Mengapa obat pencegah HIV sulit didapat di Indonesia?

Dengan mengkonsumsi obat Pre-Exposure Prophylaxis atau PrEP, orang yang berisiko tinggi terinfeksi virus HIV, dapat tercegah dari virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh itu.

Namun, obat ini ternyata sulit didapatkan di Indonesia.

Salah satu pengguna obat PrEP adalah Setia Perdana. Pemuda ini sudah satu setengah tahun mengkonsumsinya.

Image caption Setia mengaku tidak merasakan efek samping selama mengkonsumsi obat PrEP.

"Saya ingin punya kehidupan seks yang positif, artinya yang bebas dari tekanan dan kekhawatiran. Dan tak bisa dipungkiri, bagi sebagian orang kehidupan seks itu dinamis, artinya tidak monoton dengan satu orang, misalkan," ungkap Setia yang juga merupakan aktivis PrEP.

Dengan kondisi itu, Setia pun menggunakan obat PrEP sebagai bagian dari 'perlindungan multi-lapis' "agar terlepas dari rasa kekhawatiran berlebihan dari infeksi HIV".

Image caption Di Amerika Serikat, PrEP mulai diterapkan sebagai upaya pencegahan HIV sejak Juli 2012.

PrEP adalah metode yang bisa dibilang baru dalam pencegahan penularan virus HIV bagi orang yang berstatus HIV negatif.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat Pertama kali mengesahkan obat PrEP sebagai bagian dari strategi pencegahan HIV pada pertengahan Juli 2012.

Pada Juli 2014, Badan Kesehatan Dunia (WHO) "sangat merekomendasikan" metode ini. Pasalnya PrEP diklaim "efektif mencegah penularan virus HIV hingga 96% jika dikonsumsi setiap hari."

Lalu apa sebenarnya PrEP?

Rendahnya penggunaan kondom

Stanislaus Bondan Widjajanto yang merupakan dokter di bidang kesehatan reproduksi, HIV dan penyakit menular seksual dari Klinik Angsamerah di Jakarta Selatan mengungkapkan obat PrEP itu sebenarnya adalah obat antiretroviral (ARV).

Hak atas foto bbc
Image caption Dr. Bondan mengungkapkan obat PrEP efektif mencegah HIV setelah 20 hari pemakaian.

ARV sebelumnya hanya digunakan pada pasien yang sudah positif terinfeksi virus HIV, untuk menekan perkembangan virus.

"Yang diberikan untuk PrEP itu adalah (ARV merk) Truvada. Kandungannya ada dua; tenofovir dan emtricitabine," kata dokter yang akrab disapa Bondan itu.

Bondan bercerita, ketika HIV masuk ke tubuh, virus tersebut "membutuhkan enzim". Tenofovir dan emtricitabine bekerja "menghambat produksi enzim itu sehingga virus tidak dapat menjalani proses pembelahan diri."

Hak atas foto Getty
Image caption ARV Truvada digunakan sebagai obat PrEP karena mengandung tenofovir dan emtricitabine.

Meskipun begitu, metode ini hanya direkomendasikan bagi mereka yang berisiko tinggi terinfeksi HIV, misalnya pekerja seks komersial, 'pengguna jarum suntik', heteroseksual atau homoseksual yang bergonta-ganti pasangan, dan pasangan serodiscordant atau yang salah satunya positif HIV.

"Bagi pasangan serodiscordant, kalau yang HIV negatif itu si istri (suami HIV positif) dan mereka ingin punya anak, maka si istri bisa dikasih PrEP dulu, setelah itu mereka boleh berhubungan seks tanpa kontrasepsi," tutur Bondan.

Image caption Klinik Angsamerah fokus pada pelayanan kesehatan terkait kesehatan reproduksi, HIV dan infeksi menular seksual.

Lebih jauh lagi, Bondan mengungkapkan PrEP bisa menjadi jawaban atas masih rendahnya kesadaran penggunaan kondom di Indonesia.

"Tidak semua orang bisa pakai kondom. Ada beberapa orang yang mengeluhkan, kalau pakai kondom, langsung disfungsi ereksi. Kan nggak mungkin memaksa mereka pakai kondom. Harus ada jalan keluar bagi mereka."

Sulit didapat di Indonesia

Dengan segala 'keefektivannya', obat PrEP ternyata 'sulit diakses di Indonesia'. Ini karena PrEP belum masuk dalam program pencegahan HIV pemerintah.

"ARV hanya tersedia untuk mereka yang positif HIV. Artinya jika (yang negatif HIV) ingin beli PrEP di dalam negeri, prosesnya tidak mudah," tutur Setia.

Image caption Jumlah kasus infeksi HIV baru terus meningkat di Indonesia.

Setia bercerita pernah mengunjungi beberapa klinik di Jakarta dan Bali yang menyediakan ARV untuk PrEP, "tetapi mereka kesulitan menjaga supply. Padahal obat PrEP harus diminum setiap hari supaya efektif."

Setelah melakukan riset, ia pun menemukan bahwa sejumlah klinik pemerintah dan swasta di Bangkok, Thailand, telah menyediakan obat PrEP. Obat yang dijual adalah versi generik dari Truvada, yaitu Teno-Em, yang juga mengandung tenofovir dan emtricitabine.

Image caption Teno-Em dibeli Setia di Bangkok dengan harga yang disebutnya masih terjangkau.

"Harganya (Teno-Em) cukup terjangkau, hanya sekitar Rp250.000, per botol untuk satu bulan. Dari studi, efektivitasnya ternyata sama dengan versi paten (Truvada)."

Alhasil, setiap tiga bulan sekali Setia harus terbang ke Bangkok untuk membeli obat PrEP, "karena maksimal saya bisa dapat untuk tiga bulan sekaligus."

Image caption Tes HIV rutin tetap perlu dilakukan meskipun telah mengkonsumsi PrEP.

Meskipun begitu dia tetap mengharapkan PrEP bisa diterapkan di Indonesia, "setidaknya harus bisa melakukan proses monitoring, karena pengguna PrEP secara informal di dalam negeri terus meningkat."

Setia menyebut dirinya ikut membantu sebanyak 24 orang lainnya untuk berkonsultasi dan mendapatkan akses PrEP di Bangkok.

"Mereka harus di-tes rutin untuk mengecek kesehatan dan status HIV-nya. Kita juga harus pastikan mereka selalu dapat obatnya, karena ada kemungkinan resistensi terhadap obat jika tidak disiplin dan monitoring tidak dilakukan," pungkas Setia.

'Kesulitan Dana'

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jumlah kasus baru HIV cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Jika tahun 2015 ada 30.935 kasus baru, Kemenkes memprediksi akan ada 34.000 kasus infeksi HIV baru hingga akhir 2016.

"Perlu ada inovasi cara pencegahan," kata Setia.

Meskipun sudah direkomendasikan oleh WHO, Indonesia belum menerapkan PrEP dalam skema pencegahan HIV nasional, "karena belum ada uji coba".

"Saya tidak bisa mengatakan PrEP itu baik atau tidak, karena uji cobanya belum... (tapi) PrEP sudah masuk dalam rencana kita, (meskipun) masih dalam tahap-tahap persiapan untuk uji coba," ungkap Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, Wiendra Waworuntu.

Image caption Wiendra Waworuntu: PrEP belum diterapkan karena belum diuji coba di Indonesia.

Menurutnya, banyak yang harus dipertimbangkan sebelum menerapkan PrEP. Misalnya terkait persiapan fasilitas kesehatan, persiapan logistik dan ketersediaan ARV.

Wiendra menyebut, persiapan uji coba akan dilakukan di Jakarta dan Denpasar. Namun, ketika ditanya kapan uji coba tersebut dilakukan, ia tidak memberi jawaban pasti, "Saya tidak bisa mengatakan ada target tahun kapan (mulai) PrEP."

Hak atas foto Getty
Image caption Penerapan PrEP juga terkendala masalah dana.

Tidak hanya itu, ada masalah lain yang disebut Kemenkes masih mengganjal penerapan PrEP di Indonesia.

"Duitnya saya rasa berat," aku Wiendra.

Saat ini pemerintah dibantu dana dari Global Fund, telah mengucurkan "Rp800 miliar per tahun untuk menyediakan ARV bagi yang HIV positif. Itu sudah pas." Alhasil, orang dengan HIV positif dapat mengakses ARV dengan 'gratis'.

Wiendra bercerita "kalau ada PrEP, dananya akan jauh lebih besar. Paling tidak dua kali lipat, Rp1,6 triliun."

Ia mendorong orang yang berisiko untuk rajin mengecek kondisi kesehatan dan terus menggunakan kondom, karena PrEP hanya untuk mencegah HIV, tetapi tidak penyakit menular seksual lainnya.

Image caption Setia dan obat PrEP-nya.

Dari penjelasan pemerintah tersebut, tampak mimpi Setia agar metode PrEP diterapkan di Indonesia, masih jauh dari kenyataan.

"Mungkin kita bisa belajar dari sejumlah negara yang sudah menerapkan PrEP. Contohnya, di Amerika Serikat, di San Francisco. Setelah diterapkan pada kelompok berisiko, infeksi HIV baru menurun hingga sepertiganya. Efeknya sangat cepat," pungkas Setia.

Berita terkait