Prosesi pemotongan anak berambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng

Hak atas foto Liliek Dharmawan
Image caption Anak-anak yang berambut gimbal dikumpulkan untuk menjalani proses ruwatan di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, Minggu (07/08).

Tembang Jawa macapat Dandang Gula menandai dimulainya prosesi pemotongan rambut gimbal di Kompleks Candi Arjuna, Dieng, Jawa Tengah, Minggu (07/08).

Sesekali, Ulfi Silviana yang masih berusia tiga tahun menoleh ke belakang. Ia tetap tidak mau turun dan bermain bersama anak-anak lainnya.

Anak yang rambutnya gimbal itu lebih memilih di gendongan neneknya. Ketika dipanggil dengan nama panggilan Silvi, ia menoleh, tetapi kemudian wajahnya disembunyikan.

“Anak ini memang malu-malu,” kata kakek Silvi, Dulmajid, yang ikut serta mengantarkan cucu tersayangnya itu.

Hak atas foto Liliek Dharmawan
Image caption Sesajian disiapkan sebelum prosesi ruwatan dimulai.

Dulmajid, warga Wonosobo, Jawa Tengah, tersebut mengungkapkan bahwa orang tua harus mengabulkan keinginan anak sebelum prosesi ruwatan dan pemotongan rambut gimbal dimulai.

Keinginan Silvi cukup unik, yakni dua pemain Lengger yang mengantar serta kalung emas. “Alhamdullilah, permintaannya sudah saya penuhi,” kata Dulmajid kepada wartawan di Dieng, Liliek Dharmawan.

Hak atas foto Liliek Dharmawan
Image caption Seorang anak yang akan diruwat harus dituruti permintaannya.

Ia mengatakan, rambut gimbal Silvi muncul begitu saja sejak berusia dua tahun. “Sebelum muncul rambut gimbal, anak tersebut panas badannya. Sudah diperiksakan ke dokter dan dinyatakan tidak apa-apa, hanya panas biasa. Namun kemudian, pagi harinya muncul rambut gimbal,” katanya.

Berbeda dengan Silvi, Zifara Khirunnisa atau biasa dipanggil Fara malah terus berpose di depan kamera. Bahkan, bocah berusia empat tahun itu tidak canggung ketika diminta bergaya.

“Anak ini memang tidak malu-malu dan tak takut kalau ditanya-tanya. Ia hanya meminta lima buah durian dan uang berwarna merah,” kata Rokhanah, ibu Fara.

Hak atas foto Liliek Dharmawan
Image caption "Sebelum muncul rambut gimbal, anak tersebut panas badannya. Sudah diperiksakan ke dokter dan dinyatakan tidak apa-apa, hanya panas biasa. Namun kemudian, pagi harinya muncul rambut gimbal," kata seorang kakek yang cucunya berambut gimbal.

Gaya anak-anak berambut gimbal itu memang beragam, sama seperti permintaan mereka sebelum prosesi ruwatan dilaksanakan. Selain Silvi dan Fara, sembilan anak lainnya yang rambut gimbalnya akan dipotong juga memiliki bermacam-macam permintaan yang unik.

Misalnya saja, Madina Jauza yang berusia 6,5 tahun yang minta baju bergambar animasi Frozen. Anak lainnya meminta boneka, marmut, karet gelang, bahkan ada yang minta anak sapi.

Prosesi ruwatan

Prosesi ruwatan dimulai dari rumah tetua adat setempat di Dieng, Batur, Banjarnegara. Anak-anak berambut gimbal yang hendak diruwat dikumpulkan. Di tempat itu, juga telah disiapkan segala sesuatu yang diminta oleh anak-anak tersebut.

Hak atas foto Liliek Dharmawan
Image caption Anak-anak berambut gimbal mengikuti arak-arakan keliling kampung, kemudian dibawa ke Kompleks Candi Arjuna, Dieng.

Dari rumah tetua adat, mereka mengikuti arak-arakan keliling kampung di dataran dengan ketinggian di atas 2.000 meter di atas permukaan laut. Kemudian, ke-11 anak dibawa ke Kompleks Dharmasala untuk mengikuti jamasan rambut. Air jamasan diambilkan dari Sendang Sedayu.

Anak-anak lalu dibawa ke Kompleks Candi Arjuna, Dieng, untuk dipotong rambutnya. Setelah tembang Dandang Gula dilantunkan, prosesi pemotongan rambut pun dimulai. Yang memotong rambut adalah para sesepuh dan pejabat sekitar.

Sesepuh di dataran tinggi Dieng yang juga memimpin prosesi ruwatan rambut gimbal, Naryono, mengatakan bahwa prosesi pemotongan rambut gimbal merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam.

Hak atas foto Liliek Dharmawan
Image caption Prosesi pemotongan rambut gimbal merupakan tradisi yang sudah berlangsung selama ratusan tahun silam.

Menurut Naryono, yang dulunya juga merupakan anak berambut gimbal, rambut gimbal umumnya dialami sebagian penduduk di kawasan lereng empat gunung, yakni Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Prahu dan Gunung Rogojembangan.

“Jadi, kalau ada permintaan dari anak berambut gimbal, harus dipenuhi. Jika permintaan telah dikabulkan orang tuanya, pemotongan rambut gimbal baru dapat dilaksanakan,” ujarnya.

Dari cerita turun temurun di wilayah empat gunung itu, fenomena rambut gimbal pasti bakal terjadi.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, anak-anak yang rambutnya gimbal merupakan titipan Anak Bajang dari Samudra Kidul. Mereka merupakan titisan dari Eyang Agung Kolotede bagi anak laki-laki dan perempuan merupakan titisan dari Nini Dewi Roro Ronce.

Dulu, warga menganggap bahwa anak yang berambut gimbal adalah sukerta yang berarti sial atau kesedihan. Namun dalam perjalannya, ruwatan pemotongan rambut gimbal ternyata telah menjadi agenda wisata kultural Dieng yang setiap tahunnya digelar dan masuk dalam agenda Dieng Culture Festival.

Berita terkait