'Mereka tidak menerima kos untuk anak Papua'

Hak atas foto Yaya Ulya

Benediktus Fatubun, mahasiswa berusia 23 tahun asal Papua, terus berjalan dari satu rumah ke rumah yang lain. Dia selalu berhenti di setiap rumah yang memasang tulisan ‘Menerima Kos Putra’ atau ‘Masih Ada Kamar Kosong’ di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Namun setiap ia mengetuk pintu, sang pemilik rumah selalu mengatakan kamar kos sudah penuh atau sudah tidak menerima kos.

Mahasiswa yang biasa dipanggil Benfa ini tidak tahu pasti apa penyebabnya. Yang jelas dia yang sudah diterima menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi sampai sebulan tidak juga mendapatkan tempat kos.

Belakangan Benfa tahu, penolakan itu lantaran dia orang Papua. “Ada yang bilang, tidak menerima kos untuk anak Papua,” ceritanya, Jumat (01/07).

Ini tidak hanya terjadi pada Benfa. “Saya juga ditolak gara-gara saya orang Papua,” kata Ruben Frasa (26), mahasiswa semester akhir salah satu kampus swasta di Yogyakarta.

Suatu hari, pelajar Papua yang lain diminta pergi dari halaman kampus oleh seorang dosen. Mahasiswi yang sedang duduk sambil merajut Noken itu dihampiri diminta pergi karena 'dia orang Papua'. Testimoni mahasiswi yang tak ingin disebut namanya ini lantas dibagikan dalam sebuah unggahan Facebook, memicu perbincangan di dunia maya.

Hak atas foto Yaya Ulya
Image caption Benediktus Fatubun kesulitan mencari tempat kos di Jogjakarta.

“Sampai sekarang, perlakuan diskriminatif dan rasis masih sering kami terima,” ujar Aris Yeimo (30), Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua di Yogyakarta, seperti yang dilaporkan wartawan lokal Yaya Ulya, Minggu (03/07).

Perbedaan perlakuan terhadap orang Papua tidak hanya terjadi di Yogyakarta tetapi juga di beberapa daerah lain termasuk di Jakarta.

'Susah bayar'

Lalu, mengapa diskriminasi itu terjadi?

Salah satu yang berperan besar adalah pandangan umum yang menganggap orang Papua sering mabuk, suka melanggar peraturan, dan suka berkelahi. “Karena kenyataannya seperti itu,” kata Pedro Indharto (33), warga asli Yogyakarta.

Warga Yogyakarta lainnya, Sukma Indah Permana (28) mengaku kerap melihat orang Papua yang tidak patuh aturan lalu lintas, bahkan mereka kadang tiga orang naik motor tanpa memakai helm. “Aku sering lihat, loh,” katanya.

Mereka mengakui tidak semua orang Papua seperti itu dan mengatakan banyak orang Papua berperilaku baik. Tetapi, ulah sebagian orang membuat stigma negatif menempel kuat.

Seorang pemilik kos-kosan yang ditanya mengapa dia tidak mau menerima orang Papua mengatakan dirinya memiliki pengalaman buruk.

“Susah bayar, suka bikin gaduh suasana kos apalagi kalau pas mabuk,” kata Nugroho (28), pengelola kos-kosan di Depok, Sleman. Sebagai pemilik bisnis, dia menginginkan pemasukan keuangan lancar dan tertib, sehingga mengaku "malas berususan dengan Papua karena tidak tertib dalam membayar".

Perilaku segelintir orang Papua menjadi sebuah sterotipe di Yogyakarta, kata Aris Yeimo. "Biasanya (yang suka mabuk) adalah anak muda Papua yang baru datang karena ada emosi (budaya) yang terbawa dari Papua," katanya.

Orang Papua yang tinggal di tempat dingin seperti di pegunungan, kata Aris, biasanya butuh penghangat sehingga terbiasa minum produk lokal untuk menghangatkan - sehingga ketika berada di Yogyakarta, perlu waktu untuk beradaptasi.

“Tapi kalau bikin onar dan makan tidak mau membayar, itu hanya beberapa orang, tidak semua. Jadi jangan digeneralisir,” imbuhnya.

Saling membutuhkan

Hak atas foto Yaya Ulya
Image caption Ruben Frasa (26), mahasiswa Papua yang mengalami kesulitan mencari kos.

Setiap tahun ajaran baru bisa dipastikan selalu ada merantau baru dari Papua ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu. Sampai sekarang, jumlah mereka yang tercatat ada 7.000 orang, menurut Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua di sana - yang salah satu programnya juga memberi pengenalan kultural pada pelajar Papua yang baru datang ke Yogyakarta.

Bagi Emanuel Gobay (31), salah seorang warga Papua yang sudah 10 tahun tinggal di sana, masalah diskriminasi ini semakin kuat terasa dalam beberapa tahun terakhir dan tidak ada inisiatif dari pejabat daerah untuk mengatasinya.

"Banyak juga warga non Papua yang suka mabuk, membikin rusuh, dan suka melanggar peraturan lalu lintas. Tapi mengapa selalu kami?" tanya pria yang akrab di sapa Edo.

Apakah ini karena warna kulit?

"Ya jelas," katanya. "Ketika mereka melihat saya berkulit hitam dan berambut keriting, mereka memberi alasan-alasan (menolak menerima anak kos)."

Mencari solusi bersama adalah jalan keluar yang terbaik, kata Edo yang juga aktif di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta.

"Kehadiran mahasiswa Papua di Yogyakarta membawa pemasukan ekonomi pada warga dan pemerintah daerah. Jadi selayaknya kami diberikan perlindungan dari perilaku diskriminasi. Tidak perlu terpancing dengan isu-isu yang dibangun oleh pihak yang menginginkan kekacauan."

"Bangun kenyamanan bersama, karena kehadiran mahasiswa memberi sumbangsih ekonomi, di sisi lain Yogyakarya juga memberi sumbangsih pada pelajar Papua khususnya dalam bidang pendidikan."

Berita terkait