Wacana Mendikbud soal 'sekolah sehari penuh' dikritik di media sosial

Image caption Beberapa sekolah di pedesaan, fasilitas untuk siswa masih minim, bahkan untuk sekolah setengah hari.

Wacana penerapan sistem sekolah sehari penuh yang dicetuskan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menuai pro kontra di media sosial karena dinilai memiliki bias perspektif kota dan membebani anak-anak.

Dalam keterangan pers, kementerian pendidikan mengatakan ide ini muncul untuk memenuhi pendidikan karakter di sekolah, yang idealnya menurut Presiden Jokowi, diberikan sebanyak 80% (dari total kegiatan belajar mengajar) di tingkat sekolah dasar, dan 60% di tingkat sekolah menengah pertama.

Mendikbud mengatakan, sistem sekolah sehari penuh (full day school - FDS) tidak melulu soal belajar di dalam kelas tetapi juga "dapat mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman pendidikan karakter, seperti mengikuti kegiatan ekstrakurikuler."

Namun, konsep ini banyak dikritik oleh pengguna media sosial.

Esais Zen RS dalam akun Facebook menulis bahwa ide tersebut menjauhkan anak-anak dari "fitrahnya untuk bermain untuk bersenang-senang dengan tanah, pasir, sungai, lapangan, kebun, bahkan gang-gang sempit di pinggiran kota."

Dia menekankan bahwa ini mungkin baik untuk keluarga satu tapi tidak yang lain. "Ini jelas ide yang bias kota, juga bias kelas menengah. Mengandaikan orang tua semua bekerja kantoran, dan baru bisa di rumah selepas sore. Di kampung, juga di sub-urban, anak-anak terbiasa membantu orang tua," katanya.

"Dalam sekali pukul, kebijakan ini semakin menjauhkan pendidikan nasional dari dunia yang riil, menggali jurang yang semakin dalam antara sekolah dengan kenyataan sehari-hari."

Ungkapan sejenis ditulis Dandhy Laksono, jurnalis video yang pernah mendokumentasikan kehidupan di berbagai penjuru Indonesia selama satu tahun penuh, di Facebook pribadinya.

Petisi dengan 20.000 tanda tangan

Di Twitter, konduktor kenamaan Addie MS mempertanyakan waktu untuk kegiatan seni. "Menteri P&K yang baru mau mengharuskan sekolah sehari penuh ya? Masihkah tersisa waktu untuk latihan piano, biola, band, orkestra, tari dll?" katanya.

Psikolog keluarga Alissa Wahid tidak dengan tegas menolak tetapi menekankan bahwa sistem baru itu harus selaras dengan kebutuhan anak, jika tidak anak akan dirugikan. "(Me)nurut saya malah standarnya harus tetap half-day; dengan pilihan FDS asal syaratnya jelas," cuitnya.

Hak atas foto TWITTER
Image caption Penulis Rene Suhardono menganggap wacana tersebut dibuat tampa "diimbangi dengan pemahaman (terhadap) anak."

Sebuah petisi lantas dibuat oleh Deddy Mahyarto Kresnoputro, mengajak pengguna internet menolak kebijakan sekolah sehari penuh itu, yang hingga kini telah ditandatangani lebih dari 20.000 orang.

Sistem sekolah sehari penuh bukanlah hal baru dan sudah diterapkan oleh sejumlah sekolah di Indonesia. Dalam sistem ini, umumnya siswa akan beraktivitas penuh di sekolah pada Senin hingga Jumat dan mendapat libur dua hari yaitu Sabtu dan Minggu.

Berita terkait