Agueda Amaral, dari pengungsi Timor ke bintang Olimpiade

Agueda Amaral
Image caption Pagi buta, sepanjang jalan yang berangin di sekitar Teluk. Agueda Amaral, berlari bersama sekelompok pelari muda Timor.

Pada tahun 2000, pelari maraton Agueda Amaral, diundang untuk mewakili negeri yang baru merdeka, Timor Leste, di Olimpiade Sydney. Dalam tempo satu tahun, ia berubah dari pengungsi di negara yang dilanda perang menjadi pelari Olimpiade. Putaran terakhirnya dalam nomor maraton adalah salah satu momen yang paling mengesankan dari pesta olah raga ini. Wartawan BBC Rebecca Henschke menemuinya beberapa waktu lalu.

Ini jam 5.30 pagi dan matahari baru saja datang di atas Teluk Dili, mewarnai perbukitan dengan nuansa jingga: oranye dan merah muda. Di sepanjang jalan yang berangin di sekitar Teluk adalah Agueda Amaral, perempuan setinggi 1,2 meter. Bersamanya adalah sekelompok pelari muda Timor.

Agueda melontarkan senyum saat ia berlari melintasi kami dan memberitahu kami untuk mengikutinya. Dia berlatih keras untuk Dili Marathon tahun ini dan berlari setidaknya empat jam sehari.

"Aku akan menjadi pelari tuan rumah yang layak," katanya padaku nanti. "Jika saya tidak berlari dalam kondisi yang baik, itu tidak menunjukkan sikap sopan kepada semua pelari internasional yang datang ke sini."

Di belakangnya berjejalan 20 atlet muda lainnya mulai dari 6 hingga 16 tahun, di pipi mereka tato sementara bendera Timor Timur. Mereka adalah para murid di sekolah atletik Agueda.

"Sebagai atlet veteran di Timor Timur saya merasa itu tugas saya untuk membantu. Saya perlu melatih para atlet muda. Di situlah semangat saya sekarang. Saya ingin mencari bibit-bibit baru yang bisa menggantikan saya," katanya.

Begitu dia menyelesaikan larinya, Agueda berbalik dan menepukkan tangan dan berseru-seru meminta para muridnya untuk berlari lebih cepat lalu memimpin latihan mereka.

Image caption Agueda meninggalkan keluarga sejak kecil

Kini Agueda sudah menjadi ibu dari enam anak namun dia tetap memiliki memiliki energi dan antusiasme seorang anak.

Meninggalkan keluarga sejak kecil

Agueda Amaral lahir di pedesaan Timor Timur, ketika negeri itu masih dikuasai Indonesia. Di masa kecilnya dia biasa lari ke dan dari sekolah di perbukitan curam di sekitar desanya. Pada saat ia berusia sembilan tahun dia sudah merupakan pelari yang bagus dan mewakili desanya di kompetisi lokal.

Di salah satu lomba, ia menarik perhatian seorang tentara Indonesia yang memiliki minat dalam atletik.

"Dia minta izin orang tua saya untuk membawa saya untuk tinggal di Dili dengan dia dan keluarganya," katanya.

Pada saat itu keluarga Timor asli tidak berdaya untuk berkata tidak kepada prajurit militer Indonesia.

"Saya menangis dan ingin kembali ke orang tua saya tapi pelatih saya mengatakan jika ingin menjadi terkenal saya harus meninggalkan ibu saya. Saya tidak punya pilihan."

Image caption Salah satu Anak Agueda.

Dia diizinkan untuk bertemu keluarganya seminggu sekali setelah kebaktian di gereja pada hari Minggu untuk makan siang.

"Dia itu baik kepada saya, tetapi terkadang istrinya keras. Ketika saya tinggal dengan mereka, mereka semua akan makan dan minum duluan. Saya akan mencuci piring mereka dan membersihkan semuanya, lalu mereka akan tidur dan baru kemudian saya bisa makan. Inilah apa yang saya rasa harus dilakukan."

Kadang-kadang dia akan menangis sendirian, katanya, tapi pada saat yang sama dia sangat berterima kasih kepada tentara Indonesia yang menjadi pelatihnya Papiter Lobo. Tanpa dia, dia tidak yakin akan menjadi seorang pelari profesional.

Agueda masih terus menjaga kontak dekat dengan dia dan keluarganya. "Dia sangat bangga padaku," katanya.

Dari pengungsi ke bintang Olimpiade

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Semuanya, termasuk sepatu lari milik Agueda telah dibakar di 1999

Di ruang tamu rumah Agueda di pusat kota Dili, dipajang gambar ukuran besar, saat ia melintasi garis finish di Olimpiade Sydney tahun 2000.

Setahun sebelum saat itu dia adalah seorang pengungsi yang harus berlari menyelamatkan hidupnya.

Hasil referendum tahun 1999 menunjukkan, lebih dari tiga perempat warga Timor Timur memilih untuk merdeka dari Indonesia. Milisi yang dipersenjatai dan didukung oleh Indonesia kemudian melancarkan gelombang kekerasan.

Bersama seperempat dari penduduk lainnya, Agueda melarikan diri melintasi perbatasan ke Timor Barat.

"Pada waktu itu saya takut bahwa saya akan dibunuh atau dipenggal. Orang-orang membawa parang kemana-mana. Saya sangat ketakutan. Kami tak membawa apa-apa (dalam pelarian itu) dan, ketika kami kembali, kami menemukan rumah kami telah terbakar habis. "

Image caption Agueda ingin cari bibit baru yang bisa gantikan dia.

Semuanya, termasuk sepatu lari milik Agueda telah dibakar.

Pasukan perdamaian PBB yang dipimpin oleh Australia akhirnya memulihkan situasi dan panitia Olimpiade Sydney datang mencarinya.

"Mereka menbcari-cari saya, menanyakan tentang seorang pelari maraton yang sudah mereka dengar," katanya.

"Saya ditanya apakah saya bisa tampil bertanding mewakili Timor Timur. Saya sangat senang bahwa saya bisa ambil bagian dalam Olimpiade 2000."

Pada saat itu dia berlari bertelanjang kaki dan hanya diberi sepatu ketika dia sampai di Australia.

Berlari bagai burung terbang

Image caption Putaran terakhirnya dalam nomor maraton adalah salah satu momen yang paling mengesankan di Olimpiade Sydney

Saat itu baru kedua kalinya ia lari maraton secara penuh, dan setelah 42 kilometer berlari di jalanan Sydney, ia masuk stadion Olimpiade dan jatuh berlutut dan bersyukur bahwa ia telah mencapai garis akhir.

"Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa saya telah berhasil menyelsaikan lari itu. Saya berlutut dan berdoa. Namun seorang petugas mengatakan, "Tidak, bangun;. Anda harus berlari satu lap lagi." Jadi saya bangun dan melanjutkan lari. Semua orang di stadion itu berteriak ... 'Go East Timor, Go Timor Timur. Saya berlari seakan saya adalah seekor burung yang terbang. "

"Rasanya seakan saya ini berada di tempat pertama ... padahal aku tidak. Saya justru berada paling belakang," ia tertawa.

Pertumbuhan terhambat

Image caption Agueda mengatakan tubuhnya sangat kecil karena dia tidak mendapatkan cukup makanan ketika saya masih muda.

Agueda memanggil murid-muridnya bersama-sama untuk memberitahu mereka bahwa sudah cukup untuk hari ini. Dia kemudian memberi mereka semua sarapan sederhana dengan roti.

"Penyebab tubuh saya sangat kecil," dia memberitahu saya saat makan, "adalah karena saya tidak mendapatkan cukup makanan ketika saya masih muda."

Angka kurang gizi di Timor masih tergolong salah satu yang terburuk di dunia. Para pekerja kesehatan memperkirakan 10% dari anak-anak balita di Timor Timur kekurangan gizi buruk dan 50% bisa terhambat pertumbuhannya.

"Suami saya dan saya melihat banyak siswa di seluruh negeri yang memiliki potensi yang kami bisa ambil dan latih. Tetapi kami harus membanting tulang untuk sekedar membeli bahan makanan dan minuman untuk mereka. Kami tidak tahu bagaimana caranya untuk mendapatkan bantuan dana."

"Kami tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah," katanya.

Dia bertanya apakah saya bisa mengirim beberapa sepatu maraton baru. Yang dimilikinya saat ini sudah lusuh dan tercabik-cabik.