Transaksi di Pegadaian meningkat jelang Idul Fitri

Image caption Transaksi di Pegadaian meningkat menjelang dan saat Ramadan.

Vina mengeluarkan kalung emas seberat tiga gram dari dalam tasnya. Emas itu kemudian dia serahkan ke juru taksir yang berdiri di balik kaca bening.

Setelah ibu satu anak itu menunggu beberapa menit, sang juru taksir kembali membawa uang tunai sebanyak Rp1,2 juta. Uang itu pun berpindah ke tas Vina.

“Lumayan. Menutupi kebutuhan Lebaran sih tidak terlalu, tapi setidaknya ada uang pegangan,” kata Vina di kantor PT Pegadaian di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, pada pertengahan Juni 2016 atau tiga pekan menjelang Idul Fitri.

Selama satu jam saya di sana, belasan orang seperti Vina datang silih berganti. Dan, juga seperti Vina, mereka hendak menggadaikan barang berharga mereka demi uang tunai yang akan digunakan untuk membeli keperluan Ramadan dan Idul Fitri.

Kedatangan mereka memang mencerminkan perilaku para nasabah Pegadaian menjelang Lebaran, menurut Edwin Inkriwang, deputy bisnis Pegadaian di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan.

“Lonjakan transaksi dan permintaan kredit akan selalu meningkat awal-awal bulan puasa. Trennya memang seperti itu setiap tahun,” kata Edwin.

Di Pegadaian Ciputat, menurut Edwin, peningkatan transaksi pada bulan Ramadan mencapai 20% dari transaksi pada bulan-bulan biasa. “Itu artinya omzet kami bisa mencapai Rp600 miliar.”

Image caption Area penyimpanan kendaraan bermotor di Pegadaian Ciputat penuh sesak pada pertengahan bulan Ramadan.

Tren itu sejalan dengan catatan PT Pegadaian secara nasional. Berdasarkan data pada 31 Mei 2016, dana yang telah disalurkan mencapai Rp 10,47 triliun, naik Rp770 miliar dibandingkan bulan sebelumnya sebesar Rp9,7 triliun.

Gadai emas

Karena transaksi meningkat, barang yang disimpan di pegadaian pun bertambah.

Di Pegadaian Ciputat area penyimpanan mobil dan motor yang digadaikan pemiliknya penuh sesak.

Menurut Edwin ada pula kamera dan barang elektronik di tempat penyimpanan. Namun barang yang paling banyak digadaikan adalah emas.

“Sebanyak 80% barang yang digadaikan adalah emas. Sisanya, kendaraan bermotor dan barang elektronik. Sebab, emas mudah digadaikan dan mudah ditaksir harganya,” kata Edwin.

Hak atas foto
Image caption Sebagian besar barang yang digadaikan berwujud emas.

Bunga yang diterapkan pada emas, menurut Edwin, relatif ringan.

Untuk uang pinjaman Rp50.000 sampai Rp500.000, bunga untuk logam mulia mencapai 0,75%. Lalu, untuk uang pinjaman Rp550.000 hingga Rp 5.000.000, bunganya dipatok 1,15%.

Yang unik, dua pekan menjelang Lebaran, sebagian nasabah akan menebus emas yang digadaikannya. Namun, emas itu akan kembali digadaikan seusai Lebaran.

“Dari pengamatan saya selama dua tahun di Pegadaian Ciputat, nasabah banyak yang menggadaikan emas saat awal puasa. Namun, sepekan sebelum Lebaran, emas itu akan kembali ditebus. Kira-kira 10-20 hari setelah Lebaran, emas digadaikan lagi. Mungkin sudah budaya orang Indonesia ya, tidak memakai perhiasan saat Lebaran seperti ada yang kurang,” kata Eli, kepala cabang PT Pegadaian di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan.

Modal dagang

Bagaimanapun tren menggadaikan barang tidak melulu untuk kepentingan konsumsi. Menjelang Idul Fitri, sejumlah pedagang kecil dan menengah menggunakan jasa gadai demi mendapat suntikan modal.

Sri, salah satu di antaranya. Perempuan itu mengaku menggadaikan emasnya untuk menambah modal usaha warung bakso.

“Menjelang Idul Fitri dan saat Idul Fitri, biasanya pelanggan saya banyak yang datang. Nah, untuk menambah stok daging kan perlu uang. Makanya saya datang ke sini, lumayan beberapa juta rupiah,” kata Sri.

Edwin Inkriwang, deputy bisnis PT Pegadaian di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, mengatakan sejumlah nasabah berubah menjadi pedagang musiman menjelang Idul Fitri.

Hak atas foto Reuters
Image caption Suntikan dana diperlukan untuk modal dagang saat Ramadan.

“Ada yang berdagang mukena, berdagang kue, berdagang pakaian secara kecil-kecilan. Namun, meski kecil, tetap perlu modal. Sedangkan kalau mengajukan proses kredit usaha kan prosesnya lama dan harus ada proposal. Kalau gadai, prosesnya hanya 15 menit, dana langsung cair,” kata Edwin.

Baik konsumsi maupun bisnis kecil dan menengah, perputaran uang menjelang Idul Fitri dinilai akan mendorong Pertumbuhan Domestik Bruto Indonesia.

“Kalau dilihat data PDB per kuartal, periode yang ada Ramadan dan Idul Fitrinya, angka di kuartal itu akan meningkat. Selama ini memang PDB Indonesia bertumpu pada konsumsi masyarakat,” ujar dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Berly Martawardaya.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengharapkan PDB Indonesia tahun ini menembus 5%.

Menurut Bambang, faktor pendorong pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal kedua didorong bulan puasa. Sedangkan pada kuartal ketiga, perayaan Idul Fitri berkontribusi pada peningkatan konsumsi khalayak yang mendongkrak PDB.

Berita terkait