'Fenomena gunung es' pernikahan anak di pengungsian pasca tsunami Palu
Media playback tidak ada di perangkat Anda

Kasus pernikahan anak di kamp pengungsian pascatsunami Palu: 'Saya masih ingin sekolah'

Pascagempa, tsunami, dan lifuifaksi yang melanda Palu, kasus pernikahan anak di kamp pengungsian mengemuka.

Dalam beberapa bulan terakhir, tercatat setidaknya 12 kasus pernikahan anak di kamp pengungsian korban gempa dan tsunami yang tersebar di Palu, Sigi, dan Donggala di Sulawesi Tengah.

Kasus pernikahan anak korban gempa ini disebut sebagai "fenomena gunung es", mengingat terdapat 400 titik pengungsian yang tersebar di lokasi bencana dan belum semuanya 'terjamah' oleh pegiat hak perempuan dan perlindungan anak.

Simak juga:

Salah satu korban pernikahan anak di kamp pengungsian Palu adalah Dini (bukan nama sebenarnya). Usianya baru 17 tahun saat dia dinikahkan karena hamil.

"Sebenarnya tidak mau kawin cepat, cuma karena faktor begini (hamil) kan, jadi kawin. Sebenarnya masih mau lanjut, kalau tidak begini kan pasti masih mau lanjut kuliah," ujar Dini.

Adapun, selain faktor hamil di luar nikah, motif ekonomi mendominasi latar belakang pernikahan anak. Karena desakan ekonomi, menikahkan anak dipandang jadi solusi demi mengurangi beban keluarga.

"Apalagi situasi begini, beban tekanan ekonomi, tekanan sosial juga. Begitu ada tanggung jawab yang terpindah, itu mereka merasa bebannya hilang sedikit," terang Soraya Sultan, ketua Kelompok Perjuangan Kesetaraan Perempuan Sulawesi Tengah (KPKP-ST).

Di sisi lain, fenomena pernikahan anak di kamp pengungsian ini membuat anak-anak dan perempuan penyintas bencana kian rentan.

"Dari sisi sosial, dari sisi ekonomi, perlindungan hukum, semua serba rentan," ujar Soraya.

Video produksi: Ayomi Amindoni dan Dwiki Marta.

Catatan: "Logo lembaga/institusi dalam video ini, khususnya di detik ke 00.47-00.52, tidak terkait dengan konten video."