Apakah kekerasan fisik dibolehkan atas nama pendidikan?

Hak atas foto AFP

Apakah memukul atau menampar siswa di sekolah diperbolehkan atas nama pendidikan? Apa batasannya?

Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu diskusi di media sosial setelah kasus ayah pukul guru di Makassar mendapat perhatian di media sosial. Kasus penganiayaan guru tentu salah di mata hukum, tetapi apakah guru memukul siswa dibenarkan?

Guru SMAN 2 Makassar bernama Dasrul dilaporkan mengalami pemukulan oleh Adnan Ahmad, orang tua siswa yang tidak terima dengan cara Dasrul mendisplinkan anaknya di sekolah.

Dalam Facebook BBC Indonesia, pengguna dengan akun Jefri mengaku heran mengapa ada orang-orang yang mengagungkan kekerasan sebagai pendisiplinan karena menurutnya kekerasan tidak mendidik, malah hanya menciptakan ingatan buruk.

"Saya tanya apa yang kalian dapat dari kekerasan itu? Kalian ingat tidak kalian dipukul karena apa? Tidak kan? Karena yang kalian ingat itu seberapa keras pukulannya dan sesakit apa rasanya," tulisnya.

Tapi ada pula yang berpendapat sebaliknya. Misalnya Ardhi Hakim Sidik: "Saya dipukul perutnya sampai muntah sama senior dan guru [...] Saya tidak pernah mengadi ke orang tua karena semua itu bagian dari pendidikan!"

Ditoleransi?

Hak atas foto Reuters
Image caption Pendidikan keras, kata Mujahir, bisa membentuk siswa yang 'tahan banting'.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy, dikutip berbagai laporan menyatakan bahwa 'sanksi fisik dapat ditoleransi' dalam batas tertentu. Pendidikan keras, kata Muhajir, bisa membentuk siswa yang 'tahan banting'. Tidak dijelaskan secara pasti apa batas 'sanksi fisik' tersebut namun pernyataan ini telah menuai berbagai kritik.

"Sanksi fisik OK?... jangan-jangan Pak Profesor ini mengira kita hidup di abad 19," kata penulis Rene Suhardono dalam Twitternya. Dosen Filsafat Universitas Indonesia, Tommy F. Awuy mengatakan, "saat dunia lagi dilanda teror kekerasan fisik, Mendikbud yang baru menyatakan sanksi fisik di sekolah dalam batas tertentu bisa ditoleransi... ck ck ck."

Untuk mencari tahu lebih jauh apa batasnya, BBC Indonesia bertanya pada pakar pendidikan Arief Rachman. Dia mengatakan kekerasan di sekolah dalam konteks apapun tidak diperbolehkan. "Yang jelas menampar tidak boleh dong. Menjewer kalau kultur jaman dulu masih bisa diterima sekarang ada hak asasi manusia, dianggap tidak (boleh)."

"Kekerasan di seluruh dunia tidak boleh. Definisi kekerasan dalam pendidikan adalah hukuman (yang) terasa keras bagi anak sehingga anak merasakan sakit. Hukuman dalam pendidikan kan harusnya memberikan kesadaran untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi."

Hak atas foto Getty
Image caption Menurut Anda apakah menjewer anak di sekolah diperbolehkan?

'Kedudukan guru itu mulia'

Tapi ini istilah kekerasan ini berbeda konteks dengan hukuman fisik. Hukuman fisik (bisa berarti push-up, lari keliling lapangan, membersihkan atau menyapu perpustakaan) diperbolehkan dalam konteks pendidikan dan sebaiknya disepakati bersama oleh guru dan murid serta diinformasikan juga pada orang tua, kata Arief.

Dia mengatakan marah sekali dengan kejadian yang terjadi di Makassar. "Kalau guru dianiaya orang tua, berarti orang tua tidak menghormati guru itu, anaknya juga tidak akan hormat dengan guru. Tapi (di sisi lain) guru-guru juga harus dilatih bagaimana caranya menghukum."

"Guru yang profesional tidak boleh terbakar oleh emosi yang dirangsang dari lingkungan. Maka itu guru kedudukannya mulia, karena walau dimaki dihina dia bisa menahan diri. Dua-duanya mungkin ada kelirunya. Tapi saya lihat gurunya sampai (berdarah-darah) seperti itu, saya marah betul. Keterlaluan."