Pemilihan gubernur Jakarta 'paling panas' dan 'terheboh' karena sosok Ahok

Ahok Hak atas foto Getty
Image caption Ahok dalam pelantikan sebagai gubernur pada 19 November 2014.

Pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 dengan calon termasuk Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok merupakan yang 'terheboh' dan 'terpanas' dalam sejarah, menurut pemerhati psikologi politik.

Dalam tiga hari kedepan, 21-23 September, Komisi Pemilihan Umum (KPU) membuka pendaftaran pasangan calon gubernur melalui jalur politik dan belum ada pasangan tetap yang menyatakan akan mendaftar.

Ahok sejauh ini didukung oleh Partai Nasdem, Golkar dan Hanura sementara Sandiaga Uno diusung oleh Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera, PKS.

Sementara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) akan mengumumkan siapa yang diusung Selasa (20/09) malam.

Hamdi Muluk, pengamat psikologi politik dari Universitas Indonesia menyebut pemilihan calon gubernur DKI Jakarta sebagai 'yang paling heboh' dan 'yang paling panas' dan dipicu oleh sosok Ahok 'yang unik'.

"Belum pemilihan saja sudah panas sekali dan ini karena dipicu oleh sosok Ahok yang unik. Untuk pertama kalinya dalam peta politik ada calon dari minoritas, agama dan ras, di tempat yang sentral (Jakarta)," kata Hamdi kepada BBC Indonesia.

#SelamatDatangRisma

Menjelang pengumuman PDI-P atas siapa yang akan diusung untuk calon gubernur Jakarta, tagar #SelamatDatangRisma populer dan dikicaukan hampir 4.000 kali sampai Selasa sore.

Tagar ini diangkat oleh mereka yang menyebut diri relawan-relawan yang ingin mengangkat wali kota Surabaya, Tri Rismaharini, yang diusung untuk maju dalam pencalonan orang nomor satu di ibu kota Jakarta.

"Bu Risma layak pimpin Jakarta," begitu antara lain cuitan akun Twitter relawan ini.

Hari Mingu lalu (18/09) sejumlah ulama dan tokoh politik, termasuk Amien Rais, Hidayat Nur Wahid, dan pemimpin Front Pembela Islam, Rizieq Shihab, menyelenggarakan deklarasi politik yang disebut ‘Risalah Istiqlal’.

Hak atas foto Getty
Image caption Sejumlah pihak mengkritik Ahok karena perkataannya yang dianggap kasar.

Dalam risalah itu antara lain diserukan agar "Seluruh umat Islam merapatkan barisan untuk memenangkan pemimpin Muslim yang lebih baik."

Dukungan dari agama juga muncul dari mahasiswa Universitas Indonesia yang membuat video dan menyerukan agar masyarakat tak memililh 'pemimpin kafir'. Mahasiswa tersebut telah meminta maaf setelah ditegur oleh pihak universitas.

Sejumlah pihak juga mengkritik Ahok karena perkataannya yang dinilai kasar.

Ujian bagi Indonesia

Hak atas foto FACEBOOK
Image caption Mahasiswa UI yang membuat video menolak pemimpin kafir.

Pengamat psikologi politik Hamdi mengatakan, "Yang kita harapkan tenang (dalam pemilihan calon gubernur Jakarta) adalah kalau misalnya urusan menantang semangatnya bukan lagi cari lawan panggung terbaik dalam urusan kinerja, yang dikedepankan adalah sentimen agama atau ras."

"Namun ada juga (penantang) yang mencari sosok dengan elektabilitas yang berkolerasi dengan kinerja tetapi Islam dan sosok yang paling dekat adalah Risma," kata Hamdi.

Hamdi menyebut pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2012, yang mengusung Joko Widodo dan Ahok sebagai ujian pertama yang berhasil.

"Pada 2012 ujian pertama lewat, Ahok sebagai wakil gubernur menang, sekarang apakah bisa melewati ujian yang lebih atas lagi, kali ini sebagai calon gubernur?" kata Hamdi.

"Kalau berhasil melewati momen Pilkada ini, rakyat memilih dengan alasan yang konstruktif berdasarkan kinerja dan sedikit pengaruh suku, agama ras, bahwa apa pun suku, agama rasnya tetap memiliki posisi yang setara, berarti demokrasi Indonesia semakin maju. Ujiannya di Pilkada DKI ini," tambahnya.

Berita terkait