Larangan kantung plastik di Jakarta, pedagang belum siap
Media playback tidak ada di perangkat Anda

"Ini semuanya harus pakai plastik!": Ketika pedagang tradisional tak bisa lepas dari kresek

Pemda DKI Jakarta tengah menyusun aturan yang melarang penggunaan plastik sekali pakai, namun mengubah kebiasaan masyarakat adalah hal yang sulit, terutama di pasar tradisional.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, Isnawa Adji, mengatakan masih banyak masyarakat yang bingung untuk mencari alternatif plastik saat membeli gula, daging, atau ikan, ketika belanja di pasar.

Tapi sebetulnya, lanjut Isnawa, masyarakat bisa mengganti plastik dengan wadah makanan yang bisa dipakai berulang kali. Mereka juga bisa membawa tas belanja sendiri.

"Jangan kita mempersulit, harus seolah-olah kantong ramah lingkungan harus disiapkan Pemprov DKI Jakarta. Sebetulnya kan nggak juga kan. Dulu waktu saya kecil, orang tua kita udah biasa bawa tas-tas belanja dari tikar, dari kain-kain. Dulu bisa. Kenapa sejak ada plastik kita jadi berubah semua?" katanya.

Ia menambahkan masyarakat dapat beralih ke plastik ramah lingkungan berbahan serat tapioka walau harganya sedikit lebih mahal.

"Ok, kalau Anda pakai plastik kresek yang tidak ramah lingkungan, murah sih, tapi akhirnya lingkungan yang jadi mahal pembenahannya. Jadi rusak. Biaya membenahi lingkungan lebih mahal," kata Isnawa.

Sementara itu, GIDKP mengatakan bahwa sebetulnya masyarakat mau mengurangi plastik. Hampir 85% warga setuju dengan wacana pelarangan ini.

Lantas bagaimana para pedagang pasar di Jakarta menanggapinya? Callista Wijaya dan Anindita Pradana menemui mereka.

Topik terkait