Berkompetisi di tengah kekhawatiran pada virus Zika

Hak atas foto AP
Image caption Sampai dua minggu ke depan, Rio de Janeiro akan menerima 10 ribu lebih atlet dari 200 lebih negara, termasuk 28 atlet asal Indonesia.

Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro yang dibuka pada Sabtu pagi berlangsung di tengah kekhawatiran pada penyebaran virus Zika. Namun pakar menyatakan bahwa tak perlu ada yang dikhawatirkan oleh para atlet dan mereka yang berkunjung ke Brasil.

Sampai dua minggu ke depan, Rio de Janeiro menjadi tuan rumah buat 10 ribu lebih atlet dari 200 lebih negara, termasuk 28 atlet asal Indonesia, saat WHO sudah menyatakan virus Zika di Amerika Latin sebagai keadaan darurat kesehatan global.

Atlet golf dari Jepang, Irlandia, Australia, serta petenis dan pesepeda Amerika Serikat, sudah mundur dari Olimpiade karena khawatir akan Zika.

Namun pemerintah Indonesia lewat Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, menyatakan sudah mengambil langkah-langkah perlindungan terhadap atlet yang bertanding di sana, kata juru bicara Kemenegpora, Gatot Dewa Pudjo Broto.

"Kami sudah koordinasi dengan pihak KBRI, dengan Dubes. Sejauh ini ancaman sih ada, tapi mereka melakukan monitoring, update hampir setiap hari, dan pada atlet juga disarankan tidak perlu ke tempat-tempat yang tidak perlu, ke tempat pertandingan saja. Ada pendampingan dari medical team dari Indonesia," kata Gatot.

Terlepas dari upaya tersebut, memang tak banyak lagi yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari virus Zika, kata peneliti dan guru besar biokimia dan biologi molekuler Universitas Airlangga, CA Nidom.

Dia juga menilai agar tak perlu ada kekhawatiran berlebihan akan virus Zika.

"Sebetulnya Zika itu bukan virus yang up to date, virus yang baru muncul dan menimbulkan situasi yang mengkhawatirkan, bukan itu. Virus ini kan sudah lama, dideteksi di beberapa negara, termasuk Indonesia pada tahun 1970an," kata Nidom.

Menurut Nidom, dari struktur molekul penyakit, terutama dari keberbahayaan virus, Zika "tidak lebih patogen atau berbahaya dibanding demam berdarah".

Hak atas foto Getty
Image caption Sejumlah atlet dari Jepang, Irlandia, Australia, serta Amerika Serikat sudah mundur dari Olimpiade karena khawatir akan Zika.

Nidom menilai bahwa "alasan pengeluaran kedaruratan kesehatan dunia dari WHO ini tidak terlalu kuat".

"Secara aspek epidemiologis, aspek pandemik, belum bisa ditarik kesimpulan bahwa Zika ini merupakan suatu virus yang perlu dikhawatirkan," tambahnya.

Dia membandingkannya dengan penanganan WHO saat pandemi flu burung, di mana badan tersebut langsung menggelar pertemuan khusus dengan negara-negara di mana kemungkinan terjadi pandemi. Sementara tindakan serupa tidak dilakukan pada penanganan Zika.

Meski begitu, menurut Nidom, seharusnya ada upaya untuk memastikan kondisi kesehatan, bukan hanya bagi para atlet, tapi bagi semua orang yang akan pergi ke daerah-daerah di mana terdapat virus Zika, untuk mengurangi kepanikan, dengan cara mengambil sampel darah sebelum berangkat.

"Kemudian saat pulang, diambil lagi (darahnya), terganggunya kondisi tubuh saat di tanah air, kita bisa melihat aspek itu, membuktikan sendiri. Karena antara Zika dan DBD kan hampir sama, trombositnya turun. Tapi yang bisa kita deteksi, di tubuhnya ada antibodi atau tidak, terhadap Zika. Kalau gejalanya, orang capek dan infeksi Zika kan bisa dikelirukan," kata Nidom.

Sentimen yang sama terhadap virus Zika juga disampaikan oleh Nasronudin, peneliti Institute of Tropical Disease (ITD) dan pembuat obat demam berdarah dengue.

Nasronudin malah menilai "lebih berbahaya demam berdarah" jika dibandingkan dengan infeksi Zika.

Dan sama halnya seperti DBD, ada orang-orang yang lebih mudah terinfeksi virus Zika daripada orang lain.

Hak atas foto r
Image caption Untuk melindungi diri dari infeksi virus Zika, yang bisa dilakukan adalah menghindar dari gigitan nyamuk selain menjaga ketahanan tubuh.

"Misalnya orang yang posisi ketahanan tubuhnya menurun, atau pada usia-usia yang ekstrem, atau yang tubuhnya dalam posisi kelelahan, itu bisa jadi pemicu untuk menjadi lebih berat," kata Nasronudin.

Meski tetap harus waspada atas virus Zika yang memiliki masa inkubasi antara enam sampai 12 hari, namun Nasronudin meyakinkan, agar para atlet tak perlu khawatir dengan kemungkinan terpapar virus Zika dari gigitan nyamuk.

"Atlet kan fisiknya bagus, daya tahan tubuhnya akan baik, jadi meskipun ada virus yang masuk seperti Zika ini, akan bisa dieliminasi oleh sistem kekebalan tubuh," kata Nasronudin.

Tetap saja, pencegahan terbaik, menurutnya, adalah menghindari gigitan nyamuk.

"Apabila di luar rumah atau penginapan pakai pelindung untuk anti-digigit nyamuk, kemudian tidur pakai selimut, dan meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan yang berkualitas, tidak ada salahnya mengonsumsi vitamin, tapi jangan obat-obat doping," tambahnya.

Namun, bagi mereka yang bukan atlet dengan ketahanan tubuh rata-rata serta ingin bepergian ke Brasil, Nasronudin berpesan, "Tidak usah terlalu panik, tidak usah terlalu khawatir, tubuh bisa membunuh virus itu. Sama halnya dengan DBD, yang diopname itu hanya 25%, Zika juga tidak semuanya berakhir masuk rumah sakit, bisa diatasi oleh tubuh sendiri secara wajar dan normal."

Berita terkait