk mengulang penerbangan serupa yang dilakukan Charles Lindbergh tahun 1927 lalu.

Pesawat Spirit of St Louis milik Lindbergh adalah pesawat pertama yang melakukan penerbangan solo lintas samudera itu.

Hak atas foto SOLAR IMPULSE
Image caption Solar Impulse tatkala meninggalkan New York, AS.

Rencana tersebut pupus karena berdasarkan prakiraan cuaca, Paris akan dilanda hujan petir. Alhasil, Sevilla dipilih sebagai opsi yang paling aman.

Para manajer misi itu kini sedang menyiapkan rute terbang ke Abu Dhabi, kotayang merupakan titik awal misi penerbangan Solar Impulse Maret, 2015 lalu.

Penerbangan terpanjang

Pada 2015, Solar Impulse mulai melaksanakan delapan tahap penerbangan, dari Abu Dhabi ke Kalaeloa, Hawaii.

Salah satunya, tahap penerbangan terpanjang dalam sejarah penerbangan solo, yaitu dari Nagoya, Jepang ke Kalaeloa, Hawaii.

Hak atas foto EPA
Image caption Solar Impulse menjelang pendaratan di Hawaii.

Penerbangan non-stop yang dilakukan pada 28 Juni 2015 itu menempuh 8.924km, dan menghabiskan waktu 4 hari, 21 jam dan 52 menit.

Namun, ini mengakibatkan baterai pesawat rusak. Dan diperlukan waktu 10 bulan bagi perbaikan Solar Impulse sembari menunggu kembalinya waktu papar cahaya optimum di belahan bumi bagian utara.

Hak atas foto EPA
Image caption Kokpit Solar impulse hanya muat untuk satu orang pilot.

Solar Impulse dilengkapi 17.000 sel photovoltaic.

Sel-sel tersebut tidak hanya langsung menjadi tenaga bagi pesawat untuk terbang, tetapi juga mengisi baterai lithium-ion yang dimiliki pesawat, yang digunakan ketika pesawat terbang saat malam hari.

‘Bukan masa depan penerbangan’

Meskipun begitu proyek ini tidak direncanakan sebagai cetak biru masa depan dunia penerbangan.

Proyek lebih disasarkan untuk mendemonstrasikan kemampuan tenaga surya secara umum.

Menyusul pendaratan pesawat, pejabat lalu lintas udara, Andre Fasel mengatakan lebih mudah bagi pesawat mendarat di Sevilla dibandingkan Paris.

“Jika kita mendarat di Paris, seperti yang semula direncanakan, maka pesawat akan menghadapi banyak air traffic control, yang membuat penerbangan semakin rumit.”

Hak atas foto Getty
Image caption Solar Impulse di atas langit San Francisco.

Untuk penerbangan tahap selanjutnya, pesawat akan melintasi Laut Tengah atau Laut Mediterania menuju Abu Dhabi dengan melewati Afrika Utara.

“Dari Sevilla, jika kita melewati Afrika Utara, saya rasa tidak akan sulit dari sisi lalu lintas udara. Kesulitan lebih ke soal kesiapan pengamanan militer dan hal-hal semacamnya.”

Berita terkait