"Ojo ndelok duitku": Desa anti politik uang di Sleman
Media playback tidak ada di perangkat Anda

Desa anti politik uang di Sleman: 'Neraka lah hukumannya'

Desa Sardonoharjo, di Sleman, Yogyakarta, memiliki peraturan khusus yang menolak politik uang.

Desa dengan 25.000 penduduk itu dipenuhi spanduk dan stiker anti politik uang menjelang pemilu. Warga juga menyebarkan gerakan ini lewat berbagai poster antara lain bertuliskan, "Tolak politik uang" dan "Ojo ndelok duitku" atau jangan lihat uangku.

Wasingatu Zakiyah, yang biasa disapa Zaki, warga Desa Sardonoharjo memulai gerakan itu dengan memberikan pemahaman kepada warga untuk menolak politik uang, praktik yang disebut warga desa sudah terjadi sejak 2004.

Zaki mengatakan politik uang sudah mengakar dan pendekatan peraturan sulit dilakukan sehingga ia menemui warga dengan pendekatan agama.

"Kalau Anda jadi pelaku atau penerima dari politik yang atau perantara politik uang, maka nerakalah hukumannya," cerita Zaki dan yang menurutnya menjadi "senjata ampuh" menghadapi politik uang.

Menghadapi pemilu serentak pada 17 April, desa ini bahkan sudah menerbitkan Peraturan Kepala Desa Sardonoharjo Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Desa Anti Politik Uang yang diterbitkan Kepala Desa Sardonoharjo, Harjuno Wiwoho.

Di sisi lain, gerakan ini sempat ditentang sejumlah warga, kata Zaki, karena uang yang ditawarkan merupakan tambahan biaya yang biasa diterima warga setiap pemilu berlangsung.

Adapun, rantai politik mata uang ini sulit diputus dan warga yang menerima biasanya mengatakan, "Kondisi dusun yang tidak bisa membeli tenda atau kursi, sayang kalau ditolak."